Monthly Archives: December 2011

Perubahan Hati

Standard

Pada tahun 1992, seperti kebanyakan orang di Los Angeles, aku menonton laporan berita TV yang menampilkan Rodney King berbicara kepada wartawan setelah dibebaskannya empat orang polisi yang dituduh memukulinya pada tahun 1991, yang kemudian menimbulkan kerusuhan di kota tersebut. Saat King berbicara kepada wartawan, dia bertanya dengan wajah murung, “Bisakah kita semua hidup dengan akur?”

“Tidak! Tidak bisa!” teriakku ke TV, meskipun tak ada seorang pun yang mendengar suaraku di ruangan itu. Reaksiku bukan satu-satunya reaksi tak beralasan yang dikeluarkan tanpa mengetahui situasinya. Aku tahu benar mengapa reaksiku seperti itu. Pada akhir tahun 1989, aku membeli rumah yang harganya terjangkau di permukiman sebelah timur Los Angeles bernama Highland Park. Daerah itu telah berubah akibat mengalirnya arus imigran baru, dan waktu itu aku yakin sekali bahwa keharmonisan ras adalah sesuatu yang mustahil. Statistik menunjukkan bahwa setiap tahun puluhan ribu imigran baru, kebanyakan dari Amerika Latin dan Asia, tumpah ruah memasuki California Selatan, namun untuk kebanyakan kaum kulit putih, kecenderungan ini masih dianggap data statistik yang abstrak, bukan realitas.

Tetapi, ketika aku pindah ke Highland Park, statistik itu menjadi realitas yang kuhadapi sehari-hari dan memunculkan prasangka buruk. Banyak tetanggaku yang berasal dari Meksiko, El Salvador, Filipina, dan Vietnam, dan untuk pertama kalinya aku menjadi minoritas dan hal itu tak kusukai.

Karena yakin bahwa tidak ada persamaan di antara kami, aku mengurung diri di dalam rumah cantikku yang berwarna merah muda bergaya Spanyol di bukit. Aku jarang mengobrol dengan para tetanggaku, melambaikan tangan sesekali saja di kala kami memasukkan kantong sampah ke tong sampah di depan rumah masing-masing atau ketika berpapasan saat mengendarai mobil masing-masing. Aku cocok dengan stereotip mereka–“gringa” putih yang tidak ramah yang memiliki rumah terbagus di blok kami–sama seperti pandangan yang sudah tertanam dalam pikiranku tentang imigran yang dengan keras kepala menolak untuk berasimilasi.

Aku kesal ketika wiraniaga Hispanik di toko Radio Shack tidak mengerti ketika aku hendak membeli baterai litium atau kabel panjang. Aku kesal karena pasar swalayan setempat tidak menjual keju biru atau susu kedelai, dan bahwa beberapa papan iklan untuk bioskop dan mobil ditulis dalam bahasa Spanyol. Selama bertahun-tahun aku mengajukan keluhan ke berbagai pihak berwajib ketika para tetanggaku berperilaku yang tak kusukai. Seorang wanita dari El Salvador memelihara ayam jantan di pekarangan belakang rumahnya yang membuatku terbangun pada jam lima setiap pagi. Ketika aku melaporkannya ke Bagian Pengaturan Hewan, dia menanggapi keluhanku dengan membacok kepala unggas itu secara kejam, tetapi menghibur diri dengan mengatakan bahwa hal itu perlu untuk mengembalikan kedamaian dan ketenangan di permukiman kami.

Ketika tetanggaku yang berasal dari Meksiko bermain musik dengan suara terlalu keras, kutelepon polisi, yang langsung menyuruhnya berhenti bermain. Karena menduga akulah yang melaporkannya, para tetanggaku tidak mau lagi mengajakku bicara. Hukuman itu masih bisa kuterima karena aku menganggap telah mengajak para tetanggaku untuk menjunjung tinggi nilai-nilai yang kuanut.

Kemudian, dua tahun yang lalu terjadi sesuatu yang mengubah diriku dan cara hidupku di permukimanku. Dalam waktu dua hari saja, aku kehilangan beberapa hal yang sangat berarti bagiku. Pekerjaanku dengan gaji ratusan ribu dolar sebagai penulis senior di sebuah majalah bertaraf nasional berakhir, dan begitu juga hubungan cintaku dengan lelaki yang kucintai. Tiba-tiba saja semua jangkarku hilang dan, dalam kesedihan yang amat dalam, aku tidak tahu bagaimana–atau apakah akan pernah–diriku bisa pulih kembali.

Kehilangan yang kualami membuatku menjadi rendah hati dan rentan, tapi akibatnya aku menjadi lebih sering berhubungan dengan para tetanggaku dan dunia sekitarku. Baru kusadari betapa luar biasanya mereka itu. Mereka benar-benar tidak sama dengan pandanganku tentang mereka selama ini yang ternyata keliru. Mereka adalah orang-orang yang rajin bekerja dan, seperti diriku, mencari kehidupan yang baik, serta mengalami sedikit kesenangan.

Aku baru tahu bahwa wanita asal El Salvador itu melarikan diri dari negaranya bersama dua orang putrinya setelah pasukan maut membunuh suaminya. Dia mencari nafkah dengan membersihkan rumah orang untuk bisa hidup pas-pasan dan menyekolahkan anak-anaknya. Aku baru tahu bahwa para tetanggaku, yang berasal dari Meksiko dan datang ke Los Angeles lima belas tahun yang lalu, tidak bisa berbahasa Inggris, dan ayah mereka bekerja membersihkan perkantoran dengan upah hanya delapan dolar per jam. Kemudian, dia bekerja sebagai sopir truk. Sekarang dia sudah memiliki tiga bangunan apartemen dan hartanya melebihi jumlah kekayaan yang mungkin akan kuperoleh seumur hidupku.

Sekarang, banyak tetanggaku yang menjadi temanku. Pada Hari Natal, aku memberi mereka minuman anggur merah dan kue, dan mereka memberiku bunga dalam pot dan burito. Ketika mobilku tak bisa dihidupkan beberapa bulan yang lalu, dan sepertinya terpaksa harus diderek, seorang tetangga asal Guatemala, seorang lelaki baik hati bernama Angel yang bekerja sebagai tukang kebun, cepat-cepat membawa kabel penghidup aki dan menolongku sampai mesin mobilku bisa dihidupkan lagi.

Sekarang aku akan menjawab pertanyaan Rodney King dengan jawaban yang berbeda. Akan kukatakan bahwa sangat mungkin bagi kita untuk hidup dengan akur jika orang dengan budaya yang berbeda-beda tidak berbuat kesalahan seperti yang pernah kulakukan. Saat pertama kali aku pindah ke permukiman ini, aku tidak memandang para tetanggaku sebagai manusia, melainkan sebagai orang yang berbeda dan bukan bagian dari kehidupanku. Sekarang aku baru menyadari bahwa kehidupan mereka dan kehidupanku mencakup pengalaman yang bersifat universal bagi kita semua: kehilangan, kekecewaan, harapan, dan cinta.

Bulan yang lalu, kudengar ayam jantan berkokok di pagi hari. Tampaknya tetanggaku yang asal El Salvador memelihara seekor lagi, tapi aku tidak lagi sewot. Aku senang mengamati si ayam jantan berkeliaran di permukiman kami. Entah mengapa, ayam itu membuatku merasa betah.

Salah satu pengalamanku yang paling mendebarkan hati dan menimbulkan inspirasi di saat aku bepergian ke segala penjuru dunia adalah budaya yang bukan saja menghormati perbedaan, tapi juga menghayatinya, sementara setiap tradisi agama diamati oleh hampir semua orang. Menghayati, bukan sekadar bertoleransi–frase masa kini yang berlaku di dunia yang sangat beragam. Mau menerima pandangan orang lain, mau menerima budaya orang lain, mau menerima sistem kepercayaan orang lain, dan mau menerima gaya orang lain. Kita mendengar frase itu setiap hari. Tetapi, hal yang dilakukan Mary bukan sekadar bertoleransi, bukan sekadar menunjukkan rasa hormat, dan sama sekali bukan sekadar menghargai perbedaan. Yang dilakukan Mary adalah menghayati perbedaan di daerah permukimannya.

