Rahasia Kehidupan

Standard

“Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga..” (Matius 5:12).

Landon menelan ludah dengan susah payah dan melipat catatan itu. Gurunya memperhatikan ketika Landon memasukkan catatan itu ke dalam sakunya.

“Ada yang tidak beres?” tanyanya.
“Boleh saya permisi sebentar, Bu?” tanya Landon pada gurunya.
“Adik saya sedang menunggu di aula.”
“Tentu saja.”

Wajah Shannon penuh dengan linangan air mata. Di belakangnya berdirilah Eric, tangannya berada di pundak Shannon, dengan wajah yang tegang.

“Dari mana kamu tahu?” Landon bertanya pada mereka.
“Nenek Melva menelepon ibuku,” sahut Eric.
“Ibu menelepon kantor sekolah. Kakek Josh ada di rumah sakit. Mereka membawanya ke sana pagi ini.”
“Sesuatu terjadi dengan jantung Kakek, Landon.” Shannon mulai terisak.
“Ada yang tidak beres dengan jantung Kakek.”

Nenek Melva adalah satu-satunya orang yang ada di ruang tunggu. Ketika Nenek Melva melihat Eric, Landon, dan Shannon; Nenek tersenyum.

“Kakek Josh pasti akan merasa senang dapat bertemu kalian,”
Ucap Nenek pada mereka.
“Apakah kami boleh masuk?” tanya Landon.
“Hanya untuk beberapa menit.”
Shannon duduk di samping Nenek Melva.
“Apakah Kakek Josh akan baik-baik saja?”
Nenek Melva berbicara pelan-pelan.
“Kakek Josh sangat sakit. Jantung Kakek lemah. Dokter juga tidak tahu.” Suara Nenek Melva terdengar tenang ketika Nenek Melva berbicara, namun mata Nenek penuh dengan linangan air mata.

“Kalian boleh masuk sekarang.” Itu suara suster yang berdiri di pintu. Mereka mengikutinya menuju ke kamar perawatan intensif. Ada sepuluh ruangan yang melingkar mengitari kantor suster. Di belakang setiap dinding kaca terdapat seorang pasien. Beberapa pasien dibalut. Pasien-pasien lainnya dipasangi penyangga tulang. Yang lain, seperti Kakek Josh, lengannya dimasuki selang dan kabel dilekatkan pada kulit mereka. Mereka tidak pernah melihat Kakek Josh begitu diam. Kakek Josh berbaring dengan mata tertutup. Di atas kepala Kakek Josh, ada sebuah monitor yang berbunyi bersama tiap degupan jantungnya. Masker plastik yang dihubungkan pada tabung oksigen menutup hidung dan mulut Kakek.

“Alat ini membantu Kakek Josh untuk bernafas,”
Kata Nenek Melva menjelaskan.

Landon dan Eric berhenti di ujung tempat tidur, namun Shannon bergerak ke sisi Kakek Josh. Dia meletakkan tangannya yang kecil di atas tangan Kakek Josh yang besar dan meremasnya.
“Apakah Kakek dapat berbicara?” tanyanya.
“Tidak dengan tabung oksigen itu,” sahut Nenek Melva,
“tapi Kakek dapat mendengar suaramu.”
Kakek Josh membuka matanya.
“Lihatlah siapa yang ada di sini untuk menjengukmu.”
Nenek Melva berusaha untuk terdengar riang.

Kakek Josh mengangkat alis matanya. Eric dan Landon berjalan mengitari tempat tidur dan berdiri di sisi sahabat tua mereka itu. Mereka tidak pernah melihat Kakek begitu lelah, begitu lemah. Kakek Josh membuka tangannya, dan baik Eric maupun Landon menggenggamnya. Mereka tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi tidak ada seorang pun yang berkata-kata. Mata Kakek Josh menatap wajah-wajah mereka satu per satu. Setelah beberapa saat Kakek Josh mengangkat tangannya dan mulai menulis di udara. “Artinya Kakek ingin menulis sesuatu,” Nenek Melva menafsirkan. “Kakek ingin memberi tahu kita tentang sesuatu.”

Pada sebuah buku yang diletakkan di atas perutnya, Kakek Josh menulis tiga kata dan menyerahkannya pada istrinya. Nenek Melva membacanya, mengangguk perlahan, dan meyakinkan Kakek Josh, “Aku akan membawa mereka ke sana dan membacakannya.” Bersamaan dengan itu, suster masuk ke dalam ruangan itu. “Maaf,” katanya, “tapi jam berkunjung sudah habis. Kalian dapat kembali pada jam empat nanti.” Kakek Josh menatap masing-masing anak sekali lagi. Kakek memaksakan tersenyum dari balik masker. Mereka mengucapkan selamat tinggal. Nenek Melva menunduk dan mencium kening Kakek Josh. “Kami akan kembali,” Nenek berbisik dan meninggalkan ruangan. Kakek Josh menutup matanya.

