My Last Love

Standard

Di bawah ini adalah sebuah kisah cinta yang terjalin antara Angel seorang gadis lumpuh dan Martin seorang penderita AIDS. Bagaimana melalui hidup yang dijalani, mereka berusaha untuk menunjukkan pada dunia bahwa tidak ada yang berbeda dengan hidup mereka. Sekalipun memiliki kekurangan secara fisik, mereka tetap manusia biasa sama seperti kita dan berusaha untuk diakui sebagai bagian dari masyarakat.

Tentang Angel..

Adalah seorang gadis yang baru berusia 23 tahun. Dia bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan seluler. Ia memiliki seorang kekasih yang bernama Hendra. Pada suatu hari, Angel begitu bergembira saat pulang dari tempat kerjanya dan sesampainya di rumah ia segera memeluk Ibunya.

“Bu, Hendra akan melamarku pada malam ini. Dan kami akan bertemu di taman kota, tempat di mana kami pertama kali bertemu,” demikian kata Angel kepada Ibunya.
“Bagaimana kamu bisa begitu yakin, nak?”
“Tentu saja aku yakin bu, sebab kami sudah jauh-jauh hari merencanakan hal tersebut. Dan Hendra berkata bahwa malam ini adalah malam yang tepat untuk melamarku..”
“Kalau begitu lekaslah kamu pergi dan segera bergantilah pakaian terbaikmu..”

Angel begitu bergembira pada malam itu. Malam yang telah ia tunggu-tunggu selama mereka berpacaran hampir lebih dari waktu tiga tahun, kini akan menjadi puncak dari kisah asmara yang telah mereka jalin selama ini.

Tentang Martin..

Martin adalah seorang laki-laki muda yang berusia 25 tahun dan merupakan pria playboy yang terlahir dari keluarga jutawan. Saat itu jam telah menunjukan pukul 7 malam. Tiba-tiba di pintu kamarnya terdengar ada sebuah ketukan. Martin yang saat itu sedang tertidur pulas, segera bangun dari tidurnya dan membuka pintu dengan wajah kesal. Tampak terlihat ada seorang ajudan Ayahnya yang sedang berdiri berada di depan pintu.

“Ada apa sih? Mengganggu tidur orang saja!”
“Maaf Tuan, Ayah Anda sudah menunggu di ruang tamu untuk acara makan malam keluarga.”
“Bilang padanya, aku akan berada di bawah sebentar lagi,” kata Martin tidak berani melawan perintah Ayahnya.

Ajudan itu pergi meninggalkan Martin yang segera merapikan mukanya yang kusut, karena pada malam sebelumnya ia baru pergi dugem dan baru pulang pada pukul tujuh pagi. Setelah rapi, ia pun segera langsung menuju ke bawah, menemui Ayahnya yang sudah duduk di meja makan. Bersama Ibu dan adiknya Sheila. Dan Martin duduk begitu saja..

“Beginikah cara kamu membesarkan anakmu? Pagi jadi malam dan malam jadi pagi?” kata Ayahnya dengan ketus.
“Sudahlah pak, Martin ayo makan..” kata Ibunya yang berusaha meredam emosi sang Ayah.

Dengan setengah hati Martin pun makan. Tetapi baru saja mencicipi sedikit makanan, ia sudah pergi menghilang meninggalkan acara makan malam tersebut. Martin pergi dengan mobil BMWnya menyusuri jalan yang sudah penuh dengan gemerlap lampu yang berwarna-warni. “Ayahku adalah seorang yang kaya raya, buat apa aku harus susah-susah berkerja keras? Selama tujuh turunan pun harta kekayaan Ayahku tidak akan pernah habis,” demikian gumam Martin. Lalu tak lama kemudian ada seorang gadis yang menelepon handphonenya. Tampak gadis itu adalah incarannya untuk malam ini. Mereka sedang asyik berbicara bersama, sambil mobil melaju cukup kencang.

Kembali ke Angel..

Ibunya sudah berdiri di depan pintu. Angel menyalakan motor Vespa-nya, siap pergi, lengkap dengan pakaian terbaiknya.

“Aku pergi dulu ya, bu..”
“Kenapa kamu tidak minta dijemput saja?” tanya Ibunya.
“Tidak apa-apa bu, Hendra langsung bertemu denganku setelah dia pulang dari pekerjaannya. Takutnya nanti bertemu kondisi macet di jalan. Lagi aku ingin pergi secara masing-masing saja, bu. Jadi tinggal bertemu di sana.”
“Ya sudah nak.. Hati hati di jalan yaa..”