Toleransi adalah prinsip pertama dari sebuah komunitas; toleransi adalah semangat yang melestarikan hal-hal terbaik yang ada dalam pikiran semua orang. Tidak ada kehilangan akibat banjir dan petir, tidak ada kehancuran kota dan kuil akibat kekuatan alam yang ganas, yang membuat umat manusia kehilangan jiwa dan impuls yang mulia jika dibandingkan dengan yang dihancurkan oleh sikap tidak toleran -Helen Keller (The Open Road)

Ditulis dari “Everyday Greatness 63 Kisah+500 Kata-kata Bijak Terbaik Untuk Menemukan Makna Hidup”
Ditulis oleh Mary A. Fischer
Halaman 317-320, 327

Advertisements

Jaga Malam

Standard

Yang kaya bukan mereka yang memiliki banyak, melainkan mereka yang memberi banyak -Erich Fromm

“Putra Anda ada di sini,” kata perawat kepada orang tua itu. Ia harus mengulang kata-kata itu beberapa kali sebelum mata orang itu membuka. Ia masih sangat terpengaruh oleh obat penenang dan hanya setengah sadar sesudah mengalami serangan jantung berat malam sebelumnya. Tampaknya ia hanya dapat melihat secara samar-samar pemuda berseragam marinir yang berdiri di samping pembaringannya. Lelaki tua itu mengulurkan tangannya. Sang marinir menggenggamkan tangannya yang kuat ke tangan lemas orang tua itu dan meremasnya dengan lembut. Perawat menaruh sebuah kursi, sehingga prajurit yang masih lelah itu dapat duduk di sisi pembaringan.

Sepanjang malam itu, sang marinir muda duduk di bangsal yang berpenerangan buruk, terus memegangi tangan si orang tua itu dan terus mengeluarkan kata-kata penghibur. Orang yang mau meninggal itu tidak berkata sepatah pun, tetapi terus menggenggam tangan sang marinir. Tanpa peduli dengan bunyi tangki oksigen, rintihan pasien-pasien lain, dan gemerisik staf tugas malam yang datang dan pergi ke bangsal itu, sang marinir terus berjaga di sisi orang tua itu. Untuk kesekian kalinya, ketika mampir untuk memeriksa kondisi sang pasien, perawat terus mendengar marinir muda itu membisikkan kata-kata penghiburan kepada si sakit. Beberapa kali sepanjang malam itu, perawat menawarkan istirahat sejenak kepada sang marinir. Akan tetapi setiap kali, tawaran itu ditolak.

Menjelang matahari terbit lelaki itu mengembuskan napas terakhirnya. Sang marinir meletakkan tangan orang tua yang sudah tidak bernyawa itu ke tempat tidur lalu menemui perawat. Sementara perawat mengurusi jenazah, marinir muda itu menunggu dengan sabar. Dan begitu selesai dengan tugas itu, seperti biasa sang perawat mengungkapkan kata-kata belasungkawa, tetapi sang marinir menyela.

“Siapa sesungguhnya orang itu?” tanyanya.
Dengan sangat terkejut perawat itu menjawab,
“Tentu saja ayah Anda.”
“Bukan, ia bukan ayahku,” kata pemuda itu.
“Aku belum pernah melihatnya sama sekali.”
“Lalu mengapa Anda tidak mengatakan apapun ketika dibawa kepadanya?”
“Setiba di sini, aku langsung tahu ada yang salah ketika atasan memberi perintah mendadak kepadaku untuk pulang. Dalam kesatuanku ada orang lain yang baik nama dan tempat lahirnya sama denganku, dan nomor pokok kami juga hampir sama. Mereka salah mengirimku,” kata marinir muda tadi.

“Tapi aku juga tahu bahwa orang tua ini membutuhkan kehadiran anaknya, padahal mengharapkan anaknya datang ke mari mungkin sudah terlambat. Aku tahu bahwa kondisinya terlalu parah untuk mampu membedakan aku dari anaknya. Dan karena sadar bahwa ia sangat membutuhkan kehadiran anaknya, aku memutuskan untuk menemaninya.”

Ditulis dari “A 5th Portion of Chicken Soup for the Soul”
Ditulis oleh Roy Popkin
Halaman 11-13

Honor Besar Pertama Abe Lincoln, Bagian Kedua (Selesai)

Standard

Honor Besar Pertama Abe Lincoln,
Bagian Kedua

Menurut peraturan, hanya dua pidato yang diajukan oleh masing-masing pihak. Dari percakapan itu, Lincoln baru tahu bahwa dia diminta bergabung beberapa hari sebelum Stanton diajak bergabung menangani kasus tersebut. Karena itu, Lincoln berasumsi bahwa, karena dia berada dalam prioritas lebih tinggi, dialah yang akan bicara dan merangkum argumen hukum dari pihak Manny. Pengacara McCormick, Reverdy Johnson, berdiri dan berkata dengan anggun: “Kami melihat bahwa para terdakwa diwakili oleh tiga orang pengacara. Kami bersedia menerima agar ketiganya didengar dan tidak berkeberatan bahwa akan ada tiga argumen dari pihak mereka. Kami hanya meminta agar rekan kami, Pak Edward Dickserson, diperbolehkan bicara dua kali jika kami menginginkannya.”

Lincoln melihat Stanton dan Harding berpandangan, seakan sudah ada pengertian di antara keduanya. Sekarang Lincoln merasa menjadi orang luar. Stanton berkata: “Kami tidak minta keistimewaan dari lawan kami. Kami tidak bermaksud memberikan lebih dari dua argumen dari pihak kami. Kami tidak akan melanggar peraturan pengadilan.”

Argumen yang disiapkan Stanton? Lincoln mengerutkan keningnya. Jadi, apa yang diharapkan dari dirinya? Lincoln berbicara dengan suara perlahan, “Aku sudah menyiapkan catatanku.” Stanton menoleh kepadanya dan mengangkat bahu dengan gaya menghina. “Tentu saja Anda harus didahulukan,” katanya. Lincoln, dengan penghormatan yang ditunjukkannya secara spontan, menjawab, “Mungkin, Pak Stanton, Anda ingin bicara menggantikanku?” Stanton menyambar tawaran Lincoln sekan-akan menerima pengunduran diri Lincoln dari kasus tersebut. Harding duduk tanpa bersuara. Lincoln, yang menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menarik diri, tanpa banyak bicara meninggalkan ruang sidang.

Dia berdiri sendirian di tangga gedung pengadilan itu: tersinggung berat, geram, malu. Tetapi, dia telah dibayar untuk menyiapkan risalahnya dan merasa wajib memberikan produk yang sudah dibayar itu kepada kliennya. Jadi, dia kembali masuk ke ruang sidang dan duduk di antara hadirin. Tetapi, Lincoln memberikan risalahnya kepada Watson. “Aku menghabiskan banyak waktu untuk menyusunnya; mungkin Harding bisa menggunakannya,” katanya. Watson memberikan risalah itu kepada Harding, yang melemparkannya ke atas meja. Tidak sekalipun dia melirik risalah itu, dan keesokan harinya risalah itu masih tetap tergeletak di situ.

Sepanjang pekan berlangsungnya pengadilan itu, para pengacara dari kedua belah pihak sering makan bersama, dan sekali pernah diajak hakim untuk makan malam di rumahnya. Hanya ada satu orang yang tidak diundang, si canggung dari Springfield.

Pengadilan berlangsung dan mencapai klimaksnya. Pengacara terkenal dari pihak McCormick, Johnson, mengajukan banding dengan fasih mengenai hak-hak sang penemu hebat itu. Orang-orang yang bisa melawannya dengan sukses pasti akan menjadi terkenal, dan di sinilah seharusnya Lincoln mengajukan argumennya. Alih-alih, sebagai penggantinya, berdirilah Stanton, orang yang telah menyingkirkannya. Stanton tidak mengotak-atik karya McCormick, tetapi merinci poin demi poin yang diajukan Johnson, dan Lincoln melupakan harga dirinya yang terluka ketika memperhatikan logika brilyan Stanton yang membuatnya terpana.

Malam itu Lincoln berjalan bersama seorang teman. “Argumen Stanton membuka mataku,” katanya. “Belum pernah aku mendengar sesuatu yang begitu tuntas dan begitu rapi persiapannya.” Kemudian, katanya lagi, “Aku tak bisa sepiawai mereka. Aku tak bisa bicara seperti mereka, atau berpenampilan seperti mereka!” Tetapi, dia bertekad untuk tidak membiarkan dirinya dihina. “Aku akan pulang dan belajar hukum dengan lebih tekun lagi,” katanya. “Orang-orang dari Timur itu akan semakin sering ke sini, dan aku harus siap menghadapi mereka dengan cara mereka.”

