Salib Berarti Pengorbanan

Standard

Suatu ketika ada sebuah daerah yang dilanda penyakit kusta membutuhkan banyak tenaga perawat untuk meringankan penderitaan para penderita kusta tersebut. Ada banyak orang yang mendaftarkan diri sebagai relawan. Di antara sekian banyak orang yang mendaftar tersebut, tercatat seorang gadis muda yang cantik dan berkulit bersih. Ia mendaftarkan diri karena terpanggil untuk membantu meringankan penderitaan saudara-saudaranya. Beberapa orang menasihatinya agar tidak berangkat karena adanya bahaya penularan. Tetapi nasihat yang diberikan tidak dihiraukan sebab ia telah membulatkan niat hatinya untuk melayani para penderita kusta di daerah tersebut.

Ketika penyakit itu dinyatakan tidak lagi berjangkit, maka para relawan itu mulai dipulangkan, termasuk gadis muda tadi. Setibanya di daerah asalnya, gadis muda ini disambut dengan riang oleh teman-temannya. Namun ada sesuatu yang janggal pada gadis muda tersebut. Kedua telapak tangannya ditutupi sarung tangan hitam, dan sejak kedatangannya tidak pernah dibuka. Salah seorang teman memberanikan diri untuk bertanya, dan ketika sarung tangannya dibuka, ternyata kesepuluh jari tangan gadis muda itu sudah tidak sempurna lagi dikarenakan terjangkit penyakit kusta.

Ketika orang-orang bertanya apakah ia merasa menyesal telah kehilangan kesepuluh jarinya karena merawat dan tertular penyakit kusta, gadis muda itu menjawab, “Aku tidak pernah merasa menyesal telah kehilangan kesepuluh jariku karena kusta. Sebab di tangan inilah aku menyaksikan bagaimana Tuhan menolong dan menyembuhkan banyak orang. Di tangan ini aku juga menyaksikan mereka yang pulang ke Surga dengan damai Allah.” Kisah gadis muda ini adalah bukti pengorbanan yang luar biasa.

Tahukah Saudara bahwa ada satu pengorbanan yang jauh lebih besar daripada sekadar memberikan waktu dan tubuh bagi orang lain? Pengorbanan itu adalah pengorbanan nyawa. Itulah yang dilakukan Yesus Kristus ketika Dia tergantung di atas kayu salib. Dia adalah Allah yang Mahatinggi dan bertakhta di Surga, namun Dia rela meninggalkan semua itu dan menjadi manusia. Untuk apa? “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Satu kata yang tepat bisa diberikan kepada-Nya adalah PENGORBANAN.

Yesus mengorbankan harga diri-Nya sebagai Pribadi yang benar tetapi dipersalahkan dan dianggap sama seperti penjahat. Dia mengorbankan perasaan-Nya yang sebagai manusia tentunya ingin memberontak dan membela diri. Dia mengorbankan status-Nya sebagai Allah, namun direndahkan oleh manusia sedemikian rupa seperti domba sembelihan. Dia memiliki kuasa untuk memerintahkan para malaikat menolong-Nya, menghancurkan musuh-musuh-Nya, dan mengangkat-Nya kembali ke Surga. Namun, Dia tidak melakukannya karena Dia mengetahui bahwa berkorban bagi keselamatan manusia adalah misi-Nya datang ke dunia.

Memikul salib memang sebuah pengorbanan. Kita sebagai orang percaya juga harus “memikul salib” sebagai tanda ketaatan kita kepada firman Tuhan. John Sung mengorbankan gelar doktornya untuk menjadi seorang misionaris di China. David Livingstone mengorbankan segala yang ia miliki dan masuk ke dunia hitam di Afrika untuk mengabarkan Injil. Perkataannya yang terkenal membuktikan bahwa ia tidak pernah merasa menyesal telah berkorban menjadi pemberita Injil di benua Afrika, “Tuhan, utuslah aku ke mana saja, asal Engkau menyertaiku. Taruhlah beban seberat apa pun di pundakku, asal Engkau memberiku kekuatan. Dan, ambillah semua yang terbaik dariku, asal jangan Kau ambil hati yang mengasihi dan melayani-Mu.”

Memikul salib berarti “mengorbankan diri” untuk Dia. Berkorban waktu, tenaga, pikiran, bahkan uang untuk Tuhan. Ada ungkapan menarik yang mengatakan, “Untuk menerima Yesus kita tidak perlu membayar apa-apa. Untuk mengiring Yesus, kita perlu melakukan sesuatu (pengorbanan). Tetapi untuk melayani Yesus, kita perlu memberikan segalanya.” Sama seperti pengorbanan Yesus di atas kayu salib yang tidak sia-sia, saya yakin bahwa pengorbanan kita dalam mengiring Yesus pun tidak akan pernah sia-sia. Beranilah berkorban bagi Tuhan dan jangan menyesali apa yang telah kita lakukan untuk Tuhan, karena Dia Allah yang peduli kepada kita.

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58).

–Pdt. Benijanto Sugihono, SH., STh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s