Angel pun segera melajukan sepeda motornya, sambil membayangkan apa yang akan terjadi di hari terindahnya..

Kembali kepada Martin..

Martin tampak puas tertawa, gadis itu telah membiuskan kata-kata indah di telinganya. Ia dapat memberikan apapun yang diinginkan oleh gadis yang disukainya. Ia rela memberikan uang , permata maupun emas. Saat ia mengemudikan mobilnya, ia tidak menyadari bahwa lampu traffic light telah berubah menjadi berwarna merah dan ada sebuah Vespa yang melintas. Martin terkejut. Mobilnya melaju begitu kencang dan menabrak vespa itu sehingga pengendaranya terpental 10 meter jauhnya. Yang ia ingat hanyalah pemandangan seorang gadis yang terkujur kaku di jalan. Hatinya risau. Apakah ia harus melihat korban itu atau melarikan diri. Tetapi yang berada di pikirannya hanyalah bila ia mendekat, maka ia akan membuat masalah dengan dirinya sendiri di antara kerumunan orang yang mulai bersimpati dan mendekati korban.

Ia pun memutuskan satu kenyataan–lari dari kejadian itu.

Tentang Hendra..

Ia menunggu tanpa adanya kejelasan di taman. Ia mencoba menelepon handphone Angel berulang-ulang, tetapi sama sekali tidak diangkat. Satu jam berlalu, hatinya pun mulai cemas. Ia berpikir bahwa Angel telah menolak lamaran yang telah diajukannya. Ketika Hendra berusaha menelepon untuk terakhir kalinya, ia mendapatkan ada suara orang asing yang menjawab. Ada suara seorang pria yang mengatakan bahwa gadis yang memiliki handphone itu sedang dirawat dalam Ruang Unit Gawat Darurat, dikarenakan korban kecelakaan. Ia pun segera menuju ke Rumah Sakit dan menyimpan cincin tunangan untuk Angel di saku bajunya. Saat ia tiba, tampak terlihat bahwa Ibu Angel sedang berdiri menanti di Ruang Tunggu, dengan tangisan khawatir yang tiada henti-hentinya membasahi pipinya.

Kembali ke Martin..

Ia pun mulai sadar bahwa banyak saksi yang telah melihat plat nomor mobilnya. Ia segera menceritakan masalah ini kepada Ayahnya. Sang Ayah meminta ia untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya, tetapi Ibunya menolak dengan keras. Yang ada di pikiran Ibunya saat itu adalah putranya bisa terkena masalah yang serius dan dapat dipenjara bila menyerahkan diri. Satu keputusan yang kurang tepat muncul pada saat itu juga, Martin harus segera pergi ke luar negeri. Melarikan diri dan segera membuat alibi bahwa mobilnya saat itu dikemudikan oleh orang lain. Dengan uang Ayahnya yang berlimpah, ia dapat membayar orang lain untuk berpura-pura mengaku melakukan perbuatan yang Martin telah lakukan: Menabrak seorang gadis yang sedang berbahagia pada malam itu, karena hendak dilamar oleh kekasihnya.

Hari Natal saat itu terlewatkan dengan masalah yang serius di antara ketiga orang tersebut. Hendra bersedih dengan keadaan yang dialami oleh kekasihnya. Angel tidak pernah tahu bagaimana keadaan dirinya, karena masih belum sadar sedang berada di Rumah Sakit. Martin melarikan diri dengan rasa gundah gulana dan merasa bersalah.

Dua bulan berlalu..

Angel masih berada di rumah sakit. Ia mulai sadar, tetapi kakinya telah dinyatakan “hilang”. Ia harus mengalami kelumpuhan di kedua kakinya. Hendra yang tetap menemani kekasihnya berusaha untuk memberikan dukungan batin dan kekuatan yang tidak bisa Angel bayangkan untuk hidup. Angel pun berusaha menerima kenyataan bahwa kini ia mengalami kelumpuhan.

Martin yang sedang berada di Australia, menghabiskan hari-harinya dengan minum-minuman keras, berusaha untuk melepas kegelisahan dan perasaan bersalah di hatinya.

Enam bulan berlalu..

Angel mencoba berdiri untuk pertama kalinya dari kursi roda bersama dengan Hendra yang berdiri di sampingnya berusaha untuk menopang kaki Angel untuk berjalan. Walaupun merasa berat di hatinya, Angel tersadar bahwa ia tidak akan pernah menjadi “normal” sama seperti sesamanya yang dapat berjalan dengan kedua kakinya.

