Permintaan Terakhir Fabio

Standard

Ada dua keputusan penting dalam hidup: Menerima kondisi sebagaimana adanya, atau menerima tanggung jawab untuk mengadakan perubahan -Denis Waitley

Bau apek yang tak asing lagi langsung menyergap ketika Landon Tyler memasuki lorong batu itu. Kunjungannya ke tempat ini nyaris tak terhitung sejak ia dipindahtugaskan ke departemen pidana dua tahun lalu. Sebagai kota dengan tingkat kriminalitas tertinggi di Amerika Serikat, New Orleans memang membuatnya cukup sibuk sebagai seorang agen FBI. Walaupun demikian, enam bulan terakhir ini adalah bulan-bulan yang paling menyiksa dan melelahkannya–jiwa dan raga.

Mengejar dan menyeret Fabio Joaquin, pimpinan mafia terbesar di New Orleans, ke pengadilan memang bukan perkara mudah. Sekalipun jejak kejahatan Fabio ada di mana-mana dan banyak warga menjadi korban gengnya–entah dibunuh, (maaf) diperkosa, dirampok, ditipu atau dijerat dalam kecanduan narkoba–Landon tahu bahwa ia sedang bertempur melawan sistem kejahatan terencana yang paling mematikan sepanjang kariernya. Sekarang, setelah semua siasat dan adu tembak yang menewaskan beberapa anak buahnya, Landon berhasil menjebloskan ke penjara bawah tanah ini. Pengadilan telah memutuskan bahwa Fabio terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Dua hari lagi malaikat maut akan menjemputnya di arena tembak New Orleans, sebuah lapangan sunyi yang hanya ditumbuhi ilalang dan rumput liar.

“Hei, jagoan,” sahut suara itu–Fabio Joaquin–dari balik jeruji. Landon mendesah dan menatap penjahat legendaris itu. Dengan segera matanya yang sebiru langit beradu pandang dengan sorot setajam mata elang yang agak berkabut. Seringai yang mengesalkan itu muncul lagi di wajahnya, namun Landon menangkap satu ekspresi lain yang selama ini tak pernah dilihatnya: Kesedihan. Ekspresi yang sepertinya senada dengan kesuraman penjara ini–dengan titik-titik air yang bertetesan dari langit-langit dan sarang laba-laba yang menghiasi setiap sudut ruangan.

“Kenapa kau memanggilku, Fabio?” Tanya Landon tanpa banyak berbasa-basi, “tidak seperti dirimu yang biasanya.” Fabio terbahak. Suara tawanya pun menggema di ruangan itu. “Dari semua orang, kaulah yang paling mengerti diriku,” katanya setelah berhasil menenangkan diri, “tapi kau tahu, Mr. Tyler, layaknya orang yang menjelang kematiannya, aku hanya ingin menceritakan sesuatu dan meminta satu hal padamu–sebut saja itu permohonan terakhirku.” Landon terkejut, tak menyangka kalau justru perkataan itu yang akan keluar dari mulut penjahat ini. Matanya menyipit dan memandangnya tak percaya. “Kau tidak sedang merencanakan akal-akalan busuk, kan?” Tanyanya curiga.

“Tentu tidak, Mr. Tyler,” jawab Fabio sambil tersenyum, “bagaimana mungkin aku melakukannya saat ajalku akan menjemput? Aku hanya ingin bercerita, bolehkah?” Sejenak Landon berpikir dan ia pun duduk di lantai penjara, persis di hadapan jeruji sel Fabio. “Baiklah, apa itu?” Fabio juga ikut duduk bersandar pada dinding selnya dan melayangkan pandang ke arah jendela kecil di atas tembok, tempat cahaya matahari biasanya menyelinap masuk di pagi hari. Ia pun memulai ceritanya:

“Dulu sekali … tiga puluh tahun lalu, aku dibesarkan dalam keluarga yang mengerikan. Ayahku sangat jahat. Nyaris setiap hari ia pulang ke rumah dalam kondisi mabuk dan menghancurkan barang-barang di rumah kami. Kalau ia kalah berjudi, situasinya akan menjadi makin parah. Ia akan memukuli kami, anak-anaknya, satu persatu. Tapi bagiku itu tak mengapa, asal ia tidak memukul ibu kami lagi. Aku…” ia mengambil jeda sejenak, “aku sangat mencintai ibuku dan tak ingin dia terluka. Meski waktu itu aku masih sangat kecil, aku tahu kalau perilaku ayah yang tak tahu diri itu sangat menyakiti hatinya, terutama saat ayah makin sering membawa wanita lain ke rumah. Ia selalu mengusir ibu dari kamar mereka dan menyuruhnya tidur di beranda.”

Fabio menyeka air mata yang mulai membanjiri pipinya, di bawah tatapan keheranan Landon. “Ayah tidak hanya menyakiti kami dengan kekerasab fisik. Seumur hidupnya, tak pernah satu kali pun ia mengucapkan kata-kata sayang atau apa pun yang menunjukkan kalau ia peduli pada kami. Ia–lelaki jahat itu–memaki kami setiap saat, menyebut kami ‘kutu tak berguna’, ‘anak jahanam’ dan sebutan tak pantas lainnya. Kalau saat ini aku menjadi orang yang seperti ini, semua itu adalah salah ayahku!” Teriak Fabio dengan suara gemetar.

