Nyalakan Cahayamu

Standard

[Keterangan foto: Black physicians treating a member of the Ku Kux Klan in the ER]

Orang yang membawa sinar matahari kepada hidup orang lain tak dapat menghalangi sinar itu dari dirinya sendiri -James M. Barrie

Lebih dari tiga dasawarsa yang lalu, aku masih seorang murid kelas 1 di sebuah SMU besar di California Selatan. Sekolah yang jumlah siswanya sebanyak 3.200 orang ini adalah tempat berbaurnya segala macam orang yang berbeda etnis. Lingkungannya keras. Pisau, pipa, rantai, penjotos dari besi, dan kadang-kadang senapan angin, sudah biasa. Perkelahian dan kegiatan geng menjadi peristiwa mingguan.

Setelah pertandingan rugby pada musim gugur 1959, aku meninggalkan tempat duduk bersama pacarku. Saat kami berjalan di trotoar yang ramai, seseorang menendangku dari belakang. Waktu berbalik, aku berhadapan dengan geng lokal, yang tangannya dilengkapi penjotos dari besi. Pukulan pertama dari serangan yang tak diundang ini segera menghancurkan tulang hidungku, salah satu dari beberapa tulang lain yang akan dipatahkan dalam pukulan selanjutnya. Kepalan datang dari segala penjuru ketika lima belas anggota geng mengeroyokku. Cederaku semakin parah. Gegar otak. Pendarahan di dalam. Akhirnya, aku harus dioperasi. Dokter berkata padaku bahwa andai aku terpukul sekali lagi di kepala, mungkin aku sudah mati. Untungnya, mereka tidak melukai pacarku.

Setelah aku pulih secara medis, beberapa orang teman menghampiriku dan berkata, “Ayo, kita balas mereka!” Itulah cara masalah “diselesaikan.” Setelah diserang, menyamakan skor menjadi prioritas. Sebagian diriku berkata, “Ayo!” Manisnya balas dendam jelas merupakan pilihan. Tapi bagian lain dari diriku berhenti dan menolak. Balas dendam tak ada gunanya. Dengan jelas, sejarah telah menunjukkan berkali-kali bahwa balas dendam hanya mempercepat dan memperuncing konflik. Kami harus melakukan sesuatu yang berbeda untuk memutuskan rantai peristiwa yang tidak produktif ini.

Kami bekerja bersama berbagai macam kelompok etnis, dan kami membentuk “Komite Persaudaraan” untuk memperbaiki hubungan antar ras. Aku terkesan setelah mengetahui betapa besarnya minat teman-teman untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Memang tak semua orang setuju menjalaninya dengan cara yang berbeda. Sementara sebagian kecil siswa, guru, dan orangtua secara aktif menolak pertukaran antar budaya ini, makin banyak orang yang bergabung untuk melakukan upaya yang positif.

Dua tahun kemudian, aku mencalonkan diri menjadi ketua OSIS. Meskipun sainganku adalah teman sendiri, seorang pahlawan rugby dan satunya “orang besar di sekolah” yang populer, sebagian besar dari 3.200 murid bergabung denganku dalam proses melakukan segala sesuatunya secara berbeda. Aku tak akan mengatakan bahwa masalah ras terselesaikan sepenuhnya. Namun, kami berhasil menapak kemajuan besar dalam membangun jembatan di antara berbagai budaya, belajar cara berbicara dan bergaul dengan kelompok etnis yang berbeda, menyelesaikan masalah tanpa menggunakan kekerasan, dan belajar cara membangun kepercayaan dalam keadaan yang paling sulit.

Sungguh mengesankan apa yang terjadi kalau orang bersedia saling bicara dengan damai!

Diserang oleh geng sekian tahun yang lalu jelas merupakan salah satu masa hidupku yang tersulit. Namun, apa yang kupelajari perihal membalas dengan cinta, bukannya dengan kebencian, merupakan kekuatan besar dalam hidupku. Menyalakan cahayamu di antara orang-orang yang cahayanya redup menciptakan perbedaan yang sungguh berarti.

Ditulis dari “Chicken Soup for the Teenage Soul”
Ditulis oleh Eric Allenbaugh
Halaman 186-188

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s