Hati Martin semakin gelisah, ia ingin segera pulang. Ibunya pun berkata kepadanya untuk menunggu hingga enam bulan ke depan. Hanya ada satu orang yang ia ingin tanyakan..

“Ibu bagaimana keadaan korban yang dulu aku tabrak?”
“Dia tidak mati, dia masih hidup..”
“Syukurlah, tapi aku tetap ingin tahu dan melihat bagaimana keadaan dirinya, bu..”
“Kamu akan tahu keadaannya bila kamu pulang, lebih baik kamu tetap berada di sana hingga kasus ini ditutup.”

Satu tahun berlalu..

Angel mulai terbiasa berjalan dengan menggunakan dan menggerakkan kursi roda melalui tangannya. Lalu Hendra berinsiatif mengajaknya untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Ketika Angel sedang duduk di sofa ruang tamu di rumah keluarga Hendra, tanpa disengaja ia mendengar apa yang ibu Hendra katakan di bagian dalam rumah,

“Ibu tidak ingin memiliki menantu yang lumpuh dan cacat seperti itu!”
“Ibu kenapa berkata seperti itu? Bagaimanapun dia adalah Angel yang sama, sama seperti saat aku membawanya pertama kali dan memperkenalkan kepada Ibu..”
“Tetapi sekarang keadaan telah berbeda. Ia sekarang telah menjadi gadis yang cacat! Bukan lagi gadis cantik yang dahulu kamu pernah bawa dan perkenalkan kebada Ibu!”

Keduanya berbicara begitu keras dan tanpa disengaja, Angel telah mendengar semua yang dikatakan Ibu Hendra. Ketika Hendra dan Ibunya kembali ke ruang tamu, Angel telah mengatakan satu hal yang begitu berat di hatinya,

“Maafkan aku, mulai saat ini aku akan melepas Hendra untuk selamanya. Dan aku berjanji tidak akan mengganggu hidup kalian lagi..”

Hendra berusaha untuk tetap bertahan, tetapi karena merasa bahwa ia tidak memiliki pilihan lain, akhirnya ia pun menerima keputusan Angel dengan berat hati.

Martin pun telah kembali setelah ia mendapat kepastian bahwa kasusnya telah selesai dengan keputusan orang lain yang telah bersedia mengantikan dirinya berada di balik penjara.

***

Angel mencoba untuk bekerja dengan normal. Tentunya ia tidak akan ditolak untuk bekerja kembali di kantor lamanya, tetapi dengan kaki yang harus mengunakan kursi roda, ia sering merasa seperti seorang yang tak berguna, yang bisanya hanya merepotkan siapapun di sekitarnya. Ketika ingin naik escalator ataupun naik tangga semuanya terasa berat. Setiap malam ia hanya bisa menangis melihat keadaannya. Ibunya yang melihat keadaan yang dialami oleh putrinya, hanya dapat berharap agar Tuhan selalu memberikan kekuatan untuk anak semata wayangnya setelah ayah Angel meninggal.

Martin telah berhasil mendapatkan segala info yang ia ingin tahu, info tentang korban yang selalu terbayang di dalam pikirannya. Dari nara sumber informasinya, telah memberitahu di mana letak dari kantor Angel. Ia segera pergi menuju kantor tersebut dan segera menemukan kenyataan bahwa kantor di mana Angel bekerja merupakan bagian dari perusahaan yang dimiliki oleh Ayahnya. Sesampainya di dalam kantor tersebut, Martin melihat Angel yang tampak berusaha dengan keras untuk naik tangga. Hatinya tergerak untuk mendekat. Membantu mendorongkan kursi rodanya.

“Terima kasih,” kata Angel kepadanya.

Martin terdiam. Hatinya begitu pilu melihat Angel yang begitu cantik tetapi harus duduk di kursi roda karena tindakannya.

“Tidak masalah,” kata Martin.
“Kamu bekerja di kantor ini, di lantai berapa?”
“Saya di lantai 3, kamu?” tanya Angel balik.

Martin pun bingung menjawab pertanyaan dari Angel. Ia tidak pernah bekerja sehingga akhirnya mengarang sebuah kisah.

“Aku baru bekerja di sini, di lantai dua,” kata Martin.
“Oh ya? Hm.. Andai saja aku bekerja di lantai satu, pasti aku tidak perlu merepotkan orang sampai seperti ini. Aku jadi merasa tidak enak hati..” kata Angel.