Tanpa mengatakan apa pun, Landon mengangguk. Rasanya ia mulai memandang Fabio dengan perspektif yang baru. Tak disangka, di balik perawakannya yang kejam, tersimpan hati yang rapuh dan tersakiti. Diam-diam Landon jadi mengerti mengapa Fabio menjadi seperti sekarang ini. “Aku turut menyesal, Fabio,” kata Landon akhirnya. Fabio mengebas-ngebaskan tangannya di udara. “Sudahlah, Mr. Tyler,” sahut Fabio. “Aku ingin memintamu melakukan sesuatu, bolehkah? Tenang saja, aku takkan meminta macam-macam. Aku hanya…” “Apa itu, Fabio?” Sela Landon, “kuharap yang kauminta bukan kunci sel ini.” Fabio tertawa terbahak-bahak lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.

“Kau memang pandai bergurau, Mr. Tyler,” katanya sambil berusaha menahan rasa geli yang menyerangnya tiba-tiba. “Begini, aku punya seorang saudara kembar dan ia tinggal di Roma–seorang pengusaha sukses. Bisakah kau menghubunginya dan mengabarkan kalau aku ada di sini? Sebelum kematian menjemputku, aku ingin sekali bertemu dengannya untuk terakhir kali.” Landon mengangguk, “Akan kuusahakan, Fabio,” janjinya, “Semoga diterima di sisi-Nya dan keluarga yg ditinggalkan diberi kekuatan, ketabahan dan segala keperluannya dicukupkan oleh Tuhan.. Aminn.. Ia tidak datang terlambat.” “Terima kasih, Mr. Tyler,” ucap Fabio tulus, yang berhasil membuat Landon terhenyak. Mungkin memang hanya malaikat maut yang bisa mengubah hati seorang penjahat, pikirnya sambil geleng-geleng kepala.

Bagaimanapun, Landon adalah pria yang selalu menepati janjinya. Ia segera menghubungi saudara kembar Fabio, seorang pengusaha properti yang sukses di Roma. Suara di ujung telepon itu terdengar sangat terkejut dan ia berjanji akan mengejar penerbangan terakhir malam ini agar bisa sampai di New Orleans keesokan paginya. Untunglah Tuhan berpihak padanya dan persis di jam yang dijanjikan, Raphael Joaquin muncul di penjara itu. “Mr. Tyler,” sahutnya ramah, “terima kasih kasih sudah memberitahu saya.”

Raphael mengulurkan tangan pada Landon, yang nyaris tak menyambutnya karena terlalu terkejut. Memang tak salah jika dibilang saudara kembar–mereka berdua sangat mirip! Meskipun wajah Raphael tidak ditumbuhi brewok dan mulus tanpa bekas luka, siapa pun yang melihatnya pasti akan mengira kalau ia adalah Fabio yang sedang menyamar. Untung saja ia berbisnis di Roma, pikir Landon, kalau tidak, kami bisa salah tangkap. Landon pun membawa pria itu ke sel Fabio dan menyaksikan sendiri bagaimana dua saudara kembar itu terisak-isak, menangisi pertemuan mereka yang pertama dalam dua puluh tahun terakhir ini.

Diam-diam Landon jadi ikut terharu, maka ia pun mengawasi dari kejauhan agar Perez–sipir penjara yang saat itu menemani mereka dan kebetulan adalah penggosip sejati–tidak melihat matanya yang berkaca-kaca. Sejam kemudian Raphael pun kembali, diiringi oleh sang sipir penjara. Waktu berkunjung sudah usai dan mau tak mau ia harus meninggalkan saudaranya. Lelaki itu masih sesenggukan dan Landon pun mengajaknya pergi minum kopi sebentar.

“Anda pesan apa, Mr. Joaquin?” Tawarnya ketika mereka berdua duduk di Eustoria, kafe kecil bernuansa Paris yang terletak tak jauh dari penjara. Saat itu masih belum banyak pengunjung yang datang, dan C’est pour toi, lagu berbahasa Prancis yang dilantunkan Celine Dion mengalun lembut memenuhi ruangan. “Espresso saja, Mr. Tyler,” jawabnya sambil tersenyum tipis, “terima kasih sudah mengajakku ke sini. Aku memang butuh sedikit ketenangan.” “Terima kasih kembali, Mr. Joaquin,” sahut Landon lembut, “aku turut menyesal atas saudara Anda. Kemarin ia menceritakan betapa pahitnya masa kecil kalian dulu.”

“Oh ya,” sahut Raphael, “boleh dibilang kami memang tak beruntung mendapatkan seorang ayah yang kejam. Karena itu, ketika ayah kami meninggal sepuluh tahun lalu–tepat saat kami lulus dari sekolah menengah atas–aku berjanji pada diriku sendiri: Aku takkan menjadi orang seperti ayah.” Ia menghela napas dan pandangannya pun menerawang jauh. “Karena itu, ketika bertemu Fabio tadi, aku tak bisa menyembunyikan kesedihanku. Aku .. sangat menyayangkan, mengapa Fabio memilih untuk menjadi seperti ayah.”

Ketika pesanan mereka datang, baik Raphael maupun Landon menikmatinya dalam diam. Dua orang yang berwajah sama–Raphael dan Fabio–dibesarkan dalam keluarga yang sama, juga menempuh pendidikan yang sama, namun menanggapi kehidupan dengan cara yang sangat berbeda. Anda selalu bisa menentukan sikap terhadap kehidupan. Baik menjadi korban keadaan maupun pemenang, pilihan ada di tangan Anda.

–Disadur dari buku “A Chapter of Kindness”
Copyright oleh Transformer Community

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s