Rahasia Cinta Kasih

Standard

“Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.” (Amsal 31:10).

Aku harus memperingatkan engkau, wahai pembaca, sebelum engkau memulai. Kata-kata ini adalah permata kuno yang digali dari tambang kehidupanku. Bacalah hanya jika engkau berani untuk menghargainya. Karena jauh lebih baik untuk tidak mengetahuinya, daripada mengetahui namun tidak menurutinya. Tangan yang menulis kata-kata ini sekarang sudah tua renta, berkeriput karena matahari dan kerja keras. Namun pikiran yang memimpin tangan-tangan itu bijaksana–

bijaksana oleh tahun-tahun yang berlalu
bijaksana oleh kegagalan yang berulang
bijaksana oleh sakit hati yang bertubi-tubi

Aku adalah Asmara, si pedagang batu mulia.

“Dia berewokan,” Kakek Josh telah menjelaskan kepada Eric, “janggutnya seputih salju. Garis-garis sekeliling matanya sedalam ngarai. Dia mengenakan topi hitam dan membawa tongkat dari kayu hitam berhiaskan kepala burung gagak.

“Kami menjadi sahabat di kota pelabuhan Maroko, bertemu di kedai yang sama setiap pagi selama satu musim panas. Pertama-tama karena kebetulan, tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya kami merencanakan untuk bertemu, kami bertemu dan bercakap-cakap. Dia berusia hampir sembilan puluh tahun–seorang pengelana tua yang sudah mendekati akhir hidupnya. Kakek baru berusia dua puluh tahun, seorang misionaris muda dalam pelayaran Kakek yang pertama.”

“Apa yang diajarkan beliau kepada Kakek” tanya Eric.
“Beliau mengajari Kakek tentang satu permata yang tidak pernah diperolehnya.”
“Permata apa?”
“Baca dan lihatlah. Kakek begitu tergerak oleh kisahnya sehingga Kakek memberikan kepadanya buku catatan perjalanan Kakek dan meminta beliau untuk menulis di dalamnya. Kata-kata yang kaubaca tadi adalah miliknya. Namun pelajaran yang diajarkannya adalah milikmu. Jika kamu memang bersedia menerimanya.”

Eric lebih dari sekadar bersedia. Dia memerlukan bimbingan. Pagi itu saat latihan bisbol, dia melihat teman-temannya sedang berkerumun di tempat duduk pemain. “Ada apa?” tanyanya sambil mengintip dari balik bahu mereka. Tak seorang pun menjawab, mereka hanya cekikikan dan mengajaknya duduk. Di atas lantai terletaklah sekotak majalah–majalah yang penuh berisi gambar-gambar wanita telanjang. “Ayolah, Eric. Ambil saja satu majalah,” desak seorang anak laki-laki. “Aku menemukan semua ini di dalam kamar kakakku.”

“Ya, Eric, ayolah. Tidak apa-apa,” ucap anak yang lain.
“Ayo, Eric, tidak akan ada yang tahu.”
“Mungkin nanti saja,” itulah satu-satunya perkataan yang dapat dipikirkan Eric, dan dia bergegas menuju ke lapangan bisbol.
Kemudian dia memberi tahu Kakek Josh bahwa dia merasa kebingungan. “Mungkin anak-anak itu benar. Lagi pula, itu kan hanya gambar saja.”

Namun Kakek Josh tidak merasa kebingungan. Beliau berbicara seolah-olah beliau tahu persis apa yang sedang Eric hadapi.
“Berhati-hatilah, Eric. Hawa nafsu berdandan indah untuk menyenangkan pembelinya.”
“Apa?”
“Apa yang kamu alami pagi ini dapat menghancurkanmu.”
“Itu kan hanya majalah.”
Kakek Josh menanggapi dengan tegas. “Itu bukan sekadar majalah, Eric. Itu adalah majalah yang buruk. Majalah yang mengajarkan kebohongan.”

“Kebohongan?” Eric terperanjat dengan ketegasan Kakek Josh.
“Benar, kebohongan. Kebohongan tentang cinta kasih dan keindahan. Camkan, Eric. Cinta kasih lebih dari sekadar wajah atau tubuh yang elok. Cinta kasih itu berasal dari dalam, bukan dari luar.”

Ketika Kakek Josh selesai berbicara, diberikannya kunci dan buku tentang rahasia itu kepada Eric dan menyuruhnya berjalan menuju taman untuk membaca cerita itu. Eric menemukan bangku kosong, duduk, dan membuka buku itu. Tulisan tangan yang tebal-tebal dan jelas.

Aku seorang penjual batu mulia. Aku bepergian dari kota yang satu ke kota yang lain. Aku membeli permata dari para penggali di negeri yang satu dan menjualnya kepada para pembeli di negeri yang lain. Aku pernah merasakan malam hari yang berhujan badai. Aku sudah melalui siang hari di gurun yang panas. Aku pernah makan bersama para raja. Aku pernah mabuk bersama orang miskin. Tanganku pernah memegang batu delima paling indah dan membelai pakaian bulu binatang yang paling tebal. Namun aku akan menukarkan semuanya itu demi satu permata yang tidak pernah kuketahui.

Bukan karena tidak ada kesempatan maka aku tidak pernah menggenggamnya. Ada satu kesempatan di Madrid ketika aku masih muda. Bukan, bukan karena tidak ada kesempatan. Semua itu karena tidak adanya hikmat. Permata itu pernah ada di tanganku, namun aku menukarnya dengan yang palsu. Dan sekarang aku takut bahwa hari-hariku akan berakhir tanpa aku mengetahui keindahan dari batu berharga itu.