Meraka tiba di escalator. Sekali lagi Angel mengucapkan terima kasih kepada Martin yang saat itu pulang dengan wajah bersedih. Ia menangis melihat akibat dari perbuatan yang telah ia lakukan pada Angel. Ia pulang ke rumah Ayahnya, menceritakan apa yang telah ia alami, dan meminta sebuah pekerjaan di kantor itu. Ayahnya begitu heran dengan sikap putranya tetapi menerima keputusan Martin. Ia langsung menjadi Direktur dalam perusahaan itu. Dalam satu hari ia memutuskan untuk memindahkan kantor di mana Angel bekerja dari lantai 3 ke lantai 1. Martin memutuskan untuk berusaha mendekati Angel, sambil mencoba untuk mencari waktu yang tepat guna mengatakan satu kejujuran yang tak pernah bisa ia ucapkan hingga saat ini. Tentang hal yang membuat Angel mengalami kondisi hingga menjadi seperti saat ini.

Dari hari ke hari, hubungan mereka menjadi semakin dekat. Martin membuat banyak kemudahan di kantor untuk Angel agar bisa mengunakan kursi rodanya secara bebas. Ia makan bersama Angel di kantin yang tidak pernah ia jamah sebelumnya. Martin melihat sosok Angel sebagai seorang yang berhati mulia, sebuah sosok yang rendah hati dan menerima kenyataan hidupnya sebagai gadis cacat. Pada suatu hari, karena bosan, Martin mengajak Angel untuk makan di luar.

“Makan denganku di luar? Apakah tidak salah? Kamu kan Direktur di perusahaan ini?” jawab Angel.
“Emangnya Direktur tidak boleh ya makan bersama kamu?” jawab Martin.
“Bukan begitu, aku hanya takut merepotkan pak Direktur bila jalan-jalan bersamaku. Kota ini tidak ramah dengan seorang yang memakai kursi roda sepertiku, aku tidak ingin merepotkan pak Direktur bila jalan bersamaku sehingga harus mendorong kursi ini,” kata Angel berusaha menjelaskan.
“Tenang saja.. Ayo katakan, apa yang ingin kamu makan? Ini perintah dari Direktur, jangan ditolak..”
“Baiklah. Aku ingin makan masakan Jepang. Sudah lama aku tidak pernah makan di sana,” jawab Angel.
“Oke. Kalau begitu ayo kita makan di sana siang ini..”

Mendengar Angel yang ingin makan masakan Jepang, Martin langsung meminta ajudan Ayahnya untuk membooking semua kursi yang ada di restoran tersebut hanya untuk mereka. Ketika Angel tiba restoran tersebut, ia terkejut melihat hanya ada mereka berdua. Ia hanya mendengar kata terakhir Martin..

“Makanlah semua yang kamu inginkan..”

Mereka pun makan dengan lahap. Martin begitu menikmati keberadaan dirinya saat bersama dengan Angel, hingga mereka menyadari kalau hari Natal akan datang dalam beberapa minggu lagi.

“Kalau saat Natal nanti tiba, apa yang kamu inginkan Angel?”
“Saat Natal tiba, aku selalu meminta banyak hal. Tetapi sayangnya, permintaan terakhirku tidak pernah terjadi.”
“Kalau begitu katakan lah, aku ingin tau..” jawab Martin penasaran.
“Sungguh kamu ingin tahu?” tanya Angel.
“Tentu saja aku ingin tahu.. Ayolah sebutkan..”
“Aku ingin dapat berjalan lagi..” jawab Angel dengan semangat.

Martin tertegun mendengarnya. Hatinya miris dan wajahnya tertunduk. Tadinya ia berpikir bahwa ia ingin memberikan sebuah hadiah kepada Angel, apapun yang Angel inginkan. Kini setelah mendengar permintaan yang sulit itu, ia bersedih.

“Adakah hal lain yang dapat kamu minta selain itu?”
“Tidak ada. Aku tidak ingin meminta soalnya. Kamu tahu tahun lalu ketika aku sudah meminta suatu permintaan, eh tiba-tiba malah tidak pernah terjadi..” jawab Angel.
“Kalau boleh tahu, tahun lalu kamu meminta apa?”

Angel tertunduk, ia sadar bahwa Natal pada tahun lalu begitu kelabu. Di mana malam saat Hendra akan melamarnya, lalu terjadilah kecelakaan tersebut, dan semua benar-benar gagal.. “Aku tidak bisa mengatakannya. Itu sudah menjadi masa laluku yang ingin aku lupakan. Kalau kamu? Katakan dong apa yang kamu mau?”