Argumen Stanton yang hebat itu berhasil memenangkan Manny. Watson mengirim cek sebesar dua ribu dolar kepada Lincoln. Uang itu ibarat harta kecil baginya; tetapi, dia mengirimkan kembali cek itu mengatakan bahwa dia merasa tidak patut dibayar mengingat dia tidak ikut ambil bagian dalam penyelesaian kasus tersebut. Pastilah sekarang perasaan Watson menjadi galau karena telah ikut berperan mengesampingkan Lincoln, dan dia menawarkan cek itu sekali lagi. Cek itu tiba ketika Lincoln sedang dalam keadaan amat terdesak. Dia menerima uang itu dan memberikan separuhnya kepada rekannya, Herndon.

Lincoln tidak bisa meniadakan kegetiran hatinya–kenangan pahit itu akan selalu dikenangnya–tetapi, dia bisa mengubah dirinya agar tidak usah menerima hinaan yang menyakitkan hati dengan alasan yang sama. Tampilannya menjadi lebih bermartabat, pidatonya lebih baik, lebih bermakna. Kemudian, dia terjun untuk mengejar cinta pertamanya dan yang paling dalam–politik. Ironisnya, honor yang diterima Lincoln itu memberinya kebebasan dari segi keuangan untuk terlibat dalam kampanye politik yang memberinya ketenaran yang tidak berhasil diraihnya dalam kasus McCormick-Manny.

Tidak lama kemudian, dia menjadi Presiden Amerika Serikat. Di antara para pengecamnya yang paling pedas adalah Stanton. Tetapi, Lincoln tidak pernah melupakan perbedaan antara Stanton yang berlidah tajam dan Stanton yang berotak cemerlang–dan ketika dia memilih orang untuk posisi penting sebagai Menteri Perang, dia memilih Edward M. Stanton. Hanya orang dengan watak seperti Lincoln-lah yang bisa menjulang di atas hinaan Stanton, dan hanya orang dengan amal baik seperti yang dimilikinyalah yang tidak memendam dendam.

Setelah bertahun-tahun bekerja di bawah Lincoln, Stanton baru sadar siapa yang lebih baik di antara mereka. Di saat Lincoln berbaring menjelang ajalnya, Stanton berdiri di sampingnya, terisak-isak pilu yang tidak bisa dihibur. Ketika akhirnya mata Lincoln menutup, orang yang dulu pernah menyakitinya dengan kejam memberi Lincoln penghormatan abadi: “Sekarang dia telah pindah ke dunia fana!”

Banyak orang yang pasti merasa benar-benar terhina, tetapi Abraham Lincoln begitu rendah hati untuk mengakui kekurangannya, dan memiliki keteguhan untuk berusaha mengatasinya. Dan, ketika dia mencapai puncak karier politiknya, sekali lagi dia menunjukkan kerendahan hatinya dengan mengangkat Stanton menduduki jabatan terpandang dan berkuasa. Kerendahan hati amat penting untuk menjadi pemimpin yang efektif, tetapi sering kali tidak dimiliki oleh banyak eksekutif.

Selesai.

Kita semua adalah aktor yang berusaha mengesankan penonton, menjadi pusat perhatian di atas pentas. Tetapi, jika kita ingin menaruh perhatian pada orang lain, kita harus melatih ego kita yang haus perhatian itu untuk berhenti bekerja keras meraih lampu sorot dan membiarkan lampu itu menyoroti orang lain -Donald E. Smith

Dikutip dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup”
Ditulis oleh Mitchell Wilson
Halaman 185-188, 199

Honor Besar Pertama Abe Lincoln, Bagian Pertama

Standard

Honor Besar Pertama Abe Lincoln,
Bagian Pertama

Pada suatu siang pada tahun 1855, seorang pengacara berpakaian rapi dari Philadelpia tiba di kota prairi Springfield, Illionis, dan menanyakan jalan menuju rumah Pak A. Lincoln. Ternyata rumah itu rumah kayu biasa. Pintu dibuka oleh seorang lelaki ceking yang mengenakan kemeja berlengan, yang tampak sangat jangkung. Tungkai dan lengannya sangat besar. Rambut hitamnya yang kasar tampak seakan-akan tidak pernah disisir. Satu-satunya roman muka yang mengesankan bagi si tamu adalah sorot mata lelaki itu: tajam, pilu, dan bijak.

Orang Philadelpia itu berkata: “Namaku P.H. Watson. Aku adalah penasihat hukum sekelompok pemilik pabrik yang menggalang dana untuk membantu orang yang mungkin Anda kenal–J.H. Manny dari Rockford, Illionis.” Wajah Lincoln langsung berubah menunjukkan minat. “Kasus McCormick-Manny?” tanyanya. Watson mengangguk. Kasus McCormick-Manny adalah salah satu pertempuran hukum yang paling penting di masa itu. Karena melihat sukses besar Cyrus McCormick, banyak pabrik kecil yang membuat mesin ketam, tetapi tidak ada yang membayar royalty kepada McCormick–semuanya mengaku bahwa mesin mereka berbeda dengan mesin McCormick. McCormick pun meminta bantuan para pengacara paling ternama di negara itu dan menuntut pesaing yang tampaknya memiliki kasus terbaik–J.H. Manny & Son.

Pemilik pabrik lainnya menyadari bahwa mereka semua pasti akan hancur jika Manny kehilangan bisnisnya. Watson memberikan nasihat kepada para kliennya: “Kasus ini akan dihadapkan kepada Hakim Drummond di Distrik Utara Illionis, mungkin di Springfield. Amatlah baik jika Anda mendapatkan dukungan masyarakat–pilih orang setempat yang merupakan teman baik hakim itu.” Inilah sebabnya mengapa Watson sekarang duduk di rumah di Springfield itu, berbicara dengan pengacara jangkung yang tidak menarik itu. Dia mengemukakan argumen yang sangat meyakinkan kepada Lincoln–uang muka lima ratus dolar dan janji honorarium terbesar yang pernah ditawarkan kepada Lincoln. Pengacara jangkung itu belum pernah menangani kasus yang biayanya lebih dari beberapa ratus dolar, dan pada saat itu namanya belum dikenal di luar country-nya. Namun, ada beberapa fakta tentang kasus itu yang tidak disampaikan Watson kepada Lincoln.

Ketika Watson sudah pergi, Lincoln duduk terpana. Usianya empat puluh enam tahun, dililit hutang, dihantui kegagalan. Sekarang, tiba-tiba saja, tersedia peluang untuk meraih ketenaran nasional sebagai pengacara. Dia tidak tahu apa-apa tentang undang-undang paten atau mekanisme mesin ketam, dan dia bekerja keras untuk mulai mempelajari hal-hal yang harus diketahuinya. Tetapi, tetap saja dia merasa cemas di ruang pengadilan, dia harus beradu kepiawaian dengan orang-orang Timur yang berpengalaman dan berpendidikan–dua hal yang tidak dimilikinya.

Dalam masa persiapan yang ketat ini, Lincoln hanya menerima beberapa pucuk surat dari Watson, tetapi dari surat-surat tersebut dia merasa diberi kebebasan untuk memilih. Rasa percaya dirinya semakin besar. Suatu hari dia mendapat kabar bahwa tempat pengadilan dipindahkan, dengan persetujuan kedua belah pihak, dari Springfield ke Cincinnati, dan akan dipimpin oleh hakim yang tidak dikenal oleh Lincoln. Dia merasa seharusnya dirinya ditanyai dulu tentang pemindahan tempat tersebut, tetapi dia menepis kekecewaan itu, dan berkata dalam hati bahwa Watson sengaja tidak ingin membebaninya dengan hal-hal kecil.

Jadi, Lincoln pun berangkat ke Cincinnati untuk bertemu dengan para kliennya, merasa yakin bahwa mereka akan menghormati kemampuannya dan mengandalkannya. Di dalam sakunya tersimpan catatan singkat, hasil kerja kerasnya dan yang akan menentukan amsa depannya. Dia mengenakan pakaian dengan cermat untuk acara itu dan menunjukkan sikap yang bermartabat. Tetapi, sosok berikut inilah yang tampak oleh para rekannya dari pTimur: Dia terlihat seperti orang udik yang canggung, yang mengenakan pakaian yang kasar dan tidak karuan. Celana panjangnya tidak cukup panjang untuk menutupi mata kakinya dan dia mengenakan kain linen yang bernoda keringat.