Selagi mereka berjalan di aula, Landon bertanya kepada Nenek Melva, “Apakah yang ditulis Kakek?” Nenek Melva menyerahkan buku itu kepada Landon. Tulisan tangan Kakek sulit dibaca. “Obs… sto… obster. Bukan, obstet…”
“Obstetrikal,” ujar Nenek Melva. “Kakek menulis ‘ruang obstetrikal.'”
“Apa itu?” Shannon bertanya.
“Itu nama sebuah ruangan. Bagian dari rumah sakit. Kakek Josh menginginkan Nenek untuk membawa kalian ke sana dan memberitahukan sesuatu.”
“Kata yang ketiga apa?”
Rahasia.” Nenek Melva tersenyum.
“Kakek ingin Nenek membacakan kalian sebuah rahasia dari buku itu.”

Landon tidak tahu apa arti ‘obstetrikal,’ tapi dia tidak merasa ingin bertanya. Dia sedang tidak bersemangat untuk berbicara banyak. Begitu jugan dengan yang lain. Mereka bagaikan sekelompok orang pendiam yang sedang naik lift ke lantai bawah. Hanya Shannon yang berbicara. “Rumah sakit adalah tempat yang menyedihkan,” komentarnya. “Apa yang akan kamu lihat mungkin dapat mengubah pikiranmu,” kata Nenek Melva menanggapi seraya merangkul pundak Shannon.

Pintu lift terbuka ke arah ruangan yang penuh warna-warni yang cerah dan orang-orang yang ceria. Gambar balon-balon berwarna cerah dilukis di sebuah dinding, dan akuarium warna-warni ada di seberangnya. Tepat di depannya terlihat barisan punggung orang–orang-orang yang melihat melalui kaca jendela yang besar. Mereka tertawa dan menunjuk-nunjuk dan mengangkat anak-anak kecil sehingga dapat ikut melihat ke dalam.

“Ini ruangan bayi!” seru Eric.
“Di sinilah tempat sepupuku dilahirkan.”
“Apakah kita dapat melihat bayi-bayinya?” Shannon bertanya.
“Itulah alasan kita berada di sini,” sahut Nenek Melva.
Keempat orang itu menuju ke jendela. Shannon cukup tinggi untuk mengintip dan melihat bayi-bayi yang baru lahir itu.
“Bayi-bayi itu begitu mungil!” serunya.
“Berapakah usia mereka?” tanya Landon sambil dia melihat pada barisan ranjang bayi.
“Beberapa bayi lahir pagi ini,” jawab Nenek Melva.
“Mereka baru dilahirkan!”

Sungguh mudah untuk merasa takjub kepada tubuh-tubuh mungil yang terbungkus selimut itu. Sebagian besar bayi sedang tidur, wajah-wajah mungil yang lembut dan tenang. Namun sepasang bayi menangis keras-keras.

“Mereka pasti lapar,” Eric tertawa.
“Mereka sudah menempuh perjalanan yang melelahkan!” Nenek Melva menambahkan.
“Hmm,” Landon mengamati,
“Ruangan ini persis berlawanan dengan ruangan tempat Kakek Josh berada. Di sini semua orang merasa senang dan bergembira. Di atas sana, orang-orang begitu diam dan ketakutan.”
“Untuk satu hal, kedua ruangan itu memang berbeda,” Nenek Melva menyetujui, “namun dalam hal yang lain, kedua ruangan itu sangat mirip.”
“Bagaimana mungkin?” tanya Landon.
“Mengapa kita tidak duduk saja. Biarlah Kakek Josh yang menjelaskan kepada kalian.”

Mereka menuju ke sebuah sofa dan duduk. Nenek Melva berbicara seraya mengambil buku tentang rahasia itu dan kunci dari dompetnya.

