Perjuangan

Standard

Semasa kecil, ia sudah sangat menyukai kupu-kupu. Bukan untuk menjaring dan membingkainya, melainkan untuk mengagumi keindahan dan cara hidup mereka. Kini sebagai lelaki dewasa dengan putra pertamanya yang akan dilahirkan dalam beberapa minggu lagi, sekali lagi ia tertarik dengan seekor kepompong. Ia menemukannya di tepi jalan taman. Agaknya carang pohon telah dipangkas dari pohonnya namun kepompong itu selamat tanpa mengalami kerusakan dan masih menempel pada carang pohon itu.

Seperti yang pernah dilakukan ibunya dulu, ia pun dengan hati-hati melindungi kepompong itu dengan membungkusnya dalam saputangan dan membawanya pulang. Kepompong itu mendapat rumah sementara dalam sebuah botol bermulut lebar dengan lubang di tutupnya. Botol itu dibungkus dalam kain tipis agar mudah dilihat namun tetap terlindung dari kucing iseng yang suka bermain-main dengan cakarnya.

Pria itu mengamati kepompong tersebut. Istrinya hanya tertarik sebentar sementara si pria mencermatinya. Pada mulanya kepompong itu bergerak nyaris tak kentara. Ia mengamati lebih dekat dan tak lama kemudian kepompong itu bergetar. Lalu tidak terjadi apa-apa lagi. Kepompong tetap menempel pada carang pohon dan tak ada tanda-tanda akan munculnya sayap. Tiba-tiba kepompong bergetar lagi dan getarannya semakin kuat, pria itu mengira bakal kupu-kupu itu akan mati dalam perjuangan untuk keluar. Ia membuka tutup botol, mengambil pisau lipat kecil dari laci, dan dengan hati-hati membuat sobekan kecil pada sisi kepompong. Hampir seketika itu juga, sebuah sayap muncul, kemudian disusul satunya lagi. Dan, kupu-kupu itu pun bebas!

Kupu-kupu itu tampak menikmati kebebasannya dan berjalan di sepanjang tepi botol, kemudian ke tepi kain. Namun tidak terbang. Pada mulanya pria ini menyangka kupu-kupu itu perlu waktu untuk mengeringkan sayap-sayapnya, tetapi waktu berlalu dan tetap saja kupu-kupu itu tidak terbang.

Pria itu cemas dan menelepon tetangganya yang mengajar ilmu alam di sekolah menengah. Ia menceritakan bahwa ia menemukan kepompong dan menaruhnya di dalam botol, lalu ia melihat getaran yang mengerikan saat kupu-kupu itu berjuang untuk keluar. Saat ia menjelaskan bagaimana dengan hati-hati ia membuat sobekan kecil di bagian pinggir kepompong, guru itu menyahut. “Oh, itu sebabnya. Ketahuilah, perjuangan itulah yang memberi kekuatan pada kupu-kupu itu untuk terbang.”

Demikian pula dengan kita. Terkadang perjuangan dalam hiduplah yang dapat sangat menguatkan iman kita.

–Alice Gray

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s