Hanya Seorang Anak Dengan Kelumpuhan Otak

Standard

Waktu itu saya diminta untuk menjadi konselor di sebuah kamp siswa Sekolah Menengah. Kami semua harus menjadi konselor di kamp Sekolah Menengah sekurang-kurangnya satu kali. Bagi siswa Sekolah Menengah, bersenang-senang artinya mengganggu siswa lain. Dan dalam kisah ini, dalam kamp ini, ada seorang siswa yang menderita kelumpuhan otak, bernama Billy. Mereka sering menggodanya.

Ya, mereka suka menggodanya. Jika Bill berjalan melintasi kamp dengan gerakan tubuhnya yang tidak terkoordinasi dengan baik, maka para siswa itu akan berbaris dan menirukan gerak-geriknya yang aneh. Suatu hari saya melihat ia sedang meminta petunjuk jalan. “Di mana … toko … barang-barang … kerajinan?” tanyanya tergagap, dengan bentuk mulut yang miring-miring. Dan para siswa itu menirukannya, “Toko … itu … ada … di sana … Billy.” Lalu mereka menertawakannya. Saya menjadi geram.

Kemarahan saya mencapai puncaknya pada hari Kamis pagi saat kelompok Billy mendapat giliran untuk memimpin ibadah. Saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi, karena kelompok itu menunjuk Billy sebagai pembicara. Saya tahu mereka menginginkan Billy menjadi pembicara hanya untuk mempermainkannya. Sementara Billy berjalan ke depan dengan kaki diseret, Anda dapat mendengar semua siswa tertawa terkekeh-kekeh. Si kecil Billy membutuhkan waktu hampir lima menit untuk mengucapkan tujuh kata.

“Yesus … mengasihi … saya … dan … saya … mengasihi … Yesus.”

Begitu ia selesai berbicara, suasana benar-benar hening. Saya memandang ke depan dan melihat para siswa itu tiba-tiba berteriak-teriak dan menangis dengan suara keras. Kebangunan rohani terjadi dalam kamp itu setelah kesaksian singkat Billy. Dan kini sepanjang perjalanan keliling dunia, saya sering berjumpa dengan para utusan Injil dan pengkhotbah yang berkata, “Apakah Anda masih ingat saya? Saya bertobat di kamp Sekolah Menengah itu.”

Kami para konselor telah berusaha melakukan apa saja untuk membuat para siswa itu tertarik pada Injil. Kami bahkan telah mengundang para pemain bisbol yang kemampuannya dalam memukul bola telah meningkat sejak mereka mendekatkan diri kepada Tuhan dalam doa. Namun Allah tidak memilih untuk menggunakan superstar. Dia memilih seorang anak yang mengalami kelumpuhan otak untuk mematahkan roh kesombongan. Itulah Allah kita.

–Tony Campolo

Oh, Allah yang senantiasa memberi kesempatan kedua dan permulaan yang baru, inilah aku, yang datang kembali kepada-Mu (Nancy Spiegelberg)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s