Perubahan Hati

Standard

Pada tahun 1992, seperti kebanyakan orang di Los Angeles, aku menonton laporan berita TV yang menampilkan Rodney King berbicara kepada wartawan setelah dibebaskannya empat orang polisi yang dituduh memukulinya pada tahun 1991, yang kemudian menimbulkan kerusuhan di kota tersebut. Saat King berbicara kepada wartawan, dia bertanya dengan wajah murung, “Bisakah kita semua hidup dengan akur?”

“Tidak! Tidak bisa!” teriakku ke TV, meskipun tak ada seorang pun yang mendengar suaraku di ruangan itu. Reaksiku bukan satu-satunya reaksi tak beralasan yang dikeluarkan tanpa mengetahui situasinya. Aku tahu benar mengapa reaksiku seperti itu. Pada akhir tahun 1989, aku membeli rumah yang harganya terjangkau di permukiman sebelah timur Los Angeles bernama Highland Park. Daerah itu telah berubah akibat mengalirnya arus imigran baru, dan waktu itu aku yakin sekali bahwa keharmonisan ras adalah sesuatu yang mustahil. Statistik menunjukkan bahwa setiap tahun puluhan ribu imigran baru, kebanyakan dari Amerika Latin dan Asia, tumpah ruah memasuki California Selatan, namun untuk kebanyakan kaum kulit putih, kecenderungan ini masih dianggap data statistik yang abstrak, bukan realitas.

Tetapi, ketika aku pindah ke Highland Park, statistik itu menjadi realitas yang kuhadapi sehari-hari dan memunculkan prasangka buruk. Banyak tetanggaku yang berasal dari Meksiko, El Salvador, Filipina, dan Vietnam, dan untuk pertama kalinya aku menjadi minoritas dan hal itu tak kusukai.

Karena yakin bahwa tidak ada persamaan di antara kami, aku mengurung diri di dalam rumah cantikku yang berwarna merah muda bergaya Spanyol di bukit. Aku jarang mengobrol dengan para tetanggaku, melambaikan tangan sesekali saja di kala kami memasukkan kantong sampah ke tong sampah di depan rumah masing-masing atau ketika berpapasan saat mengendarai mobil masing-masing. Aku cocok dengan stereotip mereka–“gringa” putih yang tidak ramah yang memiliki rumah terbagus di blok kami–sama seperti pandangan yang sudah tertanam dalam pikiranku tentang imigran yang dengan keras kepala menolak untuk berasimilasi.

Aku kesal ketika wiraniaga Hispanik di toko Radio Shack tidak mengerti ketika aku hendak membeli baterai litium atau kabel panjang. Aku kesal karena pasar swalayan setempat tidak menjual keju biru atau susu kedelai, dan bahwa beberapa papan iklan untuk bioskop dan mobil ditulis dalam bahasa Spanyol. Selama bertahun-tahun aku mengajukan keluhan ke berbagai pihak berwajib ketika para tetanggaku berperilaku yang tak kusukai. Seorang wanita dari El Salvador memelihara ayam jantan di pekarangan belakang rumahnya yang membuatku terbangun pada jam lima setiap pagi. Ketika aku melaporkannya ke Bagian Pengaturan Hewan, dia menanggapi keluhanku dengan membacok kepala unggas itu secara kejam, tetapi menghibur diri dengan mengatakan bahwa hal itu perlu untuk mengembalikan kedamaian dan ketenangan di permukiman kami.

Ketika tetanggaku yang berasal dari Meksiko bermain musik dengan suara terlalu keras, kutelepon polisi, yang langsung menyuruhnya berhenti bermain. Karena menduga akulah yang melaporkannya, para tetanggaku tidak mau lagi mengajakku bicara. Hukuman itu masih bisa kuterima karena aku menganggap telah mengajak para tetanggaku untuk menjunjung tinggi nilai-nilai yang kuanut.

Kemudian, dua tahun yang lalu terjadi sesuatu yang mengubah diriku dan cara hidupku di permukimanku. Dalam waktu dua hari saja, aku kehilangan beberapa hal yang sangat berarti bagiku. Pekerjaanku dengan gaji ratusan ribu dolar sebagai penulis senior di sebuah majalah bertaraf nasional berakhir, dan begitu juga hubungan cintaku dengan lelaki yang kucintai. Tiba-tiba saja semua jangkarku hilang dan, dalam kesedihan yang amat dalam, aku tidak tahu bagaimana–atau apakah akan pernah–diriku bisa pulih kembali.

