Pangeran Bahagia

Standard

Pada suatu hari ada kerumunan banyak orang yang berkumpul di alun-alun kota, sambil mengelilingi sebuah patung emas berbentuk pangeran tampan yang berdiri dengan gagah. Patung tersebut berdiri lengkap dengan tangan kanan yang terjulur ke atas sambil memegang pedang yang terhunus sedang tangan kirinya memegang sarung pedangnya. Patung pangeran tersebut memakai sebuah mahkota dan kedua bola matanya terbuat dari batu safir yang berwarna biru, sedangkan di gagang dari pedang tersebut ada sebuah batu rubi berwarna merah.

Di sekitar patung tersebut tampak terlihat ada ibu yang berusaha menghibur anaknya yang menangis seraya berkata, “Kenapa kamu tidak seperti Pangeran Bahagia? Ia tidak pernah menangis..” Ada juga seorang bapak tua yang berkata sambil memandang patung tersebut, “Untunglah di dunia ada juga orang yang bahagia..” Anak-anak kecil yang bermain bersama dan berkata pada temannya, “Ia seperti malaikat!” Lalu ada bapak tua yang lewat di sekitar anak-anak tersebut, “Tahu dari mana? Kalian kan tidak pernah lihat malaikat?” Salah satu dari mereka menjawabnya, “Pernah! Dalam mim…pi!” Sang bapak Walikota pun melihat dengan teleskop dari tempat kediamannya mengatakan, “Ia secantik penunjuk arah angin. Tapi sayang, ia tak ada fungsinya.”

Jauh dari kota tersebut, ada rombongan burung yang hendak menuju ke Mesir. Salah satu burung dari rombongan tersebut tertarik pada rumput alang-alang yang bergerak terbang mengikuti arah mata angin. “Oh cantiknya engkau alang-alang, bolehkah aku mencintaimu?” Meski alang-alang itu terlihat cantik namun akhirnya burung tersebut berkata pada dirinya sendiri, “Bodoh sekali aku! Dia tak punya uang dan temannya terlalu banyak. Ia tak pernah bicara padaku! Jangan-jangan ia mempermainkanku!” Lalu alang-alang itu bergerak tertiup angin dan burung tersebut berkata, “Lihat itu! Ia hanya mau menggoda angin! Kamu sudah mempermainkanku! Lebih baik aku ke piramida saja! Selamat tinggal!”

Lalu burung tersebut terbang dan melewati alun-alun kota yang terdapat patung pangeran tersebut. “Di mana aku harus menginap malam ini? Mudah-mudahan kota ini siap akan kedatanganku…” Saat berteduh di bawah patung pangeran tersebut, sang burung begitu bahagia karena dia mempunyai kamar emas dan dia jatuh tertidur. Tak lama setelah tertidur, burung tersebut merasa ada tetesan air yang jatuh ke wajahnya. “Astaga. Aneh.. Tidak ada awan di langit, bintang-bintang juga bersinar terang. Cuaca Eropa Utara sungguh menakutkan,” dan burung tersebut tertidur kembali. Tak lama kemudian jatuhlah tetesan air di wajahnya kembali. “Gimana sih!!? Patung ini payah! Tidak bisa melindungiku dari hujan. Aku mau tidur di cerobong asap saja!”

Saat melihat ke arah atas patung tersebut, sang burung tersebut melihat ternyata itu bukan air hujan.

“Siapa kamu?” tanya sang burung kepada patung emas tersebut.
“Aku Pangeran Bahagia.”
“Kenapa menangis? Kamu sudah membuatku basah kuyup,” gerutu sang burung kepada patung pangeran tersebut.

Patung pangeran tersebut menjawab,

“Waktu aku hidup, aku punya hati manusia.. Aku tidak tahu apa itu air mata, karena aku tinggal di istana Sans-Souci. Di sana kesedihan tidak diperbolehkan.. Aku tak pernah tahu apa apa di luar istanaku. Yang kutahu, semua orang memanggilku Pangeran Bahagia, dan aku memang bahagia. Tapi setelah aku mati, mereka meletakkanku di sini. Aku jadi bisa melihat kesedihan kotaku. Meski hatiku dari timah, tapi aku tetap merasa pilu..”

