Pohon Derma

Standard

Karena dalam memberi kita menerima
– Santo Fransiskus dari Assisi

Aku merupakan orangtua tunggal bagi empat anak yang masih kecil dan bekerja dengan upah minimum. Uang kami selalu pas-pasan, tetapi kami masih mempunyai atap di atas kepala kami, makanan di meja makan, pakaian di tubuh dan meskipun tidak banyak, kami selalu merasa cukup. Sekarang anak-anak bercerita bahwa mereka tidak tahu bahwa dahulu kami miskin. Mereka hanya mengira Ibu adalah orang yang hemat. Aku selalu senang mendengar pujian itu.

Waktu itu menjelang perayaan Natal dan walaupun tidak ada uang untuk membeli bingkisan yang banyak, kami berencana merayakannya bersama keluarga di gereja, pesta dengan teman-teman, berkeliling kota melihat lampu-lampu Natal, menikmati jamuan khusus dan mendekorasi rumah. Akan tetapi, kebahagiaan yang paling berkesan bagi anak-anak adalah ketika berbelanja keperluan Natal di mal. Kami telah membicarakan dan merencanakannya berminggu-minggu sebelumnya, saling bertanya tentang apa yang akan dibeli, termasuk hadiah untuk kakek dan nenek. Tentu saja aku merasa khawatir. Tabunganku hanya 120 dolar untuk membeli hadiah bagi kami berlima.

Hari besar itu tiba dan kami sengaja bangun lebih pagi. Kepada keempat anakku aku memberikan uang pecahan dua puluh dolar per anak dan mengingatkan mereka agar membeli bingkisan yang masing-masing tidak lebih dari empat dolar. Kemudian mereka berpencar. Kami menyediakan waktu dua jam untuk berbelanja; dan berjanji akan bertemu lagi dekat patung hias Santa Claus.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, setiap orang larut dalam suasana Natal, tertawa sambil menggoda dengan petunjuk-petunjuk tentang bingkisan yang telah mereka beli. Anak perempuanku yang paling kecil, Ginger, yang ketika itu usianya kira-kira delapan tahun, entah mengapa tidak banyak bicara. Aku melihat bahwa sepulang acara belanja ia hanya membawa sebuah bungkusan kecil, tipis. Dari kantong plastiknya aku dapat melihat bahwa isinya permen yang harganya hanya lima puluh sen per buah!

Aku marah sekali. Aku ingin sekali menyemprotnya dengan, “Kau ke manakan dua puluh dolar yang telah Ibu berikan?” Tapi aku menahannya sampai kami tiba di rumah. Aku memanggilnya ke kamar, kemudian menutup pintu, siap untuk marah kalau saja ia tidak memberikan jawaban berikut:

“Aku sudah mencari ke mana-mana, bingung harus membeli apa. Tiba-tiba aku berhenti dan membaca kartu-kartu kecil yang digantungkan di “Pohon Derma” dari Bala Keselamatan. Salah satu kartu itu ditulis bagi seorang gadis kecil, empat tahun dan yang didambakannya sebagai hadiah Natal adalah sebuah boneka lengkap dengan pakaian dan sikat rambutnya. Maka aku mengambil kartu itu dan membelikan boneka lengkap dengan sikat rambutnya untuk anak itu dan aku bawa ke pos Bala Keselamatan. Uang yang tersisa hanya cukup untuk membeli beberapa batang permen untuk kita semua,” lanjut Ginger. “Tapi bukankah kita sudah berkecukupan, sedangkan dia tidak mempunyai apa pun.”

Aku tidak pernah merasa sekaya hari itu.

–Kathleen Dixon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s