Dimulailah kekecewaan Lincoln. Didapatinya bahwa pengacara yang lain, Edwin M. Stanton, telah dipilih untuk menangani kasus itu–bahkan telah dipekerjakan sejak awal. Ketika Manny mengajak Lincoln ke kamar hotel Stanton, pintu kamar terbuka dan Lincoln menunggu di luar. Stanton, yang perawakannya pendek dan penampilannya garang, memandangnya dan berkata dengan suara keras: “Apa yang dilakukannya di sini? Singkirkan dia. Aku tidak mau bekerja dengan monyet canggung seperti itu! Kalau aku tidak disediakan orang yang penampilannya rapi untuk menangani kasus ini, lebih baik aku mundur.”

Lincoln tetap diam. Hinaan itu disengaja, tetapi dia pura-pura tidak mendengarnya. Dengan kepala tegak, meskipun telah dihina sedemikian rupa, dia menuruni tangga, dan dia diperkenalkan kepada George Harding, pengacara lain yang menangani kasus itu. Kemudian, semuanya berangkat menuju gedung pengadilan. Di sana, para pengacara dari kedua belah pihak saling menyapa. Mereka sudah pernah bertemu sebelumnya. Tetapi, Lincoln tidak diperkenalkan, dan berdiri sendirian dengan canggung di meja para terdakwa.

Bersambung ke “Honor Besar Pertama Abe Lincoln, Bagian Kedua”

Dikutip dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup”
Ditulis oleh Mitchell Wilson
Halaman 183-185

Kisah Uang Rp 1000,- dan Rp. 100.000,-

Standard

Alkisah ada suatu persahabatan yang cukup menarik yang terjalin antara uang lembaran kertas yang bernilai Rp. 1000,- dan uang lembaran kertas yang bernilai Rp. 100.000,-. Keduanya terjalin persahabatan yang erat karena mereka merasa memiliki persamaan di bahan baku yang sama-sama terbuat dari bahan kertas dan dicetak serta diedarkan oleh Bank Indonesia. Pada suatu siang di bawah terik matahari yang panas, kedua sahabat tersebut bertemu kembali secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda. Kemudian di antara keduanya terjadilah percakapan yang cukup menarik..

Rp. 100.000,- bertanya kepada Rp. 1000,- “Kenapa badan kamu tampak begitu lusuh, kotor dan berbau amis?” Lalu Rp. 1000,- menjawab, “Maklum sahabatku, karena begitu aku keluar dari Bank, aku langsung berada di tangan banyak orang pengerja lapangan mulai dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan di tangan pengemis.” Lalu Rp.1000,- bertanya kembali pada Rp. 100.000,- “Sedang kamu sendiri kenapa terlihat begitu baru, rapi, dan masih bersih?” Dijawabnya, “Karena begitu aku keluar dari Bank, diriku langsung disambut dan beredar di mal, restoran mahal, dan juga hotel berbintang. Keberadaanku pun selalu dijaga dan sangat jarang aku keluar dari dompet ini.”

Lalu Rp. 1000,- bertanya kembali, “Hm. Tetapi.. Pernah ngga kamu mampir di tempat ibadah?” Dijawabnya, “Belum pernah tuh..” Rp. 1000,- pun berkata, “Ketahuilah walau keadaanku seperti ini adanya, aku selalu mampir di tempat ibadah dan sering keberadaanku disambut oleh tangan anak-anak yatim piatu. Oleh karena itu aku selalu bersyukur pada Tuhan atas apa yang aku alami. Aku tidak dipandang manusia dari nilai mata uangku tetapi dipandang dari manfaatnya. Aku dapat menjadi berkat bagi siapapun dan di tingkat manapun..” Mendengar cerita tersebut, menangislah uang Rp. 100.000,-. Karena selama ini dia merasa bahwa dia memiliki nilai mata uang terbesar, terhebat, dan tertinggi tetapi sama sekali belum memberikan manfaat yang maksimal.

Yang menjadi permasalahan bukanlah dilihat dari seberapa besar penghasilan Anda, tetapi dari seberapa besar manfaat penghasilan Anda bagi orang lain (dapat menjadi berkat bagi orang lain). Kekayaan yang dipercayakan Tuhan kepada kita bukanlah untuk kesombongan semata, tetapi supaya kita selalu bersyukur dan membantu mereka yang membutuhkan. Semoga kita termasuk golongan dari orang-orang yang selalu mensyukuri nikmat yang sudah Dia beri dan hidup kita dapat memberi manfaat bagi lainnya..

Rahasia Cinta Kasih

Standard

“Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.” (Amsal 31:10).

Aku harus memperingatkan engkau, wahai pembaca, sebelum engkau memulai. Kata-kata ini adalah permata kuno yang digali dari tambang kehidupanku. Bacalah hanya jika engkau berani untuk menghargainya. Karena jauh lebih baik untuk tidak mengetahuinya, daripada mengetahui namun tidak menurutinya. Tangan yang menulis kata-kata ini sekarang sudah tua renta, berkeriput karena matahari dan kerja keras. Namun pikiran yang memimpin tangan-tangan itu bijaksana–

bijaksana oleh tahun-tahun yang berlalu
bijaksana oleh kegagalan yang berulang
bijaksana oleh sakit hati yang bertubi-tubi

Aku adalah Asmara, si pedagang batu mulia.

“Dia berewokan,” Kakek Josh telah menjelaskan kepada Eric, “janggutnya seputih salju. Garis-garis sekeliling matanya sedalam ngarai. Dia mengenakan topi hitam dan membawa tongkat dari kayu hitam berhiaskan kepala burung gagak.

“Kami menjadi sahabat di kota pelabuhan Maroko, bertemu di kedai yang sama setiap pagi selama satu musim panas. Pertama-tama karena kebetulan, tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya kami merencanakan untuk bertemu, kami bertemu dan bercakap-cakap. Dia berusia hampir sembilan puluh tahun–seorang pengelana tua yang sudah mendekati akhir hidupnya. Kakek baru berusia dua puluh tahun, seorang misionaris muda dalam pelayaran Kakek yang pertama.”

“Apa yang diajarkan beliau kepada Kakek” tanya Eric.
“Beliau mengajari Kakek tentang satu permata yang tidak pernah diperolehnya.”
“Permata apa?”
“Baca dan lihatlah. Kakek begitu tergerak oleh kisahnya sehingga Kakek memberikan kepadanya buku catatan perjalanan Kakek dan meminta beliau untuk menulis di dalamnya. Kata-kata yang kaubaca tadi adalah miliknya. Namun pelajaran yang diajarkannya adalah milikmu. Jika kamu memang bersedia menerimanya.”

Eric lebih dari sekadar bersedia. Dia memerlukan bimbingan. Pagi itu saat latihan bisbol, dia melihat teman-temannya sedang berkerumun di tempat duduk pemain. “Ada apa?” tanyanya sambil mengintip dari balik bahu mereka. Tak seorang pun menjawab, mereka hanya cekikikan dan mengajaknya duduk. Di atas lantai terletaklah sekotak majalah–majalah yang penuh berisi gambar-gambar wanita telanjang. “Ayolah, Eric. Ambil saja satu majalah,” desak seorang anak laki-laki. “Aku menemukan semua ini di dalam kamar kakakku.”

“Ya, Eric, ayolah. Tidak apa-apa,” ucap anak yang lain.
“Ayo, Eric, tidak akan ada yang tahu.”
“Mungkin nanti saja,” itulah satu-satunya perkataan yang dapat dipikirkan Eric, dan dia bergegas menuju ke lapangan bisbol.
Kemudian dia memberi tahu Kakek Josh bahwa dia merasa kebingungan. “Mungkin anak-anak itu benar. Lagi pula, itu kan hanya gambar saja.”

Namun Kakek Josh tidak merasa kebingungan. Beliau berbicara seolah-olah beliau tahu persis apa yang sedang Eric hadapi.
“Berhati-hatilah, Eric. Hawa nafsu berdandan indah untuk menyenangkan pembelinya.”
“Apa?”
“Apa yang kamu alami pagi ini dapat menghancurkanmu.”
“Itu kan hanya majalah.”
Kakek Josh menanggapi dengan tegas. “Itu bukan sekadar majalah, Eric. Itu adalah majalah yang buruk. Majalah yang mengajarkan kebohongan.”

