Rahasia Kemenangan

Standard

“Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!” (1 Korintus 16:13).

Perjalanan itu benar-benar seburuk yang Landon takutkan. Saudara sepupunya seorang pembuat onar. Setiap kali bersamanya, pasti Landon tertimpa masalah. “Dia selalu memiliki cara untuk membuatku melakukan hal-hal yang buruk,” Landon menjelaskan kepada Kakek Josh sebelum perjalanan dimulai. “Misalnya tahun lalu, dia menyelinap masuk ke dalam bioskop yang sedang memutar film untuk orang dewasa. Sebenarnya aku tidak mau ikut, tapi aku tahu, kalau aku berbuat demikian, aku akan merasa seperti orang yang kurang pergaulan. Jadi aku ikut.”

“Kedengarannya dia memberi pengaruh yang buruk kepadamu,” sahut Kakek Josh. “Kadang sepertinya dia itu bahkan lebih dari sekadar pengaruh buruk. Rasanya seolah-olah dia punya kendali atas diriku.”

Kakek Josh masuk ke dalam ruang belajar dan kembali dengan membawa buku tentang rahasia-rahasia itu. Dia melepas kunci dari kalung lehernya, lalu memberikan kunci dan buku itu kepada Landon. “Saat pencobaan tiba, pergilah menyendiri dan bacalah cerita yang berjudul, ‘Kidung Sang Raja.’ Cerita itu akan menguatkan dirimu.” Pencobaan itu datang lebih cepat dari yang Landon perkirakan. Saat orangtua mereka sedang mengobrol di kebun depan, sepupunya membungkuk dan berbisik, “Kita akan berpesta malam ini.” Kemudian ketika hanya tinggal mereka berdua, dia memberi tahu Landon, “Setelah orangtua kita tidur, kita akan menyelinap keluar. Aku mengenal seorang gadis yang orangtuanya sedang pergi ke luar kota. Nanti semua orang akan berada di sana!”

Landon mencoba untuk memikirkan sebuah alasan penolakan, tapi dia tidak dapat menemukan alasan yang bagus. Lalu dia teringat akan buku tentang rahasia-rahasia itu. Landon mengucapkan selamat tidur kepada setiap orang, menganggukkan kepala ketika sepupunya mengedipkan matanya, dan pergi ke kamar tamu. “Beri tahu aku apa yang harus kulakukan, ya Tuhan,” Landon berdoa sambil duduk di ranjang dan membuka buku itu. Dia menemukan bab yang dimaksud dan mulai membacanya.

KIDUNG SANG RAJA

Ketiga ksatria itu duduk mengelilingi meja dan mendengarkan sang pangeran berbicara. “Ayahku, sang raja, telah berjanji untuk menikahkan saudara perempuanku dengan salah seorang di antara kalian yang sanggup membuktikan diri layak menikahinya.” Sang pangeran berhenti sejenak untuk membiarkan para ksatria tersebut memahami berita itu. Dia memandangi wajah mereka–wajah-wajah orang yang sudah menempuh jarak bermil-mil dan memiliki luka-luka akibat pertempuran. Di seluruh kerajaan itu tidak seorang pun yang mengenal ksatria yang lebih tangguh daripada ketiga ksatria ini. Dan ketiga ksatria ini tidak mengenal gadis lain yang lebih cantik daripada sang putri raja.

Masing-masing ksatria itu pernah memohon kepada raja untuk meminang sang putri. Sang raja hanya menjanjikan sebuah kesempatan–sebuah ujian untuk mengetahui siapa yang layak untuk menikah dengan putrinya. Dan kini saat pengujian itu telah tiba.

“Ujianmu berupa sebuah perjalanan,” pangeran menjelaskan, “sebuah perjalanan menuju puri raja melalui Hutan Hemlock.”

“Hutan yang itukah?” seorang ksatria bertanya dengan cepat.
“Hutan yang itu,” jawab sang pangeran.

Timbul keheningan sesaat sementara para ksatria tersebut memikirkan kata-kata itu. Masing-masing merasakan tikaman rasa takut. Mereka tahu bahaya Hutan Hemlock, tempat yang gelap nan mematikan itu. Sebagian dari tempat itu memiliki pohon-pohon yang begitu lebat sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai tanah. Tempat itu adalah hunian kaum Hopenots–makhluk bertubuh kecil, licik, dan bermata kuning. Kaum Hopenots tidak begitu kuat, namun mereka cerdik, dan jumlah mereka banyak. Sebagian orang percaya bahwa kaum Hopenots adalah kaum pengembara yang tersesat dan berubah rupa karena kegelapan itu. Akan tetapi, tidak seorang pun yang mengetahui dengan pasti.