“Kakek Josh suka datang kemari. Setidaknya satu kali dalam seminggu Kakek datang berkunjung.”
“Apakah Kakek Josh menyukai bayi-bayi?” Shannon bertanya.
“Itu hanya sebagian alasannya saja. Kakek juga menyukai apa yang Allah ajarkan kepada Kakek di sini.”
“Apa?”
“Beberapa waktu yang lalu Kakek datang dan membawa buku ini. Sementara Kakek duduk di sini, Kakek menulis sepucuk surat, sepucuk surat untuk kalian. Sepucuk surat yang Kakek ingin Nenek bacakan untuk kalian andai saja sesuatu terjadi atas diri Kakek. Apakah kalian mau mendengarkannya?”
“Tentu saja,” sahut mereka sambil mencondongkan tubuh ke depan untuk mendengarkan.

Nenek Melva mulai membaca.

Landon, Eric, dan Shannon tersayang,

Ini adalah sebuah surat yang sangat penting. Nenek Melva sedang membacakannya untuk kalian karena sesuatu telah terjadi atas diri Kakek. Nenek membawa kalian kemari karena Kakek ingin kalian mempelajari sebuah rahasia kehidupan yang sangat penting–rahasia kematian. Sangat sedikit orang yang memahami kematian. Kebanyakan orang takut mati. Kebanyakan orang berusaha untuk mengabaikannya. Hampir tidak ada orang yang mau membicarakan kematian. Namun Allah ingin kalian memahaminya. Dan Dia tidak mau kalian merasa ketakutan.

Banyak orang berpikir bahwa kematian adalah saat kalian pergi. Mereka salah. Kematian adalah saat akhirnya kalian terbangun. Kematian adalah saat kalian melihat apa yang telah Allah lihat selama ini.

Kakek ingin kalian melakukan sesuatu bagi Kakek. Kakek ingin agar kalian memikirkan mengenai bayi-bayi ini. Bayangkanlah apa yang telah terjadi pada mereka. Mereka baru saja meninggalkan satu tempat dan memasuki tempat yang lain. Baru beberapa jam yang lalu, masing-masing mereka berada dalam perut ibunya. Mereka merasa aman. Mereka merasa hangat. Mereka memiliki semua yang sanggup mereka makan. Apa yang harus mereka lakukan hanya tidur. Mendadak mereka dipaksa memasuki sebuah dunia aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Bayangkan jika kalian dapat berbicara kepada salah satu dari bayi-bayi ini sebelum mereka dilahirkan. Bagaimana jika kalian memberi tahu bayi tersebut apa yang akan terjadi? Bagaimana jika kalian berkata, “Dalam beberapa menit lagi kamu akan meninggalkan perut ini. Waktumu di sini akan habis sebentar lagi. Sebelum kamu mengetahuinya, kamu akan berada di sebuah ruangan yang penuh orang dan cahaya dan kebisingan dan bau-bauan…”
“Aku tidak mau pergi,” bayi itu mungkin menjawab demikian.
“Aku merasa senang di sini. Lagi pula aku tidak tahu apa itu ‘orang.'”
“Oh, kamu tidak perlu khawatir. Tidak ada yang buruk di luar sana,” kalian memberi tahu bayi itu.
“Maksudku, kamu harus pergi ke sekolah dan mandi.”

“Apa itu sekolah dan mandi? Tidak ada yang kedengaran baik bagiku. Aku merasa senang di sini.”
“Tapi, gelap di dalam situ. Sesak dan pegal. Jangan khawatir. Kamu akan merasa senang bahwa kamu bisa keluar.”
“Terima kasih, tapi tidak, terima kasih. Aku merasa senang dengan tempatku berada sekarang. Aku ingin tinggal di sini.”

Landon tersedak dengan gagasan tentang bayi yang tidak mau dilahirkan. “Bayi itu tidak punya pilihan, Nenek Melva. Dia harus keluar.” “Ya,” sahut Eric sambil tersenyum, “siapa yang mau tinggal dalam sebuah perut selama-lamanya?” “Tepat seperti itulah yang Kakek Josh coba jelaskan,” jawab Nenek Melva. “Dengarkanlah apa yang Kakek katakan berikutnya.”

Kalian lihat, Anak-anak, akan tiba waktunya dalam hidup ketika kita, seperti bayi-bayi itu, harus menempuh suatu perjalanan. Sama seperti bayi harus meninggalkan perut dan masuk ke dalam dunia ini, akan tiba waktunya bagi kita untuk meninggalkan dunia ini dan pergi ke Sorga. Dan kebanyakan orang tidak mau pergi ke sana. Kita bertingkah laku seperti bayi di dalam perut. Kita merasa senang untuk berada di tempat kita berada sekarang. Dunia ini mungkin tidak sempurna, namun setidaknya di sini terasa akrab bagi kita, dan kita tidak mau meninggalkannya.

