Honor Besar Pertama Abe Lincoln, Bagian Kedua (Selesai)

Standard

Honor Besar Pertama Abe Lincoln,
Bagian Kedua

Menurut peraturan, hanya dua pidato yang diajukan oleh masing-masing pihak. Dari percakapan itu, Lincoln baru tahu bahwa dia diminta bergabung beberapa hari sebelum Stanton diajak bergabung menangani kasus tersebut. Karena itu, Lincoln berasumsi bahwa, karena dia berada dalam prioritas lebih tinggi, dialah yang akan bicara dan merangkum argumen hukum dari pihak Manny. Pengacara McCormick, Reverdy Johnson, berdiri dan berkata dengan anggun: “Kami melihat bahwa para terdakwa diwakili oleh tiga orang pengacara. Kami bersedia menerima agar ketiganya didengar dan tidak berkeberatan bahwa akan ada tiga argumen dari pihak mereka. Kami hanya meminta agar rekan kami, Pak Edward Dickserson, diperbolehkan bicara dua kali jika kami menginginkannya.”

Lincoln melihat Stanton dan Harding berpandangan, seakan sudah ada pengertian di antara keduanya. Sekarang Lincoln merasa menjadi orang luar. Stanton berkata: “Kami tidak minta keistimewaan dari lawan kami. Kami tidak bermaksud memberikan lebih dari dua argumen dari pihak kami. Kami tidak akan melanggar peraturan pengadilan.”

Argumen yang disiapkan Stanton? Lincoln mengerutkan keningnya. Jadi, apa yang diharapkan dari dirinya? Lincoln berbicara dengan suara perlahan, “Aku sudah menyiapkan catatanku.” Stanton menoleh kepadanya dan mengangkat bahu dengan gaya menghina. “Tentu saja Anda harus didahulukan,” katanya. Lincoln, dengan penghormatan yang ditunjukkannya secara spontan, menjawab, “Mungkin, Pak Stanton, Anda ingin bicara menggantikanku?” Stanton menyambar tawaran Lincoln sekan-akan menerima pengunduran diri Lincoln dari kasus tersebut. Harding duduk tanpa bersuara. Lincoln, yang menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menarik diri, tanpa banyak bicara meninggalkan ruang sidang.

Dia berdiri sendirian di tangga gedung pengadilan itu: tersinggung berat, geram, malu. Tetapi, dia telah dibayar untuk menyiapkan risalahnya dan merasa wajib memberikan produk yang sudah dibayar itu kepada kliennya. Jadi, dia kembali masuk ke ruang sidang dan duduk di antara hadirin. Tetapi, Lincoln memberikan risalahnya kepada Watson. “Aku menghabiskan banyak waktu untuk menyusunnya; mungkin Harding bisa menggunakannya,” katanya. Watson memberikan risalah itu kepada Harding, yang melemparkannya ke atas meja. Tidak sekalipun dia melirik risalah itu, dan keesokan harinya risalah itu masih tetap tergeletak di situ.

Sepanjang pekan berlangsungnya pengadilan itu, para pengacara dari kedua belah pihak sering makan bersama, dan sekali pernah diajak hakim untuk makan malam di rumahnya. Hanya ada satu orang yang tidak diundang, si canggung dari Springfield.

Pengadilan berlangsung dan mencapai klimaksnya. Pengacara terkenal dari pihak McCormick, Johnson, mengajukan banding dengan fasih mengenai hak-hak sang penemu hebat itu. Orang-orang yang bisa melawannya dengan sukses pasti akan menjadi terkenal, dan di sinilah seharusnya Lincoln mengajukan argumennya. Alih-alih, sebagai penggantinya, berdirilah Stanton, orang yang telah menyingkirkannya. Stanton tidak mengotak-atik karya McCormick, tetapi merinci poin demi poin yang diajukan Johnson, dan Lincoln melupakan harga dirinya yang terluka ketika memperhatikan logika brilyan Stanton yang membuatnya terpana.