“Kebohongan?” Eric terperanjat dengan ketegasan Kakek Josh.
“Benar, kebohongan. Kebohongan tentang cinta kasih dan keindahan. Camkan, Eric. Cinta kasih lebih dari sekadar wajah atau tubuh yang elok. Cinta kasih itu berasal dari dalam, bukan dari luar.”

Ketika Kakek Josh selesai berbicara, diberikannya kunci dan buku tentang rahasia itu kepada Eric dan menyuruhnya berjalan menuju taman untuk membaca cerita itu. Eric menemukan bangku kosong, duduk, dan membuka buku itu. Tulisan tangan yang tebal-tebal dan jelas.

Aku seorang penjual batu mulia. Aku bepergian dari kota yang satu ke kota yang lain. Aku membeli permata dari para penggali di negeri yang satu dan menjualnya kepada para pembeli di negeri yang lain. Aku pernah merasakan malam hari yang berhujan badai. Aku sudah melalui siang hari di gurun yang panas. Aku pernah makan bersama para raja. Aku pernah mabuk bersama orang miskin. Tanganku pernah memegang batu delima paling indah dan membelai pakaian bulu binatang yang paling tebal. Namun aku akan menukarkan semuanya itu demi satu permata yang tidak pernah kuketahui.

Bukan karena tidak ada kesempatan maka aku tidak pernah menggenggamnya. Ada satu kesempatan di Madrid ketika aku masih muda. Bukan, bukan karena tidak ada kesempatan. Semua itu karena tidak adanya hikmat. Permata itu pernah ada di tanganku, namun aku menukarnya dengan yang palsu. Dan sekarang aku takut bahwa hari-hariku akan berakhir tanpa aku mengetahui keindahan dari batu berharga itu.

“Batu apa yang sedang dia bicarakan?” Eric bertanya kepada dirinya sendiri sambil dia membalik halaman buku itu. Jawabnya ada di kalimat berikutnya. Tintanya lebih tebal dan kata-katanya digarisbawahi.

Aku tidak pernah tahu cinta kasih sejati.
Aku sudah tahu pelukan. Aku sudah melihat kecantikan. Tapi aku tidak pernah tahu cinta kasih.
Jika saja aku belajar untuk mengenal cinta kasih sebagaimana aku telah belajar mengenal batu mulia.
Ayahku mengajariku tentang batu mulia. Dia adalah seorang pemotong batu mulia. Dia akan mendudukkanku di sebuah meja di hadapan selusin zamrud. “Ada satu yang asli,” kata beliau memberitahuku. “Lainnya palsu. Carilah permata yang asli.” Aku akan berpikir–mempelajari satu demi satu. Akhirnya aku memilih. Aku selalu saja salah.

“Rahasianya,” kata ayahku, “bukan pada permukaan batunya; namun di dalam batu. Permata yang asli memiliki kilauan. Jauh di dalam permata yang asli terdapat cahaya yang berkilauan. Bagian permukaan selalu dapat digosok agar berkilau, namun dengan berjalannya waktu, kilauannya pun akan memudar. Akan tetapi, batu mulia yang berkilau dari dalam tidak akan pernah memudar.” Seiring berjalannya waktu, mataku belajar untuk melihat batu mulia yang asli. Aku tidak pernah dibodohi. Batu mulia yang kubeli benar-benar asli. Permata yang kujual benar-benar asli. Aku sudah belajar untuk melihat cahaya yang berada di dalamnya.

Andai saja kupelajari hal yang sama tentang cinta kasih.
Namun aku sudah menjadi bodoh, wahai pembaca, dan aku telah dibodohi.
Aku telah menghabiskan hidupku di tempat-tempat yang tidak seharusnya, hanya untuk mencari seseorang dengan mata yang berbinar, rambut nan indah, senyuman yang mempesona, dan pakaian yang indah. Aku telah mencari seorang wanita dengan kecantikan jasmani, namun tanpa nilai yang sejati. Maka kini terpuruklah aku dalam kehampaan.

Sekali hampir kutemukan dia. Bertahun-tahun yang silam di Madrid, aku bertemu dengan putri seorang petani. Hidupnya sederhana, cinta kasihnya murni. Matanya jujur. Namun penampilannya biasa saja. Dia pasti akan mencintaiku. Dia pasti akan mendukungku dalam melewati segala badai kehidupan. Di dalam dirinya terdapat kilauan pengabdian yang tak pernah kulihat lagi sejak saat itu. Namun aku terus mencari seseorang yang kecantikannya dapat mengalahkan yang sebelumnya. Berapa kali sejak saat itu aku telah merindukan kebaikan hati gadis petani itu, senyuman manisnya, dan kesetiaannya?

Andai saja kutahu bahwa kecantikan sejati ditemukan di dalam diri, bukan di luar. Andai saja kutahu, berapa banyak air mata yang dapat kusimpan? Akan kutukar dalam sekejap seribu permata langka demi hati sejati milik seseorang yang pasti akan mencintaiku.

Wahai pembaca, camkanlah peringatanku. Lihatlah dari dekat bebatuan itu sebelum engkau membuka dompetmu. Cinta kasih yang sejati berkilau dari dalam dan bertumbuh semakin kuat seiring berlalunya waktu. Camkanlah peringatanku. Carilah permata yang paling murni. Lihatlah ke dalam hatinya untuk menemukan kecantikan yang teragung. Dan saat engkau menemukan permata itu, genggamlah dia dan jangan membiarkan dia pergi. Karena di dalamnya diberikan kepadamu harta karun yang jauh lebih berharga daripada batu delima.

Eric menatap kata-kata terakhir itu selama beberapa menit sebelum buku itu ditutupnya. Dia tidak tahu di bangku seberangnya ada Kakek Josh dan Nenek Melva. Dia baru menengadahkan wajahnya saat Kakek Josh mulai berbicara.

“Ketika Asmara mengembalikan jurnalku, beliau mengatakan kata-kata ini, ‘Pilihlah cinta kasih yang sejati ketika engkau muda sehingga engkau tidak akan merasa kesepian ketika engkau sudah tua.’ Kemudian Asmara berbalik dan pergi. Itulah terakhir kalinya Kakek melihatnya, Eric. Kakek tidak akan pernah melupakan kesedihan yang tergambar di wajahnya.” Lalu sambil memegang tangan Nenek Melva, Kakek Josh menambahkan, “Dan Kakek takkan pernah menyesali pilihan yang telah Kakek buat.”

Kakek Josh mencondongkan tubuh ke depan dan memandang lurus-lurus mata sahabat mudanya, “Baliklah halaman itu dan bacalah rahasia cinta kasih.”
Eric menurut, dan inilah yang dilihatnya:

Carilah kecantikan dan engkau akan kehilangan cinta kasih.
Namun carilah cinta kasih dan engkau akan menemukan keduanya.

Ditulis dari buku: “Ceritakan Padaku Rahasia Itu”
Penulis: Max Lucado
Halaman: 63-70

My Last Love

Standard

Di bawah ini adalah sebuah kisah cinta yang terjalin antara Angel seorang gadis lumpuh dan Martin seorang penderita AIDS. Bagaimana melalui hidup yang dijalani, mereka berusaha untuk menunjukkan pada dunia bahwa tidak ada yang berbeda dengan hidup mereka. Sekalipun memiliki kekurangan secara fisik, mereka tetap manusia biasa sama seperti kita dan berusaha untuk diakui sebagai bagian dari masyarakat.

Tentang Angel..

Adalah seorang gadis yang baru berusia 23 tahun. Dia bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan seluler. Ia memiliki seorang kekasih yang bernama Hendra. Pada suatu hari, Angel begitu bergembira saat pulang dari tempat kerjanya dan sesampainya di rumah ia segera memeluk Ibunya.

“Bu, Hendra akan melamarku pada malam ini. Dan kami akan bertemu di taman kota, tempat di mana kami pertama kali bertemu,” demikian kata Angel kepada Ibunya.
“Bagaimana kamu bisa begitu yakin, nak?”
“Tentu saja aku yakin bu, sebab kami sudah jauh-jauh hari merencanakan hal tersebut. Dan Hendra berkata bahwa malam ini adalah malam yang tepat untuk melamarku..”
“Kalau begitu lekaslah kamu pergi dan segera bergantilah pakaian terbaikmu..”