Suara Nenek Melva tercekat saat Nenek membaca kalimat berikutnya.

Eric, Landon, dan Shannon, tibalah waktu bagi Kakek untuk pergi. Tibalah giliran Kakek untuk pergi dan bersama dengan Allah di Sorga. Kakek tidak mau kalian merasa ketakutan. Kakek tidak merasa ketakutan. Inilah waktu Kakek harus pergi. Kakek menerimanya. Tidak apa-apa jika kalian merasa sedih, tapi janganlah marah; janganlah takut. Allah tahu apa yang sedang Dia kerjakan.

Kakek akan merindukan kalian, namun kita tidak akan terpisah sedemikian lama. Suatu hari akan tiba waktu bagi kalian untuk pergi. Dan jika waktu kalian tiba, Kakek ingin kalian mengerti bahwa Kakek akan menunggu kalian. Kakek akan berada di sana ketika kalian tiba di sana. Kakek akan menjadi seperti salah seorang orang-orang yang bahagia dan bangga, yang berdiri di depan kaca itu. Dan yang berdiri di sisi Kakek adalah Bapa kalian. Bapa Sorgawi kalian. Kami akan menunggu kalian.

Jangan lupa rahasia ini.

Salam sayang, Kakek Josh

Nenek Melva hampir menyelesaikan membaca surat itu ketika namanya dipanggil melalui pengeras suara, yang memberi tahu Nenek untuk kembali ke ruang perawatan intensif. Nenek menelan ludah dengan susah payah, menatap anak-anak dan berkata, “Mari, kita pergi.” Ketika mereka tiba di lantai ruangan Kakek Josh, anak-anak menunggu di luar saat Nenek Melva masuk ke dalam. Meskipun Nenek Melva baru saja masuk selama beberapa menit, seperti sudah berjam-jam rasanya.

Ketika Nenek Melva kembali, wajahnya tampak pucat dan sedih. Nenek duduk di sofa dan menangis perlahan. “Mereka mengatakan bahwa Kakek Josh tertidur dan tidak akan pernah bangun lagi.”
“Apa Kakek sudah tidak ada lagi?” Shannon bertanya.
“Tidak, Shannon. Kakek tidak hilang. Kakek sudah pulang. Kakek akhirnya pulang. Inilah hari yang selalu diimpikan oleh Kakek Josh.”

Nenek Melva menatap Landon dan Eric. “Inilah yang ada di tangan Kakek Josh.” Nenek Melva menyerahkan kepada Landon bola bisbolnya–bola bisbol yang telah dipukul Eroc dan memecahkan kaca jendela Kakek. Di atas bola bisbol itu, Kakek Josh telah menuliskan 1 Korintus 15:51.

“Apa yang dikatakan ayat itu?” tanya Landon.
Eric mengambil Alkitab dari meja dan mencari ayat tersebut.
“Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah.”
“Terdengar seperti apa yang akan Kakek Josh katakan,” Shannon mengamati.
“Aku tidak percaya Kakek Josh sudah meninggal, Nenek Melva.”
Landon mulai menangis.

“Oh, Landon, Kakek Josh tidak meninggal. Kakek hidup. Kakek Josh jauh lebih hidup daripada sebelumnya. Kakek hanya tidak berada di sini.”
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Eric bertanya.
“Apa yang akan kita lakukan? Kita harus bersiap-siap menuju Sorga seperti yang Kakek Josh lakukan. Seluruh hidup Kakek diberikannya kepada Allah. Dan karena Kakek hidup bagi Allah di dunia, Kakek akan hidup bersama Allah di Sorga.”

Nenek Melva menatap ketiga anak yang berdiri di hadapannya. Nenek berpikir sebentar tentang semua yang mereka telah pelajari bersama-sama. Pelajaran-pelajaran yang telah Allah ajarkan tentang pertumbuhan, dan damai sejahtera, dan cinta kasih. Kisah-kisah tentang Wemmick, Punchinello, dan kidung sang raja. “Allah memakai Kakek Josh untuk mengajarkan banyak hal kepada kita,” kata Nenek Melva, sambil menarik Shannon ke atas pangkuannya dan memeluk kedua anak laki-laki itu. “Kita akan merindukan Kakek. Tapi kita akan melihat Kakek lagi. Dan saat kita melihatnya, kita akan bersama kembali selamanya. Itulah yang Allah telah janjikan. Dan itu bukanlah rahasia.”

Ditulis dari buku “Ceritakan Padaku Rahasia Itu”
Ditulis oleh Max Lucado.
Halaman 83-93

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s