Patung Pangeran Bahagia kembali melanjutkan,

“Jauh di sana.. Ada tukang jahit yang sedang membuat gaun untuk pesta istana. Putranya sakit dan minta dibelikan sebuah jeruk. Ibunya hanya bisa memberinya air sungai.. Walet, tolong antarkan batu Rubi di pedangku ini. Aku tidak bisa bergerak, kakiku tertanam di sini.”

Walet tersebut menjawab,
“Tapi teman-temanku menungguku di Mesir!”
“Walet, Walet kecil, jadilah kurirku malam ini, anak itu haus sekali, dan ibunya sedih sekali..”
Lalu Walet tersebut menjawab,
“Tapi aku tidak suka anak-anak. Dingin sekali di sini. Baiklah, aku akan menemanimu dan jadi kurirmu malam ini.”
“Terima kasih Walet kecil,” jawab sang pangeran.

Lalu Walet tersebut mengambil batu Rubi di gagang pedang pangeran tersebut dan terbang ke arah rumah penjahit istana. Tampak Walet melewati sebuah rumah seorang yang kaya dan penghuninya berkata, “Semoga gaunku bisa selesai tepat waktu untuk ke pesta istana. Tukang jahit itu memang malas!” Lalu Walet tersebut sampai di rumah tukang jahit tersebut dan tampak bahwa anaknya sedang sakit. Walet itu meletakkan batu Rubi di dekat mesin jahit dan kembali ke patung pangeran tersebut. “Aku berhasil! Aku berhasil! Aneh sekali, aku merasa hangat, meski udara begitu dingin!” “Itu karena kamu sudah berbuat baik,” jawab patung pangeran.

Keesokan paginya Walet tersebut memutuskan bahwa malamnya dia akan pergi ke Mesir. Lalu pada malam harinya, Walet tersebut berpamitan kepada patung pangeran..
“Walet, maukah kau menemaniku lagi malam ini?”
“Tapi aku sudah ditunggu di Mesir..”
Patung pangeran tersebut mengatakan,
“Jauh di sana, ada seorang pemuda yang sedang menyelesaikan naskah untuk sandiwara teater. Tapi tangannya terlalu dingin untuk menulis, tidak ada api di perapian dan ia sudah pingsan karena lapar.”

“Baiklah! Apa aku harus memberinya batu Rubi lagi?”

Sunyi sesaat, lalu patung pangeran tersebut berkata,

“Aku tidak punya rubi lagi. Ambil mataku yang terbuat dari Safir ini. Dengan ini ia bisa makan dan menyelesaikan naskahnya.”
“Pangeran! Aku tidak bisa melakukan ini!” seru Walet tersebut.
“Tolong, lakukan apa yang kuminta..”

Lalu Walet tersebut mengambil Safir yang ada di mata patung pangeran dan terbang ke rumah pemuda tersebut. Saat pemuda tersebut melihat batu Safir di depannya, ia begitu bergembira dan berkata, “Akhirnya ada yang mengakui karyaku. Ini pasti dari seorang penggemar. Aku bisa menyelesaikan naskahku sekarang!”

Pada keesokan paginya, Walet kembali berpamitan kepada patung pangeran dan ingin mengucapkan selamat tinggal. Lalu patung pangeran berkata,

“Walet, maukah kau menemaniku lagi malam ini?”
Dan Walet menjawab,
“Tapi ini musim dingin, sebentar lagi sudah bersalju. Lebih baik aku pergi dan aku akan kembali dengan membawa batu Rubi dan Safir yang indah untukmu!”
Patung pangeran tersebut berkata,
“Di ujung jalan, ada seorang gadis penjual korek api. Korek apinya basah semua karena jatuh ke selokan. Ayahnya akan memukulinya jika ia pulang tanpa membawa uang. Ia tak punya sepatu dan kaos kaki. Ia juga tak punya rambut. Cabut mataku yang satu lagi dan berikan padanya. Ayahnya tidak akan memukulinya lagi.”

“Aku tidak bisa mencabut matamu, kamu akan jadi buta!” jawab Walet dengan raut muka yang sedih.
“Walet kecil, mohon lakukan apa yang kuminta…”
Lalu dengan sangat terpaksa Walet mengambil dan memberikan Safir tersebut dan anak kecil itu yang begitu bahagia menerimanya. Walet kembali ke patung pangeran tersebut seraya berkata,
“Kamu sudah buta sekarang. Aku akan menemanimu selamanya!”

