Rahasia Kebesaran

Standard

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,” (Matius 20:26).

Hari Shannon penuh dengan kejutan. Kejutan yang pertama datang ketika ia meninggalkan rumah Kakek Josh.

“Bawalah ini,” kata Kakek Josh sambil menyerahkan kepadanya buku tentang rahasia itu beserta kuncinya.
“Dibawa pulang?”
“Kamu mungkin akan memerlukannya.”
Dan hanya itu yang Kakek Josh katakan.

Jadi, sementara Shannon berjalan, dia menendang-nendang dedaunan dan bertanya-tanya, apa gerangan yang Kakek Josh ketahui, tapi tidak dia ketahui. Sebelumnya Kakek Josh bahkan tidak membiarkannya membawa buku itu ke sekolah untuk ditunjukkan kepada teman-teman sekelasnya. Tapi sekarang Kakek Josh menginginkan agar dia membawa pulang buku tentang rahasia itu?

Ketika Shannon berbelok di pojok jalan menuju rumahnya, dia melihat kejutan kedua hari itu. Mobil ayahnya berada di jalan masuk rumah. “Mengapa Ayah pulang lebih awal?” Tanya Shannon pada dirinya sendiri. Dia tersenyum. “Ayah pasti sedang mengerjakan sesuatu.” Shannon menyayangi ayahnya karena ayahnya sangat menyenangkan. Di pagi hari mereka melemparkan remah-remah roti untuk burung-burung. Di malam hari ayahnya membacakan cerita atau menyanyikan lagu. Tidak peduli berapa kali ayahnya berpura-berpura menabrakkan hidungnya sendiri ke dinding, Shannon akan selalu terkekeh-kekeh. Selama beberapa hari ayahnya mengejutkannya dengan cara tiba-tiba muncul di kantin sekolah. Suatu kali Ayah menempel daftar orang-orang yang menyayangi Shannon di dinding.

Shannon tidak tahu mengapa ayahnya sudah pulang, namun dia sangat bersemangat untuk menjumpai ayahnya. Ketika dia masuk, dilihatnya ayahnya berada di ruang belajar. “Ayah?” Ayahnya tidak menoleh. Ayahnya sedang duduk membungkuk di kursi kantornya dengan wajah ditutupi tangan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ayah,” tanyanya seraya berjalan mendekat,
“apakah Ayah sakit?”
Ayahnya masih tidak menanggapi.
“Ada apa, Ayah?”
Ayahnya menengadah dengan terkejut.
“Oh, Shannon. Ayah tidak mendengarmu masuk.”
Mata ayahnya merah, dan pipinya basah.

“Ada apa, Ayah?”
“Oh, tidak ada apa-apa, Sayang.”
“Ceritakanlah padaku apa yang terjadi.”
“Hanya masalah di kantor. Jangan khawatir.”
“Ayah …” Shannon memanjangkan kata itu sambil menggunakan nada suara merajuk. Ayahnya menghela nafas dan mendudukkan Shannon di pangkuannya.
“Oh, ini tentang teman-teman di kantor, Shannon. Ayah benar-benar berpikir bahwa Ayah akan mendapatkan promosi itu.”

“Mendapatkan apa?”
“Ayah berpikir bahwa Ayah akan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Tapi atasan Ayah memilih orang lain, bukan Ayah.”
“Mengapa?”
“Katanya Ayah tidak cukup baik, Ayah tidak memiliki cukup motivasi untuk maju.”
“Apakah yang dipikirkan atasan Ayah itu begitu penting, Ayah?”
“Ya, terasa menyakitkan ketika orang berbicara demikian. Ingat saat Jennifer tidak mengajakmu menginap di rumahnya?”

“Yah, hanya akulah satu-satunya anak yang tidak diajak.”
“Bagaimana perasaanmu?”
Shannon berpikir sejenak dan kemudian menyahut, “Tersisih.”
“Itulah yang Ayah rasakan sekarang. Ayah sudah kehilangan sesuatu yang kelihatannya penting bagi Ayah.”

Untuk beberapa saat tidak seorang pun yang berbicara. Shannon hanya duduk di pangkuan ayahnya, sambil melihat keluar jendela. Dia belum pernah melihat ayahnya sesedih ini. Nyatanya, dia tidak mengetahui bahwa orang dewasa dapat menjadi patah semangat seperti ini. Tiba-tiba dia mengerti mengapa Kakek Josh meminjamkan buku itu kepadanya. Shannon turun dan mengambilnya. “Aku ingin membacakan sebuah cerita untukmu, Ayah.” “Kau ingin membacakan sebuah cerita untuk Ayah?” “Yah, ini adalah cerita yang Kakek Josh tunjukkan kepadaku.” Dia kembali duduk di pangkuan ayahnya dan mulai membaca.