Martin mendekat kepada Angel, matanya tampak serius..

“Aku tidak ingin apa-apa selain hanya bisa melihatmu tersenyum. Itu sudah cukup buatku..”

Angel pun tertawa. Mereka melewatkan makan siang itu dengan begitu gembiranya. Setelah makan siang, Angel turun ke lobby. Saat itu Martin menggendong tubuh Angel masuk ke dalam mobil. Tanpa disengaja, Angel melihat Hendra sedang bersama dengan wanita lain, melewati mereka. Angel terdiam melihat mantan kekasihnya, begitu pula dengan Hendra. Hanya Martin dan kekasih Hendra yang tidak mengerti apa yang membuat keduanya saling bertatapan. Hendra berjalan dan masuk ke mobil. Angel melihat Hendra pergi darinya. Ketika Angel berada di dalam mobil Martin, ia menangis. Martin begitu bingung dan bertanya ada apa gerangan yang telah terjadi. Angel pun menceritakan satu hal tentang Natal pada tahun lalu dan harapannya..

“Aku ingin menikah, tetapi keluarga dari kekasihku tidak mau menerimaku karena aku sudah menjadi cacat..”

Martin hanya dapat terdiam, hatinya semakin tak berdaya.

****

Hari Natal telah tiba. Martin memberikan hadiah kepada Angel, sebuah hadiah yang mungkin terlalu berharga untuknya: Kalung berlian di leher Angel. Martin menyadari suatu hal, ia mulai mencintai Angel. Ada yang harus ia katakan di acara makan malam Natal bersama mereka. Di atas meja makan dengan lilin menyala, Martin menyatakan cintanya kepada Angel.

“Apakah kamu yakin ingin menjadi kekasih dari seorang gadis cacat sepertiku?”
“Aku berjanji dalam hatiku kalau, aku bersungguh hati ingin menjadi bagian dalam hidupmu Angel, apapun yang terjadi dengan keadaanmu, kamu adalah gadis yang kuinginkan dalam hidupku, sekarang dan selamanya.”

Kalimat itu membuat Angel begitu bahagia, walau sebenarnya ia agak ragu pada awalnya. Tetapi Martin benar-benar membuktikan satu hal kepada Angel: Ia benar-benar mencintai gadis itu. Mereka pun berpacaran secara resmi. Keluarga Martin yang tidak pernah melihat perubahan hidup yang nyata. Suatu ketika di malam hari, Angel merasakan kuasa Tuhan, tiba-tiba jari kakinya mampu bergerak. Ia mulai menyadari satu hal: Ia mulai bisa merasakan kakinya kembali setelah lama lumpuh tak dapat bergerak.

Sedang Martin sendiri tidak pernah mengerti. Hari demi hari tubuhnya semakin melemas. Hingga akhirnya ia jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit. Angel yang datang menjenguk membuat keluarga Martin begitu terkejut akan kehadirannya.

“Siapa dia?” tanya Ibu Martin pada Martin yang terbaring ketika Angel bersamanya.
“Ini kekasihku, bu..”

Keluarga Martin terdiam. Mereka tidak pernah menyangka bahwa anaknya memiliki pacar yang cacat. Semua dapat menebak kalau keluarga Martin tidak akan merestui hubungan mereka berdua. Tetapi Martin tidak peduli. Setelah keluar dari Rumah Sakit, ia mendapat hadiah terburuk dalam hidupnya, Martin didiagnosa positif HIV. Dan hal ini adalah sebuah kenyataan yang begitu pahit dalam hidupnya.

Martin merasa bahwa hidupnya telah berakhir, tetapi ia tidak mau menyerah. Angel mengatakan pada Martin kalau kakinya sudah mulai dapat digerakkan. Martin yang melihat hal tersebut sebagai sebuah keajaiban, menemani Angel untuk memeriksakan keadaan kakinya. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan sembuh normal adalah 20 persen. Hal ini adalah berita yang sangat indah bagi Angel. Dokter pun mengatakan bahwa harus segera dilakukan operasi untuk membuat kakinya menjadi normal. Martin memutuskan untuk membawa Angel ke Rumah Sakit terbaik di dunia. Angel menolak pada awalnya, tetapi inilah yang terjadi di malam sebelum semua itu terjadi.