“Apakah kita akan pergi sendirian?” Carlisle angkat bicara–pertanyaan itu terdengar aneh karena keluar dari mulut orang terkuat di antara ketiga ksatria itu. Pedangnya yang mengagumkan terkenal di seluruh kerajaan. Tetapi bahkan prajurit berhati baja ini pun tahu bahwa lebih baik tidak pergi ke Hutan Hemlock sendirian.

“Masing-masing boleh memilih seorang teman.”

“Tapi hutan itu gelap, pohon-pohonnya membuat langit tampak hitam kelam. Bagaimana kita bisa menemukan puri itu?” Kali ini Alon yang berbicara. Dia tidak sekuat Carlisle, tapi jauh lebih gesit. Dia terkenal karena kegesitannya. Alon akan meninggalkan musuhnya dalam kebingungan karena serangan mereka dapat dihindarinya dengan cara masuk ke dalam perpohonan atau berlari melompati tembok. Namun kecepatan tanpa arah adalah sebuah kesia-siaan. Jadi Alon bertanya, “Lalu bagaimana kami dapat menemukan jalan itu?”

Sang pangeran menganggukkan kepalanya, meraih sesuatu di dalam kantongnya, dan menarik keluar sebuah seruling gading. “Hanya ada dua buah seruling semacam ini,” dia menjelaskan. “Yang satu adalah seruling ini dan yang satu lagi adalah seruling sang raja.” Dia meletakkan seruling itu di bibirnya dan memainkan sebuah lagu yang lembut nan merdu. Belum pernah para ksatria itu mendengarkan musik yang begitu mendayu-dayu. “Seruling ayahku memainkan lagu yang sama. Nah, lagu ayahku itu akan menuntun kalian menuju puri.”

“Bagaimana caranya?” tanya Alon.

“Tiga kali sehari sang raja akan meniup serulingnya dari balik dinding puri. Saat matahari terbit, saat matahari berada di puncak, dan saat matahari tenggelam. Dengarkanlah sang raja. Ikutilah lagunya dan kalian akan menemukan puri itu.”

“Hanya ada satu seruling lain yang seperti ini?”
“Hanya ada satu.”
“Dan engkau dan ayahmu melagukan musik yang sama?”
“Ya.”

Cassidonlah yang bertanya demikian. Cassidon terkenal karena kewaspadaannya. Dia melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Dia dapat mengetahui rumah seorang pengembara hanya dari kotoran yang melekat pada sepatunya. Dia dapat mengetahui kebenaran sebuah cerita hanya dari sorot mata orang yang menuturkannya. Dia dapat memberitahukan jumlah sebuah pasukan yang sedang berderap hanya dari jumlah burung-burung yang beterbangan menjauh dari pasukan itu. Carlisle dan Alon terheran-heran mengapa Cassidon menanyakan tentang seruling itu. Tidak akan lama bagi mereka untuk mengetahui alasannya.

“Pertimbangkanlah mara bahayanya dan pilihlah teman perjalananmu dengan hati-hati,” sang pangeran mengingatkan. Dan itulah yang mereka lakukan. Keesokan paginya, ketiga ksatria itu pergi menunggang kudanya dan memasuki Hutan Hemlock. Teman pilihan masing-masing ksatria berkuda di belakang mereka.

Ketukan di pintu mengejutkan Landon. Dia mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap sepupunya yang sedang berdiri di pintu. “Semua orang sudah akan tidur,” bisiknya. “Aku akan kembali sebentar lagi.” Dan dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang dia berkata, “Selamat malam Landon. Sampai bertemu besok pagi.” Landon mengerang. “Bukan hanya para ksatria ini saja yang menempuh hutan yang berbahaya,” gumamnya pada dirinya sendiri seraya memperhatikan buku itu lagi.

Bagi orang-orang yang berada di dalam puri sang raja, hari-hari penantian berlalu dengan lambat. Semua orang mengetahui ujian itu. Dan semua bertanya-tanya, ksatria manakah yang akan memenangkan sang putri. Tiga kali sehari sang raja memainkan musik yang bagaikan menembus pepohonan Hutan Hemlock. Dan tiga kali sehari orang-orang berhenti bekerja dan mendengarkan. Setelah sekian hari dilewati dan sekian lagu dimainkan, seorang prajurit penjaga melihat dua sosok manusia yang berjalan terseok-seok keluar hutan menuju tempat lapang. Tidak seorang pun tahu siapa mereka. Mereka berdua berada terlalu jauh dari puri. Keduanya tidak membawa kuda, senjata, maupun perisai.

“Ayo, cepat,” perintah sang raja kepada para pengawal, “bawa mereka masuk. Rawat luka-luka mereka dan beri mereka makanan, tapi jangan sampai orang tahu siapa mereka. Dandanilah ksatria itu seperti seorang pangeran, dan akan kita lihat wajah mereka nanti malam di pesta dansa.” Sang raja kemudian membubarkan para pengawal dan menyuruh mereka mempersiapkan pesta. Malam itu semangat merayakan memenuhi aula dansa. Di setiap meja, orang-orang berusaha menerka ksatria manakah yang berhasil selamat dari Hutan Hemlock.