Angel begitu bergembira pada malam itu. Malam yang telah ia tunggu-tunggu selama mereka berpacaran hampir lebih dari waktu tiga tahun, kini akan menjadi puncak dari kisah asmara yang telah mereka jalin selama ini.

Tentang Martin..

Martin adalah seorang laki-laki muda yang berusia 25 tahun dan merupakan pria playboy yang terlahir dari keluarga jutawan. Saat itu jam telah menunjukan pukul 7 malam. Tiba-tiba di pintu kamarnya terdengar ada sebuah ketukan. Martin yang saat itu sedang tertidur pulas, segera bangun dari tidurnya dan membuka pintu dengan wajah kesal. Tampak terlihat ada seorang ajudan Ayahnya yang sedang berdiri berada di depan pintu.

“Ada apa sih? Mengganggu tidur orang saja!”
“Maaf Tuan, Ayah Anda sudah menunggu di ruang tamu untuk acara makan malam keluarga.”
“Bilang padanya, aku akan berada di bawah sebentar lagi,” kata Martin tidak berani melawan perintah Ayahnya.

Ajudan itu pergi meninggalkan Martin yang segera merapikan mukanya yang kusut, karena pada malam sebelumnya ia baru pergi dugem dan baru pulang pada pukul tujuh pagi. Setelah rapi, ia pun segera langsung menuju ke bawah, menemui Ayahnya yang sudah duduk di meja makan. Bersama Ibu dan adiknya Sheila. Dan Martin duduk begitu saja..

“Beginikah cara kamu membesarkan anakmu? Pagi jadi malam dan malam jadi pagi?” kata Ayahnya dengan ketus.
“Sudahlah pak, Martin ayo makan..” kata Ibunya yang berusaha meredam emosi sang Ayah.

Dengan setengah hati Martin pun makan. Tetapi baru saja mencicipi sedikit makanan, ia sudah pergi menghilang meninggalkan acara makan malam tersebut. Martin pergi dengan mobil BMWnya menyusuri jalan yang sudah penuh dengan gemerlap lampu yang berwarna-warni. “Ayahku adalah seorang yang kaya raya, buat apa aku harus susah-susah berkerja keras? Selama tujuh turunan pun harta kekayaan Ayahku tidak akan pernah habis,” demikian gumam Martin. Lalu tak lama kemudian ada seorang gadis yang menelepon handphonenya. Tampak gadis itu adalah incarannya untuk malam ini. Mereka sedang asyik berbicara bersama, sambil mobil melaju cukup kencang.

Kembali ke Angel..

Ibunya sudah berdiri di depan pintu. Angel menyalakan motor Vespa-nya, siap pergi, lengkap dengan pakaian terbaiknya.

“Aku pergi dulu ya, bu..”
“Kenapa kamu tidak minta dijemput saja?” tanya Ibunya.
“Tidak apa-apa bu, Hendra langsung bertemu denganku setelah dia pulang dari pekerjaannya. Takutnya nanti bertemu kondisi macet di jalan. Lagi aku ingin pergi secara masing-masing saja, bu. Jadi tinggal bertemu di sana.”
“Ya sudah nak.. Hati hati di jalan yaa..”

Angel pun segera melajukan sepeda motornya, sambil membayangkan apa yang akan terjadi di hari terindahnya..

Kembali kepada Martin..

Martin tampak puas tertawa, gadis itu telah membiuskan kata-kata indah di telinganya. Ia dapat memberikan apapun yang diinginkan oleh gadis yang disukainya. Ia rela memberikan uang , permata maupun emas. Saat ia mengemudikan mobilnya, ia tidak menyadari bahwa lampu traffic light telah berubah menjadi berwarna merah dan ada sebuah Vespa yang melintas. Martin terkejut. Mobilnya melaju begitu kencang dan menabrak vespa itu sehingga pengendaranya terpental 10 meter jauhnya. Yang ia ingat hanyalah pemandangan seorang gadis yang terkujur kaku di jalan. Hatinya risau. Apakah ia harus melihat korban itu atau melarikan diri. Tetapi yang berada di pikirannya hanyalah bila ia mendekat, maka ia akan membuat masalah dengan dirinya sendiri di antara kerumunan orang yang mulai bersimpati dan mendekati korban.

Ia pun memutuskan satu kenyataan–lari dari kejadian itu.

Tentang Hendra..

Ia menunggu tanpa adanya kejelasan di taman. Ia mencoba menelepon handphone Angel berulang-ulang, tetapi sama sekali tidak diangkat. Satu jam berlalu, hatinya pun mulai cemas. Ia berpikir bahwa Angel telah menolak lamaran yang telah diajukannya. Ketika Hendra berusaha menelepon untuk terakhir kalinya, ia mendapatkan ada suara orang asing yang menjawab. Ada suara seorang pria yang mengatakan bahwa gadis yang memiliki handphone itu sedang dirawat dalam Ruang Unit Gawat Darurat, dikarenakan korban kecelakaan. Ia pun segera menuju ke Rumah Sakit dan menyimpan cincin tunangan untuk Angel di saku bajunya. Saat ia tiba, tampak terlihat bahwa Ibu Angel sedang berdiri menanti di Ruang Tunggu, dengan tangisan khawatir yang tiada henti-hentinya membasahi pipinya.

Kembali ke Martin..

Ia pun mulai sadar bahwa banyak saksi yang telah melihat plat nomor mobilnya. Ia segera menceritakan masalah ini kepada Ayahnya. Sang Ayah meminta ia untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya, tetapi Ibunya menolak dengan keras. Yang ada di pikiran Ibunya saat itu adalah putranya bisa terkena masalah yang serius dan dapat dipenjara bila menyerahkan diri. Satu keputusan yang kurang tepat muncul pada saat itu juga, Martin harus segera pergi ke luar negeri. Melarikan diri dan segera membuat alibi bahwa mobilnya saat itu dikemudikan oleh orang lain. Dengan uang Ayahnya yang berlimpah, ia dapat membayar orang lain untuk berpura-pura mengaku melakukan perbuatan yang Martin telah lakukan: Menabrak seorang gadis yang sedang berbahagia pada malam itu, karena hendak dilamar oleh kekasihnya.

Hari Natal saat itu terlewatkan dengan masalah yang serius di antara ketiga orang tersebut. Hendra bersedih dengan keadaan yang dialami oleh kekasihnya. Angel tidak pernah tahu bagaimana keadaan dirinya, karena masih belum sadar sedang berada di Rumah Sakit. Martin melarikan diri dengan rasa gundah gulana dan merasa bersalah.

Dua bulan berlalu..

Angel masih berada di rumah sakit. Ia mulai sadar, tetapi kakinya telah dinyatakan “hilang”. Ia harus mengalami kelumpuhan di kedua kakinya. Hendra yang tetap menemani kekasihnya berusaha untuk memberikan dukungan batin dan kekuatan yang tidak bisa Angel bayangkan untuk hidup. Angel pun berusaha menerima kenyataan bahwa kini ia mengalami kelumpuhan.

Martin yang sedang berada di Australia, menghabiskan hari-harinya dengan minum-minuman keras, berusaha untuk melepas kegelisahan dan perasaan bersalah di hatinya.

Enam bulan berlalu..

Angel mencoba berdiri untuk pertama kalinya dari kursi roda bersama dengan Hendra yang berdiri di sampingnya berusaha untuk menopang kaki Angel untuk berjalan. Walaupun merasa berat di hatinya, Angel tersadar bahwa ia tidak akan pernah menjadi “normal” sama seperti sesamanya yang dapat berjalan dengan kedua kakinya.

Hati Martin semakin gelisah, ia ingin segera pulang. Ibunya pun berkata kepadanya untuk menunggu hingga enam bulan ke depan. Hanya ada satu orang yang ia ingin tanyakan..

“Ibu bagaimana keadaan korban yang dulu aku tabrak?”
“Dia tidak mati, dia masih hidup..”
“Syukurlah, tapi aku tetap ingin tahu dan melihat bagaimana keadaan dirinya, bu..”
“Kamu akan tahu keadaannya bila kamu pulang, lebih baik kamu tetap berada di sana hingga kasus ini ditutup.”

Satu tahun berlalu..

