Pak Gillespie

Standard

Ketika aku duduk di kelas tujuh, aku menjadi pengerja sukarela di rumah sakit setempat. Aku bekerja sampai tiga puluh hingga empat puluh jam seminggu selama musim panas. Selama itu aku paling sering menemani Pak Gillespie. Tidak ada seorang pun yang membesuknya, dan tampaknya tidak seorang pun peduli tentang keadaannya. Aku meluangkan waktu entah berapa hari untuk memegangi tangannya dan berbicara kepadanya, selain membantu memenuhi apa pun kebutuhannya. Ia menjadi teman akrabku, kendati tanggapannya hanya sebatas meremas tanganku, itu pun kadang-kadang. Pak Gillespie mengalami koma.

Aku pergi selama seminggu untuk berlibur bersama orangtuaku, dan ketika kembali, Pak Gillespie sudah tidak ada. Aku tidak mempunyai keberanian untuk menanyakan keberadaannya kepada perawat, karena takut mereka memberitahuku bahwa ia telah meninggal. Maka dengan banyak pertanyaan yang tak terjawab, aku terus menjadi relawan di sana sampai naik ke kelas delapan.

Beberapa tahun kemudian, ketika aku sudah duduk di sekolah menengah, aku sedang berada di sebuah pompa bensin ketika melihat wajah yang tidak asing bagiku. Waktu sadar tentang siapa dia, mataku langsung berlinang air mata. Ternyata ia masih hidup! Aku menghimpun keberanian untuk menanyakan apakah namanya Gillespie, dan apakah ia pernah mengalami koma sekitar lima tahun yang lalu. Dengan wajah tampak bingung, ia mengiyakan. Aku bercerita bagaimana aku bisa tahu, juga bahwa dahulu aku sering mengajaknya bercakap-cakap di rumah sakit. Air matanya berlinang, kemudian ia memelukku dengan pelukan hangat yang pernah kuterima.

Ia mulai bercerita kepadaku bahwa selama ia terbaring dalam keadaan koma, ia dapat mendengar kata-kataku dan dapat merasakan aku memegang tangannya. Ia mengira seorang malaikat yang melakukannya, bukan manusia. Pak Gillespie yakin betul bahwa suara dan sentuhankulah yang telah membuatnya tetap hidup. Kemudian ia meneruskan cerita tentang hidupnya, juga tentang mengapa ia sampai mengalami koma. Kami bertangis-tangisan selama beberapa saat dan berpelukan, kemudian berpisah.

Walaupun aku belum pernah berjumpa lagi dengannya, ia mengisi hatiku dengan kebahagiaan setiap hari. Aku tahu bahwa aku ikut berperan dalam menentukan hidup dan matinya. Yang lebih penting, ia telah mendatangkan perubahan luar biasa dalam hidupku. Aku tidak akan pernah melupakannya, termasuk yang diperbuatnya kepadaku: Ia menjadikan aku seorang malaikat.

–Angela Sturgill

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s