Kehilangan yang kualami membuatku menjadi rendah hati dan rentan, tapi akibatnya aku menjadi lebih sering berhubungan dengan para tetanggaku dan dunia sekitarku. Baru kusadari betapa luar biasanya mereka itu. Mereka benar-benar tidak sama dengan pandanganku tentang mereka selama ini yang ternyata keliru. Mereka adalah orang-orang yang rajin bekerja dan, seperti diriku, mencari kehidupan yang baik, serta mengalami sedikit kesenangan.

Aku baru tahu bahwa wanita asal El Salvador itu melarikan diri dari negaranya bersama dua orang putrinya setelah pasukan maut membunuh suaminya. Dia mencari nafkah dengan membersihkan rumah orang untuk bisa hidup pas-pasan dan menyekolahkan anak-anaknya. Aku baru tahu bahwa para tetanggaku, yang berasal dari Meksiko dan datang ke Los Angeles lima belas tahun yang lalu, tidak bisa berbahasa Inggris, dan ayah mereka bekerja membersihkan perkantoran dengan upah hanya delapan dolar per jam. Kemudian, dia bekerja sebagai sopir truk. Sekarang dia sudah memiliki tiga bangunan apartemen dan hartanya melebihi jumlah kekayaan yang mungkin akan kuperoleh seumur hidupku.

Sekarang, banyak tetanggaku yang menjadi temanku. Pada Hari Natal, aku memberi mereka minuman anggur merah dan kue, dan mereka memberiku bunga dalam pot dan burito. Ketika mobilku tak bisa dihidupkan beberapa bulan yang lalu, dan sepertinya terpaksa harus diderek, seorang tetangga asal Guatemala, seorang lelaki baik hati bernama Angel yang bekerja sebagai tukang kebun, cepat-cepat membawa kabel penghidup aki dan menolongku sampai mesin mobilku bisa dihidupkan lagi.

Sekarang aku akan menjawab pertanyaan Rodney King dengan jawaban yang berbeda. Akan kukatakan bahwa sangat mungkin bagi kita untuk hidup dengan akur jika orang dengan budaya yang berbeda-beda tidak berbuat kesalahan seperti yang pernah kulakukan. Saat pertama kali aku pindah ke permukiman ini, aku tidak memandang para tetanggaku sebagai manusia, melainkan sebagai orang yang berbeda dan bukan bagian dari kehidupanku. Sekarang aku baru menyadari bahwa kehidupan mereka dan kehidupanku mencakup pengalaman yang bersifat universal bagi kita semua: kehilangan, kekecewaan, harapan, dan cinta.

Bulan yang lalu, kudengar ayam jantan berkokok di pagi hari. Tampaknya tetanggaku yang asal El Salvador memelihara seekor lagi, tapi aku tidak lagi sewot. Aku senang mengamati si ayam jantan berkeliaran di permukiman kami. Entah mengapa, ayam itu membuatku merasa betah.

Salah satu pengalamanku yang paling mendebarkan hati dan menimbulkan inspirasi di saat aku bepergian ke segala penjuru dunia adalah budaya yang bukan saja menghormati perbedaan, tapi juga menghayatinya, sementara setiap tradisi agama diamati oleh hampir semua orang. Menghayati, bukan sekadar bertoleransi–frase masa kini yang berlaku di dunia yang sangat beragam. Mau menerima pandangan orang lain, mau menerima budaya orang lain, mau menerima sistem kepercayaan orang lain, dan mau menerima gaya orang lain. Kita mendengar frase itu setiap hari. Tetapi, hal yang dilakukan Mary bukan sekadar bertoleransi, bukan sekadar menunjukkan rasa hormat, dan sama sekali bukan sekadar menghargai perbedaan. Yang dilakukan Mary adalah menghayati perbedaan di daerah permukimannya.

Toleransi adalah prinsip pertama dari sebuah komunitas; toleransi adalah semangat yang melestarikan hal-hal terbaik yang ada dalam pikiran semua orang. Tidak ada kehilangan akibat banjir dan petir, tidak ada kehancuran kota dan kuil akibat kekuatan alam yang ganas, yang membuat umat manusia kehilangan jiwa dan impuls yang mulia jika dibandingkan dengan yang dihancurkan oleh sikap tidak toleran -Helen Keller (The Open Road)

Ditulis dari “Everyday Greatness 63 Kisah+500 Kata-kata Bijak Terbaik Untuk Menemukan Makna Hidup”
Ditulis oleh Mary A. Fischer
Halaman 317-320, 327

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s