Angel mulai terbiasa berjalan dengan menggunakan dan menggerakkan kursi roda melalui tangannya. Lalu Hendra berinsiatif mengajaknya untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Ketika Angel sedang duduk di sofa ruang tamu di rumah keluarga Hendra, tanpa disengaja ia mendengar apa yang ibu Hendra katakan di bagian dalam rumah,

“Ibu tidak ingin memiliki menantu yang lumpuh dan cacat seperti itu!”
“Ibu kenapa berkata seperti itu? Bagaimanapun dia adalah Angel yang sama, sama seperti saat aku membawanya pertama kali dan memperkenalkan kepada Ibu..”
“Tetapi sekarang keadaan telah berbeda. Ia sekarang telah menjadi gadis yang cacat! Bukan lagi gadis cantik yang dahulu kamu pernah bawa dan perkenalkan kebada Ibu!”

Keduanya berbicara begitu keras dan tanpa disengaja, Angel telah mendengar semua yang dikatakan Ibu Hendra. Ketika Hendra dan Ibunya kembali ke ruang tamu, Angel telah mengatakan satu hal yang begitu berat di hatinya,

“Maafkan aku, mulai saat ini aku akan melepas Hendra untuk selamanya. Dan aku berjanji tidak akan mengganggu hidup kalian lagi..”

Hendra berusaha untuk tetap bertahan, tetapi karena merasa bahwa ia tidak memiliki pilihan lain, akhirnya ia pun menerima keputusan Angel dengan berat hati.

Martin pun telah kembali setelah ia mendapat kepastian bahwa kasusnya telah selesai dengan keputusan orang lain yang telah bersedia mengantikan dirinya berada di balik penjara.

***

Angel mencoba untuk bekerja dengan normal. Tentunya ia tidak akan ditolak untuk bekerja kembali di kantor lamanya, tetapi dengan kaki yang harus mengunakan kursi roda, ia sering merasa seperti seorang yang tak berguna, yang bisanya hanya merepotkan siapapun di sekitarnya. Ketika ingin naik escalator ataupun naik tangga semuanya terasa berat. Setiap malam ia hanya bisa menangis melihat keadaannya. Ibunya yang melihat keadaan yang dialami oleh putrinya, hanya dapat berharap agar Tuhan selalu memberikan kekuatan untuk anak semata wayangnya setelah ayah Angel meninggal.

Martin telah berhasil mendapatkan segala info yang ia ingin tahu, info tentang korban yang selalu terbayang di dalam pikirannya. Dari nara sumber informasinya, telah memberitahu di mana letak dari kantor Angel. Ia segera pergi menuju kantor tersebut dan segera menemukan kenyataan bahwa kantor di mana Angel bekerja merupakan bagian dari perusahaan yang dimiliki oleh Ayahnya. Sesampainya di dalam kantor tersebut, Martin melihat Angel yang tampak berusaha dengan keras untuk naik tangga. Hatinya tergerak untuk mendekat. Membantu mendorongkan kursi rodanya.

“Terima kasih,” kata Angel kepadanya.

Martin terdiam. Hatinya begitu pilu melihat Angel yang begitu cantik tetapi harus duduk di kursi roda karena tindakannya.

“Tidak masalah,” kata Martin.
“Kamu bekerja di kantor ini, di lantai berapa?”
“Saya di lantai 3, kamu?” tanya Angel balik.

Martin pun bingung menjawab pertanyaan dari Angel. Ia tidak pernah bekerja sehingga akhirnya mengarang sebuah kisah.

“Aku baru bekerja di sini, di lantai dua,” kata Martin.
“Oh ya? Hm.. Andai saja aku bekerja di lantai satu, pasti aku tidak perlu merepotkan orang sampai seperti ini. Aku jadi merasa tidak enak hati..” kata Angel.

Meraka tiba di escalator. Sekali lagi Angel mengucapkan terima kasih kepada Martin yang saat itu pulang dengan wajah bersedih. Ia menangis melihat akibat dari perbuatan yang telah ia lakukan pada Angel. Ia pulang ke rumah Ayahnya, menceritakan apa yang telah ia alami, dan meminta sebuah pekerjaan di kantor itu. Ayahnya begitu heran dengan sikap putranya tetapi menerima keputusan Martin. Ia langsung menjadi Direktur dalam perusahaan itu. Dalam satu hari ia memutuskan untuk memindahkan kantor di mana Angel bekerja dari lantai 3 ke lantai 1. Martin memutuskan untuk berusaha mendekati Angel, sambil mencoba untuk mencari waktu yang tepat guna mengatakan satu kejujuran yang tak pernah bisa ia ucapkan hingga saat ini. Tentang hal yang membuat Angel mengalami kondisi hingga menjadi seperti saat ini.

Dari hari ke hari, hubungan mereka menjadi semakin dekat. Martin membuat banyak kemudahan di kantor untuk Angel agar bisa mengunakan kursi rodanya secara bebas. Ia makan bersama Angel di kantin yang tidak pernah ia jamah sebelumnya. Martin melihat sosok Angel sebagai seorang yang berhati mulia, sebuah sosok yang rendah hati dan menerima kenyataan hidupnya sebagai gadis cacat. Pada suatu hari, karena bosan, Martin mengajak Angel untuk makan di luar.

“Makan denganku di luar? Apakah tidak salah? Kamu kan Direktur di perusahaan ini?” jawab Angel.
“Emangnya Direktur tidak boleh ya makan bersama kamu?” jawab Martin.
“Bukan begitu, aku hanya takut merepotkan pak Direktur bila jalan-jalan bersamaku. Kota ini tidak ramah dengan seorang yang memakai kursi roda sepertiku, aku tidak ingin merepotkan pak Direktur bila jalan bersamaku sehingga harus mendorong kursi ini,” kata Angel berusaha menjelaskan.
“Tenang saja.. Ayo katakan, apa yang ingin kamu makan? Ini perintah dari Direktur, jangan ditolak..”
“Baiklah. Aku ingin makan masakan Jepang. Sudah lama aku tidak pernah makan di sana,” jawab Angel.
“Oke. Kalau begitu ayo kita makan di sana siang ini..”

Mendengar Angel yang ingin makan masakan Jepang, Martin langsung meminta ajudan Ayahnya untuk membooking semua kursi yang ada di restoran tersebut hanya untuk mereka. Ketika Angel tiba restoran tersebut, ia terkejut melihat hanya ada mereka berdua. Ia hanya mendengar kata terakhir Martin..

“Makanlah semua yang kamu inginkan..”

Mereka pun makan dengan lahap. Martin begitu menikmati keberadaan dirinya saat bersama dengan Angel, hingga mereka menyadari kalau hari Natal akan datang dalam beberapa minggu lagi.

“Kalau saat Natal nanti tiba, apa yang kamu inginkan Angel?”
“Saat Natal tiba, aku selalu meminta banyak hal. Tetapi sayangnya, permintaan terakhirku tidak pernah terjadi.”
“Kalau begitu katakan lah, aku ingin tau..” jawab Martin penasaran.
“Sungguh kamu ingin tahu?” tanya Angel.
“Tentu saja aku ingin tahu.. Ayolah sebutkan..”
“Aku ingin dapat berjalan lagi..” jawab Angel dengan semangat.

Martin tertegun mendengarnya. Hatinya miris dan wajahnya tertunduk. Tadinya ia berpikir bahwa ia ingin memberikan sebuah hadiah kepada Angel, apapun yang Angel inginkan. Kini setelah mendengar permintaan yang sulit itu, ia bersedih.

“Adakah hal lain yang dapat kamu minta selain itu?”
“Tidak ada. Aku tidak ingin meminta soalnya. Kamu tahu tahun lalu ketika aku sudah meminta suatu permintaan, eh tiba-tiba malah tidak pernah terjadi..” jawab Angel.
“Kalau boleh tahu, tahun lalu kamu meminta apa?”

Angel tertunduk, ia sadar bahwa Natal pada tahun lalu begitu kelabu. Di mana malam saat Hendra akan melamarnya, lalu terjadilah kecelakaan tersebut, dan semua benar-benar gagal.. “Aku tidak bisa mengatakannya. Itu sudah menjadi masa laluku yang ingin aku lupakan. Kalau kamu? Katakan dong apa yang kamu mau?”

Martin mendekat kepada Angel, matanya tampak serius..

“Aku tidak ingin apa-apa selain hanya bisa melihatmu tersenyum. Itu sudah cukup buatku..”

