Honor Besar Pertama Abe Lincoln, Bagian Pertama

Standard

Honor Besar Pertama Abe Lincoln,
Bagian Pertama

Pada suatu siang pada tahun 1855, seorang pengacara berpakaian rapi dari Philadelpia tiba di kota prairi Springfield, Illionis, dan menanyakan jalan menuju rumah Pak A. Lincoln. Ternyata rumah itu rumah kayu biasa. Pintu dibuka oleh seorang lelaki ceking yang mengenakan kemeja berlengan, yang tampak sangat jangkung. Tungkai dan lengannya sangat besar. Rambut hitamnya yang kasar tampak seakan-akan tidak pernah disisir. Satu-satunya roman muka yang mengesankan bagi si tamu adalah sorot mata lelaki itu: tajam, pilu, dan bijak.

Orang Philadelpia itu berkata: “Namaku P.H. Watson. Aku adalah penasihat hukum sekelompok pemilik pabrik yang menggalang dana untuk membantu orang yang mungkin Anda kenal–J.H. Manny dari Rockford, Illionis.” Wajah Lincoln langsung berubah menunjukkan minat. “Kasus McCormick-Manny?” tanyanya. Watson mengangguk. Kasus McCormick-Manny adalah salah satu pertempuran hukum yang paling penting di masa itu. Karena melihat sukses besar Cyrus McCormick, banyak pabrik kecil yang membuat mesin ketam, tetapi tidak ada yang membayar royalty kepada McCormick–semuanya mengaku bahwa mesin mereka berbeda dengan mesin McCormick. McCormick pun meminta bantuan para pengacara paling ternama di negara itu dan menuntut pesaing yang tampaknya memiliki kasus terbaik–J.H. Manny & Son.

Pemilik pabrik lainnya menyadari bahwa mereka semua pasti akan hancur jika Manny kehilangan bisnisnya. Watson memberikan nasihat kepada para kliennya: “Kasus ini akan dihadapkan kepada Hakim Drummond di Distrik Utara Illionis, mungkin di Springfield. Amatlah baik jika Anda mendapatkan dukungan masyarakat–pilih orang setempat yang merupakan teman baik hakim itu.” Inilah sebabnya mengapa Watson sekarang duduk di rumah di Springfield itu, berbicara dengan pengacara jangkung yang tidak menarik itu. Dia mengemukakan argumen yang sangat meyakinkan kepada Lincoln–uang muka lima ratus dolar dan janji honorarium terbesar yang pernah ditawarkan kepada Lincoln. Pengacara jangkung itu belum pernah menangani kasus yang biayanya lebih dari beberapa ratus dolar, dan pada saat itu namanya belum dikenal di luar country-nya. Namun, ada beberapa fakta tentang kasus itu yang tidak disampaikan Watson kepada Lincoln.

Ketika Watson sudah pergi, Lincoln duduk terpana. Usianya empat puluh enam tahun, dililit hutang, dihantui kegagalan. Sekarang, tiba-tiba saja, tersedia peluang untuk meraih ketenaran nasional sebagai pengacara. Dia tidak tahu apa-apa tentang undang-undang paten atau mekanisme mesin ketam, dan dia bekerja keras untuk mulai mempelajari hal-hal yang harus diketahuinya. Tetapi, tetap saja dia merasa cemas di ruang pengadilan, dia harus beradu kepiawaian dengan orang-orang Timur yang berpengalaman dan berpendidikan–dua hal yang tidak dimilikinya.

Dalam masa persiapan yang ketat ini, Lincoln hanya menerima beberapa pucuk surat dari Watson, tetapi dari surat-surat tersebut dia merasa diberi kebebasan untuk memilih. Rasa percaya dirinya semakin besar. Suatu hari dia mendapat kabar bahwa tempat pengadilan dipindahkan, dengan persetujuan kedua belah pihak, dari Springfield ke Cincinnati, dan akan dipimpin oleh hakim yang tidak dikenal oleh Lincoln. Dia merasa seharusnya dirinya ditanyai dulu tentang pemindahan tempat tersebut, tetapi dia menepis kekecewaan itu, dan berkata dalam hati bahwa Watson sengaja tidak ingin membebaninya dengan hal-hal kecil.

Jadi, Lincoln pun berangkat ke Cincinnati untuk bertemu dengan para kliennya, merasa yakin bahwa mereka akan menghormati kemampuannya dan mengandalkannya. Di dalam sakunya tersimpan catatan singkat, hasil kerja kerasnya dan yang akan menentukan amsa depannya. Dia mengenakan pakaian dengan cermat untuk acara itu dan menunjukkan sikap yang bermartabat. Tetapi, sosok berikut inilah yang tampak oleh para rekannya dari pTimur: Dia terlihat seperti orang udik yang canggung, yang mengenakan pakaian yang kasar dan tidak karuan. Celana panjangnya tidak cukup panjang untuk menutupi mata kakinya dan dia mengenakan kain linen yang bernoda keringat.

Dimulailah kekecewaan Lincoln. Didapatinya bahwa pengacara yang lain, Edwin M. Stanton, telah dipilih untuk menangani kasus itu–bahkan telah dipekerjakan sejak awal. Ketika Manny mengajak Lincoln ke kamar hotel Stanton, pintu kamar terbuka dan Lincoln menunggu di luar. Stanton, yang perawakannya pendek dan penampilannya garang, memandangnya dan berkata dengan suara keras: “Apa yang dilakukannya di sini? Singkirkan dia. Aku tidak mau bekerja dengan monyet canggung seperti itu! Kalau aku tidak disediakan orang yang penampilannya rapi untuk menangani kasus ini, lebih baik aku mundur.”

Lincoln tetap diam. Hinaan itu disengaja, tetapi dia pura-pura tidak mendengarnya. Dengan kepala tegak, meskipun telah dihina sedemikian rupa, dia menuruni tangga, dan dia diperkenalkan kepada George Harding, pengacara lain yang menangani kasus itu. Kemudian, semuanya berangkat menuju gedung pengadilan. Di sana, para pengacara dari kedua belah pihak saling menyapa. Mereka sudah pernah bertemu sebelumnya. Tetapi, Lincoln tidak diperkenalkan, dan berdiri sendirian dengan canggung di meja para terdakwa.

Bersambung ke “Honor Besar Pertama Abe Lincoln, Bagian Kedua”

Dikutip dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup”
Ditulis oleh Mitchell Wilson
Halaman 183-185

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s