“Angel, aku selalu ingat keinginan kamu saat di hari Natal. Kamu ingin berjalan kembali. Tuhan telah mendengarkan impianmu itu, sekarang ini adalah jalanmu. Kamu harus ikut aku pergi. Lakukan ini untuk kebahagiaanmu dan jangan pikirkan biayanya karena aku akan membantumu.”
“Tapi kamu terlalu baik untukku, aku tidak ingin berhutang budi padamu,” sahut Angel.
“Tahukah kamu, aku juga mempunyai permintaan Natal juga. Kamu ingin tahu?” jawab Martin.
“Oke katakanlah..”
“Aku ingin kelak meihat kamu dapat berjalan kembali dan aku bisa bahagia bersamamu setelah itu dan..”

“Dan apa?” sahut Angel penasaran.
“Akan kukatakan kalau kamu mau ikut aku ke untuk menyembuhkan kakimu,”
“Baiklah..” Angel mengangguk setuju.

Mereka pun berangkat. Operasi berjalan dengan baik, tetapi keadaan Martin yang terlalu lelah membuat kesehatannya menjadi semakin memburuk.Tetapi rasa lelahnya itu dibayar dengan semangat Angel yang ingin sembuh dan berjalan kembali di saat Natal. Dan, operasi yang dilakukan dokter berhasil. Angel sembuh dan mulai bisa berjalan dengan perlahan. Martin yang setia menjaga selalu berada di sampingnya. Hingga hari Natal pun tiba. Di sebuah tempat yang indah, Martin pun meneruskan apa yang hendak ia katakan kepada Angel sebelum dioperasi. Martin menceritakan kejadian pada hari Natal, tepat setahun yang lalu..

“Aku sudah memaafkan kamu sejak awal kita bertemu..” kata Angel yang membuat Martin bingung.
“Kamu maafkan untuk apa?”
“Kamu tidak perlu katakan apapun, aku sudah memaafkan dan mencintai kamu dengan setulus hatiku,” jawab Angel.
“Angel, bagaimana kamu bisa tahu?”
“Aku tidak akan pernah melupakan kejadian pada malam itu. Sesaat sebelum kejadian itu, aku melihat wajahmu dengan samar-samar..” jawab Angel.
“Maafkan aku, Angel. Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah kulakukan kepadamu..” jawab Martin kemudian.
“Angel, ada satu hal lagi yang kamu harus tahu.. Aku positif mengidap penyakit HIV..”

Angel terdiam. Dan ia menjawab,

“Ketika kamu melihatku sebagai seorang gadis yang cacat, kamu tidak pernah merasa malu atau merasa takut bila aku begitu merepotkanmu. Hatiku begitu tersentuh atas apa yang kamu lakukan padaku. Kamu menyadarkan aku untuk tetap menjalani hidup ini dengan kuat dan tabah. Oleh karena itu, walaupun kamu sekarang mengidap HIV, kini saatnya aku melakukan hal yang sama terhadapmu, menyayangi dan menerima dirimu apa adanya..”
“Kenapa kamu mau? Apakah kamu tidak takut padaku?”
“Karena ini adalah jalan hidup kita. Apapun yang terjadi dengan keadaanmu. Kamu adalah bagian dalam hidupku yang akan selalu ada. Aku akan selalu setia di sampingmu..”

Martin dan Angel lalu menikah. Dan setahun kemudian, Angel sudah bisa berjalan tanpa tongkat. Dua tahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak, yang dengan ajaibnya lahir normal tanpa ada penyakit apapun. Tiga tahun kemudian pada hari Natal selanjutnya, Martin meninggal karena penyakitnya.

Seperti kata Angel,

“Bagaimanapun keadaan kita dan siapapun yang memiliki keadaan sulit, janganlah merasa bahwa hidup akan terasa menjadi lebih sulit karenanya. Kita tidak dapat memilih keadaan apapun yang terjadi dalam hidup ini, tetapi kita dapat menjalaninya dengan penuh hikmat dan bertanggung-jawab terhadap apa saja yang sudah kita lakukan. Percayalah, masa depan akan jauh lebih indah bila kita belajar bersyukur atas apa saja yang sudah Tuhan percayakan di dalam hidup ini..”

Kupersembahkan kisah ini untuk semua penderita AIDS di seluruh dunia, percayalah bahwa kalian tetap ciptaan Tuhan yang paling indah dan bahagia dengan keadaan apapun.
Untuk sahabatku yang telah pergi dengan keadaan sama,
Aku merindukanmu..

Disadur dari FB “Setitik Embun Inspirasi”
Ditulis oleh Agnes Davonar
Dengan editan seperlunya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s