Malam itu Lincoln berjalan bersama seorang teman. “Argumen Stanton membuka mataku,” katanya. “Belum pernah aku mendengar sesuatu yang begitu tuntas dan begitu rapi persiapannya.” Kemudian, katanya lagi, “Aku tak bisa sepiawai mereka. Aku tak bisa bicara seperti mereka, atau berpenampilan seperti mereka!” Tetapi, dia bertekad untuk tidak membiarkan dirinya dihina. “Aku akan pulang dan belajar hukum dengan lebih tekun lagi,” katanya. “Orang-orang dari Timur itu akan semakin sering ke sini, dan aku harus siap menghadapi mereka dengan cara mereka.”

Argumen Stanton yang hebat itu berhasil memenangkan Manny. Watson mengirim cek sebesar dua ribu dolar kepada Lincoln. Uang itu ibarat harta kecil baginya; tetapi, dia mengirimkan kembali cek itu mengatakan bahwa dia merasa tidak patut dibayar mengingat dia tidak ikut ambil bagian dalam penyelesaian kasus tersebut. Pastilah sekarang perasaan Watson menjadi galau karena telah ikut berperan mengesampingkan Lincoln, dan dia menawarkan cek itu sekali lagi. Cek itu tiba ketika Lincoln sedang dalam keadaan amat terdesak. Dia menerima uang itu dan memberikan separuhnya kepada rekannya, Herndon.

Lincoln tidak bisa meniadakan kegetiran hatinya–kenangan pahit itu akan selalu dikenangnya–tetapi, dia bisa mengubah dirinya agar tidak usah menerima hinaan yang menyakitkan hati dengan alasan yang sama. Tampilannya menjadi lebih bermartabat, pidatonya lebih baik, lebih bermakna. Kemudian, dia terjun untuk mengejar cinta pertamanya dan yang paling dalam–politik. Ironisnya, honor yang diterima Lincoln itu memberinya kebebasan dari segi keuangan untuk terlibat dalam kampanye politik yang memberinya ketenaran yang tidak berhasil diraihnya dalam kasus McCormick-Manny.

Tidak lama kemudian, dia menjadi Presiden Amerika Serikat. Di antara para pengecamnya yang paling pedas adalah Stanton. Tetapi, Lincoln tidak pernah melupakan perbedaan antara Stanton yang berlidah tajam dan Stanton yang berotak cemerlang–dan ketika dia memilih orang untuk posisi penting sebagai Menteri Perang, dia memilih Edward M. Stanton. Hanya orang dengan watak seperti Lincoln-lah yang bisa menjulang di atas hinaan Stanton, dan hanya orang dengan amal baik seperti yang dimilikinyalah yang tidak memendam dendam.

Setelah bertahun-tahun bekerja di bawah Lincoln, Stanton baru sadar siapa yang lebih baik di antara mereka. Di saat Lincoln berbaring menjelang ajalnya, Stanton berdiri di sampingnya, terisak-isak pilu yang tidak bisa dihibur. Ketika akhirnya mata Lincoln menutup, orang yang dulu pernah menyakitinya dengan kejam memberi Lincoln penghormatan abadi: “Sekarang dia telah pindah ke dunia fana!”

Banyak orang yang pasti merasa benar-benar terhina, tetapi Abraham Lincoln begitu rendah hati untuk mengakui kekurangannya, dan memiliki keteguhan untuk berusaha mengatasinya. Dan, ketika dia mencapai puncak karier politiknya, sekali lagi dia menunjukkan kerendahan hatinya dengan mengangkat Stanton menduduki jabatan terpandang dan berkuasa. Kerendahan hati amat penting untuk menjadi pemimpin yang efektif, tetapi sering kali tidak dimiliki oleh banyak eksekutif.

Selesai.

Kita semua adalah aktor yang berusaha mengesankan penonton, menjadi pusat perhatian di atas pentas. Tetapi, jika kita ingin menaruh perhatian pada orang lain, kita harus melatih ego kita yang haus perhatian itu untuk berhenti bekerja keras meraih lampu sorot dan membiarkan lampu itu menyoroti orang lain -Donald E. Smith

Dikutip dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup”
Ditulis oleh Mitchell Wilson
Halaman 185-188, 199

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s