Sejarah Natal

Standard

Sejarah dunia mencatat bahwa kisah kelahiran Yesus terjadi sekitar tahun “0” dalam penanggalan Gregorian. Bukan tanpa arti kalau dunia mengakui bahwa sebelum tahun  “0” disebut sebagai BC (Before Christ) dan sesudahnya disebut AD (Anno Domini=Tahun Tuhan), atau bila digabung mengungkapkan bahwa Yesus adalah “Kristus dan Tuhan.” Sekalipun ada usaha menghilangkan arti religious dari BC yang diganti BCE (Before Common Era) dan AD diganti CE (Common Era). Namun baik Discovery, BBC maupun National Geographic masih sering menggunakan istilah BC dan AD.

Dalam Injil Matius 1:18-2:11 dan Lukas 2:1-20 ada peristiwa di mana Kaisar Agustus mengeluarkan perintah sensus, penduduk harus mendaftar ulang di tempat asal kelahiran mereka. Dari sejarah kita mengetahui bahwa kaisar Agustus memerintah sekitar tahun 30SM–14M. Alkitab juga memberitakan waktu Yesus dilahirkan, Yudea diperintah Herodes Agung (37–4SM) yang memerintahkan untuk membunuh bayi-bayi di Betlehem (Matius 2:16-18). Dari data ini kita mengetahui bahwa waktunya tidak lebih lambat dari tahun 4SM. Dan karena Herodes meninggal tidak lama setelah kelahiran Yesus, maka kemungkinan Yesus lahir antara tahun 6–4SM, dan bukan pada tahun “0” Gregorian.

Tanggal dan Bulan Yesus Dilahirkan

Benarkah tanggal 25 Desember? Kelihatannya bulan dan tanggal itu tidak tepat, karena pada bulan Desember–Januari di Palestina iklimnya cukup dingin dengan beberapa tempat bersalju sehingga tidak mungkin ada bintang yang terang di langit dan para gembala bisa berada di padang Efrata dalam keadaan musim demikian (Lukas 2:8). Demikian juga tentunya Kaisar Agustus tidak akan mengeluarkan kebijakan sensus dan menyuruh penduduk Yudea melakukan perjalanan jauh kembali ke kota kelahiran dalam suasana dingin yang mencekam sehingga Maria yang hamil besar juga harus melakukannya.

Yesus dilahirkan kemungkinan di bulan Mei-Juni. Berdasarkan Lukas 1:26 dikatakan: “Dalam bulan yang ke enam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret.” Karena di zaman Yesus berlaku bulan pertama adalah bulan Maret, maka 6 bulan ke depan berarti bulan Agustus. Dari Agustus hitung 9 bulan Yesus dikandung maka jatuh antara bulan Mei-Juni. Ada juga yang beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada bulan Tishri (September – Oktober) yaitu pada hari Raya Pondok Daun di mana iklimnya juga menunjang. Argumentasi ini didasarkan waktu penugasan imam besar Zakharia masuk ke Bait Allah adalah sekitar bulan Siwan (Mei–Juni) dan dengan memperhitungkan lama kandungan Elizabeth dan Maria.

Mengapa Dirayakan Tanggal 25 Desember?

Umat Kristen abad pertama tidak merayakan Natal. Bagi mereka Kekristenan berpusat pada: Rangkaian pengajaran Yesus, perjamuan malam menjelang hari penyaliban dengan puncak kebangkitan Tuhan Yesus yang dikenal sebagai hari Paskah. Sejak abad ke-3, gereja Timur (Orthodox) merayakan hari Epifani (manisfestasi) pada tanggal 6 Januari untuk merayakan hari pembaptisan Yesus di sungai Yordan yang sekaligus mencakup peringatan akan kelahiran-Nya. Perayaan Epifania masih dirayakan gereja Timur hingga kini dengan memberkati air baptisan dan sungai Yordan. Di gereja Barat, hari Epifani juga dirayakan untuk mengingat kunjungan para Majus dan untuk mengenang peristiwa  sekitar manifestasi kelahiran Yesus di Betlehem.