“Batu apa yang sedang dia bicarakan?” Eric bertanya kepada dirinya sendiri sambil dia membalik halaman buku itu. Jawabnya ada di kalimat berikutnya. Tintanya lebih tebal dan kata-katanya digarisbawahi.

Aku tidak pernah tahu cinta kasih sejati.
Aku sudah tahu pelukan. Aku sudah melihat kecantikan. Tapi aku tidak pernah tahu cinta kasih.
Jika saja aku belajar untuk mengenal cinta kasih sebagaimana aku telah belajar mengenal batu mulia.
Ayahku mengajariku tentang batu mulia. Dia adalah seorang pemotong batu mulia. Dia akan mendudukkanku di sebuah meja di hadapan selusin zamrud. “Ada satu yang asli,” kata beliau memberitahuku. “Lainnya palsu. Carilah permata yang asli.” Aku akan berpikir–mempelajari satu demi satu. Akhirnya aku memilih. Aku selalu saja salah.

“Rahasianya,” kata ayahku, “bukan pada permukaan batunya; namun di dalam batu. Permata yang asli memiliki kilauan. Jauh di dalam permata yang asli terdapat cahaya yang berkilauan. Bagian permukaan selalu dapat digosok agar berkilau, namun dengan berjalannya waktu, kilauannya pun akan memudar. Akan tetapi, batu mulia yang berkilau dari dalam tidak akan pernah memudar.” Seiring berjalannya waktu, mataku belajar untuk melihat batu mulia yang asli. Aku tidak pernah dibodohi. Batu mulia yang kubeli benar-benar asli. Permata yang kujual benar-benar asli. Aku sudah belajar untuk melihat cahaya yang berada di dalamnya.

Andai saja kupelajari hal yang sama tentang cinta kasih.
Namun aku sudah menjadi bodoh, wahai pembaca, dan aku telah dibodohi.
Aku telah menghabiskan hidupku di tempat-tempat yang tidak seharusnya, hanya untuk mencari seseorang dengan mata yang berbinar, rambut nan indah, senyuman yang mempesona, dan pakaian yang indah. Aku telah mencari seorang wanita dengan kecantikan jasmani, namun tanpa nilai yang sejati. Maka kini terpuruklah aku dalam kehampaan.

Sekali hampir kutemukan dia. Bertahun-tahun yang silam di Madrid, aku bertemu dengan putri seorang petani. Hidupnya sederhana, cinta kasihnya murni. Matanya jujur. Namun penampilannya biasa saja. Dia pasti akan mencintaiku. Dia pasti akan mendukungku dalam melewati segala badai kehidupan. Di dalam dirinya terdapat kilauan pengabdian yang tak pernah kulihat lagi sejak saat itu. Namun aku terus mencari seseorang yang kecantikannya dapat mengalahkan yang sebelumnya. Berapa kali sejak saat itu aku telah merindukan kebaikan hati gadis petani itu, senyuman manisnya, dan kesetiaannya?

Andai saja kutahu bahwa kecantikan sejati ditemukan di dalam diri, bukan di luar. Andai saja kutahu, berapa banyak air mata yang dapat kusimpan? Akan kutukar dalam sekejap seribu permata langka demi hati sejati milik seseorang yang pasti akan mencintaiku.

Wahai pembaca, camkanlah peringatanku. Lihatlah dari dekat bebatuan itu sebelum engkau membuka dompetmu. Cinta kasih yang sejati berkilau dari dalam dan bertumbuh semakin kuat seiring berlalunya waktu. Camkanlah peringatanku. Carilah permata yang paling murni. Lihatlah ke dalam hatinya untuk menemukan kecantikan yang teragung. Dan saat engkau menemukan permata itu, genggamlah dia dan jangan membiarkan dia pergi. Karena di dalamnya diberikan kepadamu harta karun yang jauh lebih berharga daripada batu delima.

Eric menatap kata-kata terakhir itu selama beberapa menit sebelum buku itu ditutupnya. Dia tidak tahu di bangku seberangnya ada Kakek Josh dan Nenek Melva. Dia baru menengadahkan wajahnya saat Kakek Josh mulai berbicara.

“Ketika Asmara mengembalikan jurnalku, beliau mengatakan kata-kata ini, ‘Pilihlah cinta kasih yang sejati ketika engkau muda sehingga engkau tidak akan merasa kesepian ketika engkau sudah tua.’ Kemudian Asmara berbalik dan pergi. Itulah terakhir kalinya Kakek melihatnya, Eric. Kakek tidak akan pernah melupakan kesedihan yang tergambar di wajahnya.” Lalu sambil memegang tangan Nenek Melva, Kakek Josh menambahkan, “Dan Kakek takkan pernah menyesali pilihan yang telah Kakek buat.”

Kakek Josh mencondongkan tubuh ke depan dan memandang lurus-lurus mata sahabat mudanya, “Baliklah halaman itu dan bacalah rahasia cinta kasih.”
Eric menurut, dan inilah yang dilihatnya:

Carilah kecantikan dan engkau akan kehilangan cinta kasih.
Namun carilah cinta kasih dan engkau akan menemukan keduanya.

Ditulis dari buku: “Ceritakan Padaku Rahasia Itu”
Penulis: Max Lucado
Halaman: 63-70

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s