Misi Antonia

Standard

Kerusuhan bergejolak di penjara La Mesa di Tijuana, Meksiko. Dua ribu lima ratus narapidana yang ditempatkan berdesakan dalam sebuah kompleks yang hanya dapat menampung enam ratus orang, de­ngan penuh emosi melemparkan pecahan botol kepada polisi, yang membalas dengan menembakkan senapan mesin. Di saat kerusuhan memuncak, muncul sosok seorang wanita mungil setinggi 1,56 meter berusia 63 tahun dengan berpakaian rapi seperti kebiasaan para biarawati.

Dengan tenang ia berjalan ke tengah arena kerusuhan, sambil kedua tangannya dibentangkan membentuk tanda perdamaian. Dengan mengabaikan hujan peluru dan botol yang berterbangan, wanita itu berdiri dengan tenang dan menyuruh semua orang berhenti. “Tidak ada orang lain di dunia ini kecuali Suster Antonia yang mampu melakukannya,” ujar Robert Cass, mantan napi, yang saat ini sudah direhabilitasi. “Dia telah mengubah kehidupan ribuan orang.”

Selama seperempat abad terakhir, atas keinginannya sendiri, dia memilih untuk tinggal dalam sebuah sel beton berukuran tiga meter di La Mesa, tanpa air hangat, dikelilingi oleh para pembunuh, pencuri, dan gembong narkoba. Dan, dengan penuh kasih bagi sesamanya mencarikan antibiotik, membagikan kacamata, menasihati napi yang ingin bunuh diri, memandikan mayat untuk dimakamkan. “Aku tinggal di tempat ini,” dia menjelaskan tanpa menunjukkan sedikit pun keluhan, “Untuk berjaga-jaga seandainya ada yang ditikam di tengah malam.”

Tempat itu sangat berbeda dengan lingkungan mewah Beverly Hills tempat Suster Antonia—saat itu bernama Mary Clarke—dibesarkan. Ayahnya, yang berasal dari keluarga sederhana, memiliki perusahaan alat-alat keperluan kantor yang maju pesat. Clarke tumbuh dewasa pada masa kejayaan Hollywood. Sebagai gadis remaja cantik yang penuh semangat, dia sering menghabiskan malam akhir pekannya untuk berdansa dengan para prajurit muda di kantin dan bermimpi tentang masa depannya.

Semuanya terwujud. Setelah lulus SMA, Clarke menikah dan membesarkan tujuh anak di sebuah rumah di Granada Hills yang berudara segar. Dua puluh lima tahun kemudian, pernikahannya berakhir dengan perceraian, masalah yang masih menyisakan rasa sakit bagi dirinya dan hal yang dihindarinya untuk dibahas. “Hanya karena sebuah mimpi telah berakhir, bukan berarti mimpi itu tidak pernah terwujud,” katanya. “Yang penting sekarang adalah kehidupanku yang kedua.”

Pada tahun 1977, karena merasa yakin telah menemukan panggilan hidupnya yang ditentukan oleh Tuhan, Mary Clarke menjadi Suster Antonia. Penjara La Mesa menjadi tempat tinggalnya yang permanen, tempat yang dipilihnya bahkan di saat malam Natal. “Anak-anak kandungnya memahami prioritas hidupnya,” kata temannya, Noreen Walsh-Begun. “Mereka sadar bahwa ibunya dulu telah mengurus mere­ka, dan sekarang tiba gilirannya untuk mengurus orang lain.”

Suster Antonia berkata bahwa cintalah yang ditawarkannya kepada setiap orang. “Aku membenci tindak kejahatan, tapi tidak membenci pelakunya,” katanya. “Pagi ini aku bicara dengan seorang pemuda berusia sembilan belas tahun yang mencuri mobil. Kutanya apakah dia sadar apa arti sebuah mobil bagi sebuah keluarga, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membelinya. Aku berkata, ‘Aku sayang kamu, tapi aku tidak bersimpati padamu. Kamu punya pacar? Mungkin saja ada orang yang mencurinya ketika kamu berada di sini.’ Lalu, kupeluk dia.”

Sebagai seorang pembicara yang karismatis, Antonia berhasil menarik hati banyak orang untuk menyumbangkan berbagai barang, mulai dari tempat tidur, obat-obatan, sampai uang. Seorang dokter gigi setempat menyediakan ribuan gigi palsu murah bagi para napi yang belum pernah sekali pun melihat sikat gigi. “Kalian harus bisa tersenyum agar bisa mendapatkan pekerjaan,” gurau Suster Antonia. Dia berkata bahwa dirinya adalah orang yang paling beruntung di muka bumi.

Pesan dari Suster Antonia adalah bahwa kita tidak perlu meninggalkan kampung halaman atau gaya hidup kita untuk berkontribusi. Justru sebaliknya, setiap orang—berapa pun usia dan statusnya—akan sering berhadapan dengan sejumlah titik ketika dia harus memilih apakah akan melangkah maju dan melakukan sesuatu yang berguna atau hanya duduk saja dan berpangku tangan. Suster Antonia memilih untuk melibatkan dirinya dalam kehidupan yang bermakna, ikut ambil bagian “untuk membuat keadaan menjadi lebih baik.”

–Gail Cameron Wescott

[ Pernah dimuat dalam Buletin Phos edisi November 2011 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s