Akhirnya, tibalah saat untuk mengumumkan sang pemenang. Melihat isyarat sang raja, semua orang menjadi tenang, dan sang raja mulai memainkan serulingnya. Sekali lagi seruling gading itu melantunkan melodinya. Semua orang menoleh untuk melihat siapakah yang akan masuk. Banyak orang berpikir ksatria itu adalah Carlisle, ksatria yang paling kuat. Yang lain merasa ksatria itu pasti Alon, ksatria yang gesit. Tapi bukan keduanya. Ksatria yang berhasil melewati ujian itu adalah Cassidon, ksatria yang paling bijaksana. Dia melangkah dengan cepat melintasi aula dansa, mengikuti suara seruling untuk terakhir kalinya dan membungkukkan badan di hadapan sang raja.

“Ceritakanlah kepada kami tentang perjalananmu,” demikian perintah raja kepada Cassidon. Semua orang mencondongkan badannya ke depan untuk mendengarkan.

“Kaum Hopenots benar-benar licik,” Cassidon memulai kisahnya. “Mereka menyerang, tapi kami bisa bertahan. Mereka merampas kuda-kuda kami, tapi kami terus melanjutkan perjalanan. Yang hampir menghancurkan kami adalah sesuatu yang jauh lebih buruk.”

“Apa itu?” tanya sang putri.
“Mereka meniru.”
“Mereka meniru?” tanya sang raja.
“Ya, Rajaku. Mereka meniru. Tiap kali musik dari seruling Tuanku Raja terdengar di hutan, ratusan seruling lain mulai dimainkan. Di sekeliling kami semuanya terdengar musik–lagu dari segala penjuru.”
“Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Carlisle dan Alon,” lanjutnya, “namun saya tahu kekuatan dan kecepatan tidak akan menolong untuk mendengar bunyi seruling yang benar.”

Sang raja mengajukan pertanyaan yang juga ada di bibir setiap orang. “Lalu bagaimana caranya kau bisa mendengar laguku?”
“Saya memilih teman yang tepat,” jawabnya sambil mempersilahkan teman seperjalanannya memasuki ruangan. Semua orang menahan nafas. Teman yang dimaksud ternyata sang pangeran. Di tangannya terdapat seruling yang satunya.

“Saya mengetahui bahwa hanya ada satu orang yang dapat memainkan lagu sebagaimana yang Tuan Raja mainkan,” Cassidon menjelaskan. “Jadi saya mengajak sang pangeran untuk pergi bersama saya. Selama saya menempuh perjalanan, sang pangeran terus bermain seruling. Saya mempelajari baik-baik kidung Tuanku Raja sehingga biar pun seribu seruling palsu berusaha mengubur musik Tuanku Raja, saya masih dapat mendengarnya. Saya mengenali kidung Tuanku Raja dan pergi mengikutinya.

Ketika Landon menutup buku itu, secarik kertas terjatuh. Diambilnya kertas itu. “Ikutilah kidung sang raja, Landon. Salam sayang, Kakek Josh.” “Ya, Kakek Josh. Itulah yang akan kulakukan.” Landon memutuskan dengan suara keras. “Itulah yang akan kulakukan.”

Beberapa menit kemudian sepupunya mengintip melalui celah di pintu.

“Ayo, Landon. Mari kita pergi dari sini.”
“Aku memutuskan untuk tidak ikut pergi.”
“Apa? Ayolah, jangan menjadi aneh begitu. Mari kita bersenang-senang.”
“Tidak, terima kasih,” suara Landon terdengar mantap.
“Aku tetap tinggal di rumah.”

Dan dengan tersenyum, dia menambahkan,
“Ada musik yang ingin kudengarkan.”

Ditulis dari buku: “Ceritakan Padaku Rahasia Itu”
Penulis: Max Lucado
Halaman: 39-47

Pesan Moral: Sama seperti yang pangeran katakan dalam pesannya kepada ketiga ksatria tersebut, “Pertimbangkanlah mara bahayanya dan pilihlah teman perjalananmu dengan hati-hati,” hendaklah hal itu juga menjadi pedoman dalam hidup setiap kita. Pertimbangkan baik-baik segala keputusan yang kita ambil di dalam hidup ini (karena ada akibatnya, baik dalam jangka pendek maupun panjang). Serta bertemanlah dengan sebanyak mungkin orang, tetapi jangan terpengaruh oleh sikap mereka yang kurang baik. Terang harus menerangi tempat yang gelap, bukannya terang dipengaruhi kegelapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s