Pada tahun 274 di Roma, Kaisar Aurelius menetapkan dimulai perayaan hari kelahiran Matahari pada tanggal 25 Desember sebagai penutup Festival Saturnalia (17-24 Desember) karena di akhir musim salju Matahari mulai menampakkan sinarnya pada hari itu. Kenyataan ini mendorong pimpinan gereja di Roma mengganti hari perayaan “kelahiran Matahari” itu menjadi perayaan “kelahiran Matahari Kebenaran” dengan maksud mengalihkan umat Kristen dari ibadat kafir pada tanggal itu dan kemudian menggantinya menjadi perayaan Natal sebagai pengganti perayaan Epifani pada tanggal 6 Januari.

Pada tahun 336, perayaan Natal mulai dirayakan tanggal 25 Desember. Ketentuan ini diresmikan Kaisar Konstantin yang menjadi raja dari agama Kristen. Perayaan Natal tanggal 25 Desember kemudian dirayakan di Anthiokia (375), Konstantinopel (380), dan Alexandria (430), kemudian menyebar ke tempat-tempat lain. Dari kenyataan sejarah ini, kita mengetahui bahwa Natal bukanlah perayaan dewa Matahari, namun usaha dari pimpinan gereja untuk mengalihkan umat Roma dari dewa Matahari kepada Tuhan Yesus Kristus.

Tradisi Natal

Pengaruh tradisi dalam sejarah selalu mempengaruhi kepercayaan seseorang, dan tidak ada satu agama pun yang bebas dari tradisi. Mengaitkan hari Natal dengan Santo Nicholas juga tidak perlu berlebihan karena pemberian hadiah kepada anak-anak oleh Santa Klaus hanya merupakan salah satu ungkapan kasih Kristiani yang sebenarnya tidak berkaitan dengan hari Natal. Pemberian hadiah juga bukan analogi hadiah orang Majus melainkan ungkapan kasih Kristus kepada anak-anak.

Apalagi tradisi Natal sering dibumbui dengan tradisi mitos rakyat Norwegia mengenai dewa Odin yang biasa menaiki kereta ditarik 7 ekor rusa kutub yang bisa terbang. Di negeri Belanda, Sinterklaas dirayakan pada tanggal 5 Desember yang bermotif perbudakan dengan budak Zwarte Piet yang membawa cambuk. Di Amerika Serikat tradisi Natal dicampur-adukkan menjadi figur Santa Klaus. Di dunia komersial, perayaan Natal sudah menjadi hari libur, belanja internasional dan menjadi bisnis besar di mana orang-orang saling memberi hadiah sebagai ungkapan kasih sayang di akhir tahun.

Makna Natal Sebenarnya

Makna Natal sebenarnya adalah, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Makna Natal bukanlah pada Yesus lahir tanggal dan bulan berapa, melainkan pada misinya yaitu: Firman yang telah menjadi daging. Perayaan Natal merupakan peringatan supaya Kristus lahir dalam hati kita dan agar tahun demi tahun hubungan pribadi itu berkembang, sehingga dengan demikian mengubah diri kita dari dalam hati. “Seandainya Yesus dilahirkan seribu kali di Betlehem, tetapi bukan di dalam hati, Anda tetap tidak dapat diselamatkan.”

Kelahiran sang Mesias, Juruselamat umat manusia patut kita renungkan dan syukuri. Tetapi untuk merayakannya, itu diserahkan kepada kita masing-masing orang percaya dan bergantung pada pertumbuhan rohani serta pengenalan kebenaran masing-masing. Ini dikarenakan bahwa tidak ada anjuran ataupun teladan dalam Alkitab untuk merayakan hari ini.

–Disadur dari sumber email

[ Pernah dimuat dalam Buletin Phos, 25 Desember 2011 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s