Jaga Malam

Standard

Yang kaya bukan mereka yang memiliki banyak, melainkan mereka yang memberi banyak -Erich Fromm

“Putra Anda ada di sini,” kata perawat kepada orang tua itu. Ia harus mengulang kata-kata itu beberapa kali sebelum mata orang itu membuka. Ia masih sangat terpengaruh oleh obat penenang dan hanya setengah sadar sesudah mengalami serangan jantung berat malam sebelumnya. Tampaknya ia hanya dapat melihat secara samar-samar pemuda berseragam marinir yang berdiri di samping pembaringannya. Lelaki tua itu mengulurkan tangannya. Sang marinir menggenggamkan tangannya yang kuat ke tangan lemas orang tua itu dan meremasnya dengan lembut. Perawat menaruh sebuah kursi, sehingga prajurit yang masih lelah itu dapat duduk di sisi pembaringan.

Sepanjang malam itu, sang marinir muda duduk di bangsal yang berpenerangan buruk, terus memegangi tangan si orang tua itu dan terus mengeluarkan kata-kata penghibur. Orang yang mau meninggal itu tidak berkata sepatah pun, tetapi terus menggenggam tangan sang marinir. Tanpa peduli dengan bunyi tangki oksigen, rintihan pasien-pasien lain, dan gemerisik staf tugas malam yang datang dan pergi ke bangsal itu, sang marinir terus berjaga di sisi orang tua itu. Untuk kesekian kalinya, ketika mampir untuk memeriksa kondisi sang pasien, perawat terus mendengar marinir muda itu membisikkan kata-kata penghiburan kepada si sakit. Beberapa kali sepanjang malam itu, perawat menawarkan istirahat sejenak kepada sang marinir. Akan tetapi setiap kali, tawaran itu ditolak.

Menjelang matahari terbit lelaki itu mengembuskan napas terakhirnya. Sang marinir meletakkan tangan orang tua yang sudah tidak bernyawa itu ke tempat tidur lalu menemui perawat. Sementara perawat mengurusi jenazah, marinir muda itu menunggu dengan sabar. Dan begitu selesai dengan tugas itu, seperti biasa sang perawat mengungkapkan kata-kata belasungkawa, tetapi sang marinir menyela.

“Siapa sesungguhnya orang itu?” tanyanya.
Dengan sangat terkejut perawat itu menjawab,
“Tentu saja ayah Anda.”
“Bukan, ia bukan ayahku,” kata pemuda itu.
“Aku belum pernah melihatnya sama sekali.”
“Lalu mengapa Anda tidak mengatakan apapun ketika dibawa kepadanya?”
“Setiba di sini, aku langsung tahu ada yang salah ketika atasan memberi perintah mendadak kepadaku untuk pulang. Dalam kesatuanku ada orang lain yang baik nama dan tempat lahirnya sama denganku, dan nomor pokok kami juga hampir sama. Mereka salah mengirimku,” kata marinir muda tadi.

“Tapi aku juga tahu bahwa orang tua ini membutuhkan kehadiran anaknya, padahal mengharapkan anaknya datang ke mari mungkin sudah terlambat. Aku tahu bahwa kondisinya terlalu parah untuk mampu membedakan aku dari anaknya. Dan karena sadar bahwa ia sangat membutuhkan kehadiran anaknya, aku memutuskan untuk menemaninya.”

Ditulis dari “A 5th Portion of Chicken Soup for the Soul”
Ditulis oleh Roy Popkin
Halaman 11-13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s