Lagu Natal dari Desa di Gunung: Asal-Usul Lagu Malam Kudus

Standard

Kita tentu akan merasa ada sesuatu yang kurang kalau pada sebuah perayaan Natal tanpa menyanyikan lagu “Malam Kudus”. Lagu Natal favorit yang sangat sederhana, dan kita tidak perlu berselisih pendapat tentang terjemahannya. Lagu “Malam Kudus” merupakan sebuah lagu pilihan, karena dinyanyikan dan disenangi di seluruh dunia. Dan, nyanyian yang terkenal di seluruh dunia itu berasal dari sebuah desa kecil di daerah pegunungan negeri Austria. Inilah ceritanya..

Alat musik Orgel di gereja desa Oberndorf saat itu sedang rusak. Pementasan sandiwara Natal terpaksa dipindah ke rumah besar milik seorang kaya, karena bagian-bagian orgel itu masih berserakan di lantai ruang kebaktian. Josef Mohr, pendeta pembantu dari gereja itu juga diundang. Seusai drama Natal, Pendeta Mohr tidak langsung pulang. Ia mendaki sebuah bukit kecil yang dekat dengan desa itu. Dari puncak, ia memandang desa di lembah itu disinari cahaya bintang yang gemerlapan. Sungguh malam itu indah sekali, kudus, dan malam yang sunyi. Saat tengah malam, Pendeta Mohr menuangkan ke dalam bentuk syair tentang apa yang dilihat dan dirasakannya pada malam itu.

Keesokan harinya, pendeta muda itu pergi ke rumah Franz Gruber, yang adalah kepala sekolah di desa Arnsdorf dan juga merangkap pemimpin musik di gereja, serta memberi sehelai kertas kepadanya. “Ini hadiah Natal untukmu. Syair yang baru saya karang tadi malam.” Franz Gruber segera menyusun nada-nada untuk syairnya dan membuat aransemen khusus untuk lagu ciptaannya. Dengan diiringi gitar dan paduan suara, untuk pertama kalinya lagu “Malam Kudus” diperdengarkan di desa Oberndorf.

Lalu ada kisah tentang keempat gadis Strasser yang suka bernyanyi di pasar, sementara ayah mereka menjual sarung tangan buatannya. Tukang orgel yang tadi membetulkan di desa Oberndorf mampir ke rumah keempat Strasser bersaudara. Ia menyanyikan lagu Natal yang baru saja dipelajarinya dari kedua penciptanya di gereja desa itu. Sejak itu keempat Strasser bersaudara menyanyikan lagu “Malam Kudus”, yang mereka sebut “Lagu dari Surga”, dan umumnya lagu itu dikenal hanya sebagai lagu rakyat.

Sang raja yang ingin mengetahui siapa pengarangnya, sehingga mengirim seseorang untuk menyelidiki asal-usul lagu itu. Utusan tersebut nyaris pulang dengan tangan kosong, kalau tidak mendengar ada seekor burung peliharaan yang sedang bersiul, melantunkan lagu “Malam Kudus”. Seorang pemimpin koor anak-anak merasa bahwa ada salah seorang dari muridnya pernah melatih burung peliharaannya dengan lagu tersebut. Maka ia bersembunyi sambil bersiul-siul meniru suara burung tersebut ketika murid-muridnya berlatih, melagukan “Malam Kudus”. Lalu muncullah seorang anak laki-laki yang bernama Felix Gruber. Dan lagu yang dulu diajarkan kepada burung peliharaannya, ternyata ditulis oleh ayahnya sendiri, Franz Gruber.

Perang Dunia II berkecamuk pada tahun 1943 di seluruh daerah Lautan Pasifik. Beberapa minggu setelah hari Natal pada tahun itu, ada sebuah pesawat terbang Amerika Serikat mengalami kerusakan parah dalam peperangan, lalu terjatuh ke dalam samudra di dekat salah satu pulau milik Indonesia. Kelima awak pesawat itu luka-luka dan terapung di antara puing-puing pesawat. Beberapa saat kemudian, ada perahu penduduk lokal yang mendekat dan menolong mereka untuk naik ke dalam perahu itu. Penerbang bangsa Amerika itu ragu-ragu dan curiga. Orang-orang tersebut tidak dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Tidak ada jalan untuk mengetahui, apakah mereka jatuh ke dalam tangan kawan atau lawan.

Sesudah perahu itu mendarat di pantai, ada seorang penduduk pulau yang menyanyikan lagu “Malam Kudus”. Kata-kata dalam bahasa Indonesia itu masih terdengar asing di telinga para penerbang yang sedang keletihan dan penuh curiga. Tetapi mereka segera mengenali lagunya. Sambil tersenyum dan merasa lega, mereka ikut bernyanyi dalam bahasa mereka sendiri. Tahulah mereka sekarang bahwa mereka ada dalam tangan sesama orang Kristen yang akan melindungi dan merawat mereka.

Bagaimana kelanjutan kisah hidup dari kedua pencipta lagu “Malam Kudus”? Josef Mohr (1792-1848) dan Franz Gruber (1787-1863) terus melayani Tuhan selama bertahun-tahun dengan berbagai cara. Gereja kecil di desa Oberndorf itu pernah dilanda banjir bandang pada tahun 1899 hingga hancur. Di kemudian hari, dibangun gedung gereja yang baru di sana. Di sebelah dalamnya ada pahatan dari marmer dan perunggu yang mengingatkan orang-orang akan lagu “Malam Kudus”.

Pahatan itu menggambarkan Pendeta Mohr sedang bersandar di jendela, melihat keluar dari rumah Bapa di Surga. Tangannya dilekukkan di telinganya. Ia tersenyum sambil mendengar suara anak-anak di bumi yang sedang menyanyikan lagu Natal karangannya. Di belakangnya berdiri Franz Gruber yang juga sedang tersenyum sambil memetik gitar. Tepat sekali apa yang dilukiskan pahatan itu! Seisi dunia, juga seolah-olah seisi surga, turut mengumandangkan “Lagu Natal dari Desa di Gunung”.

–Andreas Sudarsono dan Doreen Widjana

[ Pernah dimuat di warta GMS Pusat, 25 Desember 2011 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s