Kaum Wemmick

Kaum Wemmick adalah sekelompok orang-orangan kayu berukuran kecil. Masing-masing orang-orangan kayu tersebut dipahat oleh seorang tukang kayu bernama Eli. Tempat kerjanya berada di atas bukit yang menghadap ke arah desa mereka. Setiap Wemmick berbeda. Sebagian berhidung besar, lainnya bermata lebar. Sebagian tinggi, lainnya pendek. Sebagian mengenakan topi, lainnya mengenakan jubah. Tetapi semuanya dibuat oleh pemahat yang sama dan tinggal di desa yang sama pula.

Dan sepanjang hari, setiap hari, kaum Wemmick mengerjakan hal yang sama: Mereka saling memberikan stiker. Setiap Wemmick memiliki sekotak stiker bintang berwarna emas dan sekotak stiker bulat berwarna abu-abu. Di sepanjang jalanan di seluruh penjuru kota, orang-orangan itu terlihat saling menempelkan bintang atau bulatan. Orang-orangan kayu yang indah, yang berkayu halus dan bercat bagus, selalu mendapatkan bintang. Namun untuk yang kayunya kasar atau catnya terkelupas, kaum Wemmick memberikan bulatan kepadanya.

Orang-orangan yang berbakat mendapatkan bintang juga. Sebagian orang-orangan kayu itu mampu mengangkat tongkat-tongkat besar tinggi-tinggi hingga melampaui kepala mereka atau melompati kotak-kotak yang tinggi. Sebagian lagi mahir dalam berpidato atau mampu menyanyikan lagu yang sangat indah. Semuanya memberi mereka bintang. Beberapa Wemmick memiliki bintang-bintang di sekujur tubuh mereka! Tiap kali mereka mendapat bintang, bintang itu membuat mereka merasa hebat sehingga mereka melakukan sesuatu yang lain dan mendapatkan bintang lagi. Sebaliknya Wemmick yang lain, yang hanya dapat mengerjakan hal-hal yang remeh, hanya mendapatkan bulatan.

Punchinello adalah seorang di antaranya. Dia mencoba melompat tinggi-tinggi seperti yang lain, namun dia selalu saja terjatuh. Dan saat dia terjatuh, orang-orang lain akan berkumpul mengelilinginya dan memberinya bulatan. Kadang-kadang ketika dia terjatuh, kayunya akan tergores, sehingga orang-orangan kayu itu akan memberinya lebih banyak bulatan lagi. Dia akan mencoba menjelaskan mengapa dia sampai terjatuh dan mengucapkan sesuatu yang konyol, dan kaum Wemmick akan memberinya lebih banyak bulatan lagi.

Setelah beberapa lama, Punchinello memiliki begitu banyak bulatan sampai-sampai dia tidak mau lagi pergi keluar. Punchinello takut bahwa dia akan melakukan sesuatu yang bodoh seperti melupakan topinya atau tercebur ke air, dan kemudian orang-orangan kayu akan memberinya bulatan lagi. Nyatanya, dia sudah memiliki begitu banyak bulatan abu-abu sehingga orang-orangan yang lain akan datang juga dan memberinya bulatan yang lain tanpa alasan yang jelas. “Dia pantas menerima banyak bulatan,” orang-orangan kayu itu saling sepakat. “Dia bukan orang-orangan kayu yang baik.”

Setelah beberapa waktu lamanya, Punchinello mempercayai mereka. “Aku bukanlah seorang Wemmick yang baik,” ucapnya. Beberapa kali ketika Punchinello pergi keluar, dia bergabung dengan Wemmick lain yang memiliki banyak bulatan. Dia merasa lebih nyaman berada di sekeliling mereka. Suatu hari Punchinello berjumpa dengan seorang Wemmick yang tidak mirip dengan Wemmick lain yang pernah dia jumpai sebelumnya. Wemmick yang ini tidak memiliki bulatan atau bintang. Dia hanya terbuat dari kayu. Namanya Lucia.

Orang-orangan kayu itu sudah berusaha untuk memberinya stiker; tetapi stiker-stiker itu tidak mau melekat di tubuhnya. Sebagian orang-orangan kayu mengagumi Lucia karena dia tidak memiliki bulatan, jadi mereka akan berlari untuk memberinya bintang. Namun bintang itu akan terlepas juga. Sebagian orang-orangan kayu meremehkannya karena dia tidak memiliki bintang, jadi mereka akan memberinya bulatan. Tapi bulatan itu juga tidak bisa melekat. Seperti itulah yang aku mau, pikir Punchinello. Aku tidak menginginkan tanda dari orang-orangan kayu lainnya. Jadi bertanyalah Punchinello pada Wemmick tanpa stiker itu bagaimana dia bisa berhasil melakukannya.

“Mudah saja,” sahut Lucia. “Setiap hari aku pergi menemui Eli.”
“Eli?”
“Ya, Eli. Sang pemahat kayu. Aku duduk di bengkelnya bersama dia.”
“Mengapa?”
“Mengapa tidak kaucari tahu saja sendiri? Pergilah ke atas bukit. Dia ada di sana.” Dan dengan kalimat itu, tanpa isyarat apa pun, Wemmick tersebut berbalik dan meloncat pergi.
“Tapi dia tidak akan mau melihatku!” teriak Punchinello. Lucia tidak mendengar. Jadi Punchinello pulang ke rumah.

