Pita Putih

Standard

Pemuda itu duduk seorang diri di dalam bus sambil terus memandang ke luar jendela. Usianya dua puluhan, tampan, dan berwajah lembut. Kemejanya yang berwarna biru tua selaras dengan warna matanya. Rambutnya pendek tertata rapi. Terkadang ia memalingkan wajah dari jendela. Kecemasan yang membayang di wajahnya menyentuh hati wanita setengah baya di seberang tempat duduknya. Bus baru saja mendekati pinggiran sebuah kota kecil. Wanita itu bergegas mendekati pemuda itu dan minta izin untuk duduk di sampingnya.

Setelah berbasa-basi sejenak, tiba-tiba pemuda itu berkata, “Saya dipenjara selama dua tahun. Saya baru dibebaskan tadi pagi dan kini saya akan pulang.” Ia mencurahkan isi hatinya bahwa ia dibesarkan dalam keluarga yang miskin namun menjunjung tinggi harga diri. Tetapi kejahatan yang dilakukannya telah mempermalukan dan menghancurkan hati keluarganya. Selama dua tahun ia tidak mendengar berita apa pun dari keluarganya. Ia tahu keluarganya sangat miskin sehingga tidak mampu membiayai ongkos perjalanan untuk mengunjunginya di penjara, dan ia juga tahu bahwa orangtuanya tidak terpelajar sehingga tidak dapat menulis surat. Ia berhenti menulis surat kepada mereka karena tak pernah mendapatkan balasan.

Tiga minggu sebelum dibebaskan, dengan putus asa ia kembali menulis surat kepada keluarganya. Dalam surat itu ia menyatakan penyesalannya karena telah mengecewakan mereka, dan meminta pengampunan mereka. Selanjutnya ia menceritakan bahwa kini ia telah dibebaskan dan akan pulang ke kota kelahirannya. Bus itu lewat tepat di pekarangan depan rumah tempat ia dibesarkan dan tempat orangtuanya tinggal. Dalam suratnya ia juga mengatakan bahwa ia akan maklum bila orangtuanya tidak mau memaafkannya.

Untuk mempermudah mereka, ia meminta orangtuanya untuk memberi tanda yang dapat dilihatnya dari bus. Jika mereka telah mengampuninya dan ingin ia pulang, mereka harus mengikatkan sebuah pita putih pada pohon apel tua yang terletak di pekarangan depan rumah. Jika ia tidak melihat tanda itu di sana, maka ia akan tetap tinggal di bus, meninggalkan kota kelahirannya dan kehidupan mereka untuk selamanya. Ketika bus itu mendekati jalanan di depan rumahnya, pemuda itu semakin cemas. Ia takut memandang ke luar jendela karena merasa yakin tak akan melihat pita putih. Setelah mendengar kisah pemuda itu, wanita setengah baya itu bertanya, “Apakah akan menolong bila kita bertukar tempat duduk dan saya akan duduk dekat jendela untuk melihat apakah ada pita untukmu?”

Setelah bus bergerak melewati beberapa blok, wanita itu melihat pohon apel yang diceritakan. Dengan lembut ia menyentuh bahu pemuda itu, dan sambil menahan jatuhnya airmata ia berkata, “Lihat! Lihat! Seluruh pohon itu penuh dengan pita berwarna putih.”

–Alice Gray

Kita sangat serupa dengan binatang bila membunuh.
Kita sangat serupa dengan manusia bila menghakimi.
Kita sangat serupa dengan Allah bila mengampuni.
(Anonim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s