Man Plans and God Laughs

Standard

Punya anak dan punya status ayah mudah, tetapi menjadi ayah sungguh tidak mudah -Wilhelm Busch

Sebagai orangtua tunggal yang punya hak penuh mengasuh, hidupku sibuk–kadang sampai kewalahan. Aku mengajar di universitas, pulang rumah, memasak, membersihkan rumah, mencuci, membacakan cerita dan bermain dengan kedua anakku. Sebagai laki-laki, aku harus belajar mengerjakan semua hal yang biasa dikerjakan kaum wanita. Lebih dari itu, karierku sebagai pelatih dan penceramah menanjak secepat roket. Menyeimbangkan semua tanggung jawab itu membuatku stres, tapi aku sudah membuat komitmen pada diriku untuk menjadi guru terbaik, penceramah terbaik, dan yang paling penting, ayah terbaik.

Waktu itu pagi hari di musim dingin khas Cleveland, aku harus menyiapkan anak-anak sebelum mereka dititipkan ke nursery school–tempat penitipan anak. Aku harus memastikan pengasuh mereka datang hari itu, dan harus berkemas agar tidak ketinggalan pesawat. Anak-anak pun mulai rewel untuk menarik perhatianku dan membuatku tak bisa membereskan apa-apa. Akhirnya kesabaranku habis. Aku kehilangan kendali dan membentak mereka dengan wajahku yang merah padam.

Pengasuh anak-anakku membuang muka, merasa tidak enak. Anak-anak menangis. Aku mencoba mencium wajah mereka yang basah air mata, mengucapkan selamat tinggal. Anak perempuanku mendorongku menjauh, anak laki-lakiku berdiri tegak, kaku dan marah sekali. Merasa frustasi aku mengangkat bahu tak peduli dan segera mengebut ke bandara. Aku mencoba menganalisa sikapku dan membenarkannya, “Aku kerja keras sekali untuk anak-anak itu! Apakah mereka menghargaiku? Tidak!” Hatiku pun sesak.

Aku memarkir mobil, menyeret koperku ke kantor check-in, bergegas ke gate lalu naik pesawat yang terlihat sudah tua. Kami lepas landas menembus badai es yang mengamuk, meninggalkan Cleveland. Ketika pramugari berjalan sambil menating nampan penuh minuman ringan, tiba-tiba terdengar bunyi keras: BUUMM! Udara dalam kabin seperti tersedot sepanjang lorong di antara deretan kursi seperti pusaran angin puyuh. Masker oksigen pun terlontar dari tempat penyimpanannya. Sebuah pintu tiba-tiba copot dan kami saat itu berada kira-kira sebelas ribu kaki di atas Danau Erie yang beku. Pesawat miring dan menukik dengan tajam ke permukaan danau itu.

Aku melihat pramugari mencoba membuka pintu kokpit, tetapi pintu itu melengkung karena tekanan udara yang tersedot keluar sangat kuat. Ketika itu hanya ada dua pikiran di kepalaku. Pertama, karena aku belum menyiapkan surat wasiat, menurut hukum Negara Bagian Ohio anak-anakku akan kehilangan setengah hak warisan mereka. Kedua, kenangan terakhir mereka akan ayahnya adalah seorang lelaki berwajah merah padam berteriak-teriak memarahi mereka. Aku sangat menyesal. Bagaimana mungkin aku meninggalkan mereka seperti tadi?

Lalu aku mulai berdoa. “Ya, Tuhan. Jika Engkau selamatkan kami semua, aku berjanji tidak akan meninggalkan rumah sambil marah-marah, akan membuat anak-anakku selalu ingat bahwa aku sangat mencintai mereka dan mereka sangat berharga bagiku.” Tepat setelah selesai berdoa, aku merasa bahwa pesawat mulai terbang mendatar lagi. Aku yakin doaku dikabulkan. Pesawat pun berputar dan terbang kembali ke Cleveland. Lalu kami naik pesawat lain yang sejenis, dan akhirnya mendarat di Detroit.

Ketika kembali ke Cleveland, hal pertama yang kulakukan adalah meminta maaf pada anak-anakku dan memeluk mereka erat-erat. Kemudian aku pergi ke notaris dan membuat surat wasiat. Sejak saat itu aku selalu mengungkapkan cinta pada anak-anakku. Sebelum melakukan perjalanan jauh dan lama, aku selalu mengucapkan kata perpisahan yang kira-kira begini bunyinya, “Ayah ingin kalian tahu bahwa Ayah akan selalu mencintai kalian. Ayah selalu bangga dan bahagia menjadi Ayah kalian. Kadang Ayah marah karena perbuatan kalian, tetapi tak ada yang bisa membuat Ayah berhenti mencintai kalian!”

Mendengar itu, biasanya mereka memutar-mutar bola mata mereka dan mendesah seakan berkata, “Oh, haruskah kami mendengar pidato itu lagi?” Kadang-kadang mereka menirukan aku dengan suara melengking, “Ya, ya, kalian tahu bahwa Ayah akan selalu mencintai kalian.” Aku yakin, mereka suka mendengar kata-kataku. Suatu hari aku lupa mengucapkan pidatoku pada mereka. Mereka menghubungi telepon mobilku dan berkata, “Ayah, katakan Ayah mencintai kami!”

Pengalaman di pesawat itu mengajariku untuk menghargai hidupku dan orang-orang lain di sekitarku. Sekarang aku mengerti betapa berharga dan rapuhnya hidup ini dan bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Mendiang ibuku selalu berkata, “Man proposes and God disposes–Manusia berencana dan Tuhan menentukan.” Tetapi sebenarnya ibuku lebih suka pepatah Yahudi yang lebih mengena. “Man plans and God laughs–Pria membuat rencana dan Tuhan tertawa.”

–Hanoch McCarty

“Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung,” sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”” (Yakobus 4:13-15).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s