Dia duduk di dekat jendela dan memperhatikan orang-orangan kayu yang bergegas ke sana kemari sambil memberikan bintang dan bulatan pada satu sama lain. “Ini tidak benar,” gumamnya pada diri sendiri. Dan diputuskannyalah untuk pergi menemui Eli. Punchinello berjalan menempuh jalan setapak yang sempit menuju puncak bukit dan melangkah masuk ke dalam toko yang besar itu. Matanya yang terbuat dari kayu membelalak melihat ukuran setiap benda. Kursinya setinggi dirinya. Punchinello harus berjinjit di atas jari kakinya untuk melihat bagian atas bangku kerja. Palunya sepanjang lengannya. Punchinello menelan ludah dengan susah payah. “Aku tidak mau berada di sini!” dan dia berbalik untuk pergi.

Dan Punchinello mendengar namanya.
“Punchinello?” Suara itu dalam dan kuat.
Punchinello berhenti.
“Punchinello! Senang sekali dapat berjumpa denganmu. Kemarilah dan biar kulihat dirimu.”
Punchinello berbalik perlahan dan memandang kepada tukang kayu berjanggut yang bertubuh besar itu.
“Engkau tahu namaku?” Wemmick kecil itu bertanya.
“Tentu saja aku tahu. Akulah yang membuatmu.”

Eli merunduk dan mengambilnya dan mendudukkannya di atas bangku. “Hmm,” sang pembuat berbicara sambil berpikir ketika ia memeriksa bulatan-bulatan abu-abu itu. “Kelihatannya kamu sudah diberi tanda yang jelek.”
“Aku tidak bermaksud demikian, Tuan Eli. Aku sudah berusaha keras.”
“Oh, engkau tidak perlu membela diri di hadapanku, Nak. Aku tidak peduli apa yang Wemmick lain pikirkan tentang dirimu.”

“Sungguhkah?”
“Sungguh, dan seharusnya kamu juga bersikap demikian. Siapakah mereka yang memberimu bintang dan bulatan? Mereka adalah Wemmick juga, sama sepertimu. Apa yang mereka pikirkan tidak penting, Punchinello. Yang terpenting adalah apa yang kupikirkan. Dan kupikir engkau sangat istimewa.”
Punchinello tergelak. “Aku, istimewa? Mengapa? Aku tidak bisa berjalan cepat. Aku tidak dapat meloncat tinggi. Catku terkelupas. Mengapa aku istimewa bagi Tuan?”
Eli menatap Punchinello, meletakkan tangannya di atas bahu kayu yang kecil itu, dan berkata perlahan-lahan. “Karena engkau milikku. Itulah alasan mengapa engkau penting bagiku.”

Punchinello belum pernah melihat seseorang menatapnya seperti itu–seperti pembuatnya. Dia tidak tahu harus berkata apa.

“Setiap hari aku berharap engkau akan datang,” Eli menjelaskan.
“Aku datang karena aku bertemu seseorang yang tidak memiliki tanda.”
“Aku tahu. Dia bercerita padaku tentang dirimu.”
“Mengapa stiker-stiker tidak melekat pada tubuhnya?”
“Karena dia telah memutuskan bahwa apa yang aku pikirkan jauh lebih penting daripada apa yang mereka pikirkan. Stiker itu hanya melekat jika engkau membiarkannya melekat.”

“Apa?”
“Stiker-stiker itu hanya melekat apabila mereka itu penting bagimu. Semakin banyak engkau mempercayai cinta kasihku, semakin sedikit engkau memedulikan stiker mereka.”
“Aku tidak yakin dapat mengerti hal ini.”
“Engkau akan mengerti, tapi itu membutuhkan waktu. Engkau sudah mempunyai banyak tanda. Untuk sekarang ini, datanglah saja padaku setiap hari dan biarkan aku mengingatkanmu betapa besar aku memedulikanmu.”

Eli mengangkat Punchinello dari kursi dan membantunya berdiri di atas lantai. “Ingatlah,” Eli berkata saat Wemmick itu melangkah keluar dari pintu, “engkau istimewa karena aku membuatmu. Dan aku tidak melakukan kesalahan.” Punchinello tidak berhenti, namun dalam hatinya dia berpikir, aku pikir Eli bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

Dan ketika dia berpikir demikian, sebuah bulatan jatuh ke tanah.

Shannon menengadah menatap Ayahnya. Ayahnya tersenyum. “Bagaimana kamu tahu bahwa Ayah perlu mendengar cerita itu?”
“Aku tidak tahu. Tapi Allah tahu.”
“Hmm, Ayah merasa seperti Punchinello.”
“Ketika dia tertutup oleh bulatan-bulatan itu? tanya Shannon.
“Bukan, tapi ketika bulatan pertama terlepas.”

Ditulis dari “Ceritakan Padaku Rahasia Itu”
Oleh Max Lucado
Halaman 73-81

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s