Patung pangeran tersebut berkata,
“Jangan Walet, kamu harus pergi ke Mesir.”
“Tidak! Aku akan menemanimu selamanya!” jawab Walet. Lalu Walet menceritakan tentang Mesir yang ingin dikunjunginya kepada patung pangeran tersebut.
“Walet, kamu sudah menceritakan banyak kisah menarik kepadaku. Tapi masih ada kesedihan di luar sana. Terbanglah ke kota dan ceritakan apa yang terjadi!”

Walet melihat beberapa kejadian di kota. Ada kejadian di mana ada seorang tua yang ditolak bekerja, anak-anak yang miskin dan gelandangan serta ada ibu dan anak yang memiliki suami yang kasar dan pemabuk. Walet kembali dan menceritakan semua yang dilihatnya kepada Pangeran Bahagia, “Begitulah yang kulihat..” Lalu Patung pangeran tersebut berkata, “Ambillah daun-daun emas di tubuhku ini. Sebarkan kepada mereka yang miskin.” Lalu Walet mengambil daun-daun emas yang melilit tubuh patung pangeran tersebut kepada mereka yang membutuhkan.

Sampai musim dingin pun tiba di kota itu. Walet berkata kepada patung pangeran tersebut,
“Selamat tinggal Pangeran. Bolehkah aku mencium tanganmu?”
Lalu patung pangeran menjawab Walet,
“Aku senang kamu akhirnya ke Mesir, Walet kecil. Kamu boleh mencium bibirku, karena aku mencintaimu..”
Walet pun menjawab,
“Aku tidak akan ke Mesir, tapi aku ke rumah kematian. Mati adalah saudara tidur, bukan?” Lalu Walet pun jatuh ke tanah dan meninggal. Karena Walet tersebut kecapaian membagi-bagikan dedaunan emas di tubuh patung pangeran, kepada orang-orang yang membutuhkan.

Pada esoknya, bapak Walikota pun melihat patung tersebut dan berkata, “Jelek sekali patung ini! Rubinya hilang, matanya hilang, warnanya tidak emas lagi! Ada burung yang mati pula di sana!” Lalu bapak Walikota menyuruh beberapa orang untuk merobohkan patung tersebut dan berkata, “Lebur saja dia!” Ketika patung Pangeran Bahagia tersebut dilebur, tampak hati yang terbuat dari timah tersebut tidak dapat meleleh. Tukang leburnya berkata, “Hati ini tidak bisa meleleh, kita buang saja!”

Di kekekalan Surga, Tuhan berkata kepada malaikat-Nya, “Bawakan aku dua hal yang paling bernilai di dunia ini.” Lalu malaikat tersebut membawa hati patung Pangeran Bahagia yang terbuat dari timah dan jasad dari Walet. Dan Tuhan pun menjawab, “Pilihan yang tepat. Karena di taman Surga-Ku, burung ini akan menyanyi selamanya, dan di kota emas-Ku, Pangeran ini akan memuliakanku..”

Disadur dari: “Legends of the Legends”
Ditulis oleh: Oscar Wilde
Halaman 21-44

Keterangan Penulis Kisah..

Oscar Wilde (16 Oktober 1854-30 November 1900)

Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde atau Oscar Wilde adalah seorang novelis, dramawan, penyair, dan cerpenis yang lahir di Dublin, Irlandia. Ibunya adalah seorang jurnalis sukses dan ayahnya adalah seorang dokter bedah yang juga penulis buku arkeologi dan cerita rakyat. Dengan selera humornya yang cerdas, Oscar Wilde merupakan salah satu penulis drama yang paling sukses pada akhir Era Victoria di London. Dengan sebuah keluarga yang harus dibiayai, Oscar menerima pekerjaan sebagai penulis muda untuk majalah Woman’s World pada tahun 1887-1889.

Enam tahun selanjutnya adalah periode puncak kreativitas Oscar Wilde. Ia menerbitkan dua koleksi cerita anak, The Happy Prince and Other Tales pada tahun 1988, dan The House of Pomegranates pada tahun 1892. Pementasan naskah teater pertamanya, Lady Windemere’s Fan menuai pujian dan mendatangkan banyak uang. Hal ini meyakinkan Oscar untuk terus menulis naskah sandiwara teater. Naskah lainnya yang tak kalah penting adalah A Woman of No Importance, An Ideal Husband dan The Importance of Being Earnest.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s