Angel pun tertawa. Mereka melewatkan makan siang itu dengan begitu gembiranya. Setelah makan siang, Angel turun ke lobby. Saat itu Martin menggendong tubuh Angel masuk ke dalam mobil. Tanpa disengaja, Angel melihat Hendra sedang bersama dengan wanita lain, melewati mereka. Angel terdiam melihat mantan kekasihnya, begitu pula dengan Hendra. Hanya Martin dan kekasih Hendra yang tidak mengerti apa yang membuat keduanya saling bertatapan. Hendra berjalan dan masuk ke mobil. Angel melihat Hendra pergi darinya. Ketika Angel berada di dalam mobil Martin, ia menangis. Martin begitu bingung dan bertanya ada apa gerangan yang telah terjadi. Angel pun menceritakan satu hal tentang Natal pada tahun lalu dan harapannya..

“Aku ingin menikah, tetapi keluarga dari kekasihku tidak mau menerimaku karena aku sudah menjadi cacat..”

Martin hanya dapat terdiam, hatinya semakin tak berdaya.

****

Hari Natal telah tiba. Martin memberikan hadiah kepada Angel, sebuah hadiah yang mungkin terlalu berharga untuknya: Kalung berlian di leher Angel. Martin menyadari suatu hal, ia mulai mencintai Angel. Ada yang harus ia katakan di acara makan malam Natal bersama mereka. Di atas meja makan dengan lilin menyala, Martin menyatakan cintanya kepada Angel.

“Apakah kamu yakin ingin menjadi kekasih dari seorang gadis cacat sepertiku?”
“Aku berjanji dalam hatiku kalau, aku bersungguh hati ingin menjadi bagian dalam hidupmu Angel, apapun yang terjadi dengan keadaanmu, kamu adalah gadis yang kuinginkan dalam hidupku, sekarang dan selamanya.”

Kalimat itu membuat Angel begitu bahagia, walau sebenarnya ia agak ragu pada awalnya. Tetapi Martin benar-benar membuktikan satu hal kepada Angel: Ia benar-benar mencintai gadis itu. Mereka pun berpacaran secara resmi. Keluarga Martin yang tidak pernah melihat perubahan hidup yang nyata. Suatu ketika di malam hari, Angel merasakan kuasa Tuhan, tiba-tiba jari kakinya mampu bergerak. Ia mulai menyadari satu hal: Ia mulai bisa merasakan kakinya kembali setelah lama lumpuh tak dapat bergerak.

Sedang Martin sendiri tidak pernah mengerti. Hari demi hari tubuhnya semakin melemas. Hingga akhirnya ia jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit. Angel yang datang menjenguk membuat keluarga Martin begitu terkejut akan kehadirannya.

“Siapa dia?” tanya Ibu Martin pada Martin yang terbaring ketika Angel bersamanya.
“Ini kekasihku, bu..”

Keluarga Martin terdiam. Mereka tidak pernah menyangka bahwa anaknya memiliki pacar yang cacat. Semua dapat menebak kalau keluarga Martin tidak akan merestui hubungan mereka berdua. Tetapi Martin tidak peduli. Setelah keluar dari Rumah Sakit, ia mendapat hadiah terburuk dalam hidupnya, Martin didiagnosa positif HIV. Dan hal ini adalah sebuah kenyataan yang begitu pahit dalam hidupnya.

Martin merasa bahwa hidupnya telah berakhir, tetapi ia tidak mau menyerah. Angel mengatakan pada Martin kalau kakinya sudah mulai dapat digerakkan. Martin yang melihat hal tersebut sebagai sebuah keajaiban, menemani Angel untuk memeriksakan keadaan kakinya. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan sembuh normal adalah 20 persen. Hal ini adalah berita yang sangat indah bagi Angel. Dokter pun mengatakan bahwa harus segera dilakukan operasi untuk membuat kakinya menjadi normal. Martin memutuskan untuk membawa Angel ke Rumah Sakit terbaik di dunia. Angel menolak pada awalnya, tetapi inilah yang terjadi di malam sebelum semua itu terjadi.

“Angel, aku selalu ingat keinginan kamu saat di hari Natal. Kamu ingin berjalan kembali. Tuhan telah mendengarkan impianmu itu, sekarang ini adalah jalanmu. Kamu harus ikut aku pergi. Lakukan ini untuk kebahagiaanmu dan jangan pikirkan biayanya karena aku akan membantumu.”
“Tapi kamu terlalu baik untukku, aku tidak ingin berhutang budi padamu,” sahut Angel.
“Tahukah kamu, aku juga mempunyai permintaan Natal juga. Kamu ingin tahu?” jawab Martin.
“Oke katakanlah..”
“Aku ingin kelak meihat kamu dapat berjalan kembali dan aku bisa bahagia bersamamu setelah itu dan..”

“Dan apa?” sahut Angel penasaran.
“Akan kukatakan kalau kamu mau ikut aku ke untuk menyembuhkan kakimu,”
“Baiklah..” Angel mengangguk setuju.

Mereka pun berangkat. Operasi berjalan dengan baik, tetapi keadaan Martin yang terlalu lelah membuat kesehatannya menjadi semakin memburuk.Tetapi rasa lelahnya itu dibayar dengan semangat Angel yang ingin sembuh dan berjalan kembali di saat Natal. Dan, operasi yang dilakukan dokter berhasil. Angel sembuh dan mulai bisa berjalan dengan perlahan. Martin yang setia menjaga selalu berada di sampingnya. Hingga hari Natal pun tiba. Di sebuah tempat yang indah, Martin pun meneruskan apa yang hendak ia katakan kepada Angel sebelum dioperasi. Martin menceritakan kejadian pada hari Natal, tepat setahun yang lalu..

“Aku sudah memaafkan kamu sejak awal kita bertemu..” kata Angel yang membuat Martin bingung.
“Kamu maafkan untuk apa?”
“Kamu tidak perlu katakan apapun, aku sudah memaafkan dan mencintai kamu dengan setulus hatiku,” jawab Angel.
“Angel, bagaimana kamu bisa tahu?”
“Aku tidak akan pernah melupakan kejadian pada malam itu. Sesaat sebelum kejadian itu, aku melihat wajahmu dengan samar-samar..” jawab Angel.
“Maafkan aku, Angel. Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah kulakukan kepadamu..” jawab Martin kemudian.
“Angel, ada satu hal lagi yang kamu harus tahu.. Aku positif mengidap penyakit HIV..”

Angel terdiam. Dan ia menjawab,

“Ketika kamu melihatku sebagai seorang gadis yang cacat, kamu tidak pernah merasa malu atau merasa takut bila aku begitu merepotkanmu. Hatiku begitu tersentuh atas apa yang kamu lakukan padaku. Kamu menyadarkan aku untuk tetap menjalani hidup ini dengan kuat dan tabah. Oleh karena itu, walaupun kamu sekarang mengidap HIV, kini saatnya aku melakukan hal yang sama terhadapmu, menyayangi dan menerima dirimu apa adanya..”
“Kenapa kamu mau? Apakah kamu tidak takut padaku?”
“Karena ini adalah jalan hidup kita. Apapun yang terjadi dengan keadaanmu. Kamu adalah bagian dalam hidupku yang akan selalu ada. Aku akan selalu setia di sampingmu..”

Martin dan Angel lalu menikah. Dan setahun kemudian, Angel sudah bisa berjalan tanpa tongkat. Dua tahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak, yang dengan ajaibnya lahir normal tanpa ada penyakit apapun. Tiga tahun kemudian pada hari Natal selanjutnya, Martin meninggal karena penyakitnya.

Seperti kata Angel,

“Bagaimanapun keadaan kita dan siapapun yang memiliki keadaan sulit, janganlah merasa bahwa hidup akan terasa menjadi lebih sulit karenanya. Kita tidak dapat memilih keadaan apapun yang terjadi dalam hidup ini, tetapi kita dapat menjalaninya dengan penuh hikmat dan bertanggung-jawab terhadap apa saja yang sudah kita lakukan. Percayalah, masa depan akan jauh lebih indah bila kita belajar bersyukur atas apa saja yang sudah Tuhan percayakan di dalam hidup ini..”

Kupersembahkan kisah ini untuk semua penderita AIDS di seluruh dunia, percayalah bahwa kalian tetap ciptaan Tuhan yang paling indah dan bahagia dengan keadaan apapun.
Untuk sahabatku yang telah pergi dengan keadaan sama,
Aku merindukanmu..

Disadur dari FB “Setitik Embun Inspirasi”
Ditulis oleh Agnes Davonar
Dengan editan seperlunya..