Kereta Api

Standard

Jam menunjukkan pukul 9.30 malam. Aku yakin akan ketinggalan kereta, kereta terakhir malam itu. Untuk sampai ke loket perlu perjuangan sendiri. Sekarang dengan susah payah aku harus menyibak kerumunan orang yang menyemut di bangsal tengah Los Angeles Union Station, di tengah orang-orang yang tampaknya merasa telah datang cukup dini untuk mendapatkan kereta mereka sehingga tidak harus bergegas.

Ketika berbelok menuju ke peron, aku menemukan satu hambatan lain. Anak tangga menuju ke situ terhalang oleh seorang laki-laki yang sibuk dengan barang bawaannya, yang terlalu banyak untuk satu orang, khususnya bila orang itu tidak sempurna. Lengan kirinya tergantung tak berdaya, sedangkan lengan kanannya tidak sempurna. Salah satu kakinya bengkok ke arah dalam. Aku mengawasinya memindahkan barangnya satu demi satu ke anak tangga berikutnya. Begitulah seterusnya. Ia baru sampai pada anak tangga kelima, padahal seluruhnya ada dua puluh.

Ia membentak petugas pelayanan yang menawarkan bantuan mengangkuti bawaannya, dan menatap garang kepada sesama calon penumpang yang mencoba mengangkatkan satu kopernya. Kalaupun aku turun tangan, mungkin tidak ada bedanya. Meskipun aku menghargai tekadnya untuk tidak bergantung kepada orang lain, aku tidak mau membiarkannya membuat aku ketinggalan kereta. Aku baru saja mengalami kegiatan kerja yang kurang menyenangkan pekan itu sehingga pulang ke rumah adalah hal paling penting di dunia bagiku. Maka ketika ada kesempatan, aku melangkah melewati kopor-kopor bawaannya, sehingga dalam seketika aku sampai di puncak tangga, lalu naik ke kereta.

Walaupun aku telah berencana untuk duduk santai dalam kereta, pikiranku terusik oleh pepatah, “Rencana memang baik, tapi jangan terlalu terikat kepadanya.” Tempat duduk di seberang gang ditempati oleh dua anak perempuan yang masih kecil. Mereka sangat ceria, sangat aktif, dan sangat, sangat gaduh. Begitu melihat Ayah mereka yang kelelahan aku tahu bahwa dua jam yang semula ingin aku gunakan untuk intropeksi akan digantikan dengan 120 menit canda dan gurau. Waktu aku mengira keadaan tidak akan memburuk, yang terjadi ternyata kebalikannya. Laki-laki yang tadi menghalangiku di tangga, menggerutu ke arahku meminta supaya aku menggeser kaki, dan tanpa basa-basi ia langsung duduk di sebelahku.

Sesudah mengamatinya lebih dekat, aku sadar bahwa kekurangannya tidak hanya pada lengan dan kaki tetapi juga pada wajahnya, yang mencong secara permanen. Ia termasuk sosok yang akan membuat anak-anak kecil tertawa atau lari bila ia terlalu dekat. Kesabarannya terhadap anak-anak kecil di seberang gang lebih pendek daripada kesabaranku. Baru dua menit ia telah menyalak dengan geram, “Diam!”

Teman sebangkuku dalam perjalanan itu jauh dari menyenangkan. Setiap ada petugas kereta api lewat, ia menggunakan kesempatan itu untuk mengeluh tentang temperatur, penerangan, lambatnya pelayanan di loket, dua anak kecil yang berisik (padahal tidak bersuara sedikit pun sehabis dibentak olehnya), kacang hambar yang dibelinya di restorasi, dan air dalam gelas kertas yang tidak cukup untuk menelan pil-pilnya. Celakanya, semua ini terjadi ketika kereta baru beranjak lima belas menit.

Aku biasanya termasuk orang yang ramah, tetapi keramahanku waktu itu mulai luntur. Perhatianku terpusat pada nasib kurang baik karena duduk bersebelahan dengan orang yang hatinya sama bengkoknya dengan kakinya. Tatkala sedang duduk sambil menyesali diri, suara hatiku mendorongku untuk berbuat sesuatu. Barangkali, pikirku, bila aku menyapanya dengan kata-kata ramah yang sederhana, aku dapat menjadi katalisator untuk mengubah sikap–bahkan hidupnya.

Akan tetapi aku letih, mudah tersinggung, dan tidak bergairah meninggalkan kenyamanan dalam sikap diam dan penyesalan diri. Lalu aku melawan suara yang mendorongku berbuat yang benar, untuk menjadi teman bagi seorang asing, dan untuk menolong orang yang membutuhkan. Semakin keras aku melawan, semakin keras pula suara itu. Walaupun aku belum pernah bertemu orang ini, aku tahu bahwa ia menderita dan memerlukan seseorang untuk diajak bicara. Waktu aku masih bergelut dengan dilema itu, seseorang telah beraksi lebih dahulu.

Suara itu terdengar manis dan polos. “Hei Pak, apa yang sedang terjadi padamu?” Salah seorang anak perempuan di seberang gang yang telah mengambil langkah yang tidak berani kulakukan. Pertanyaannya bukan hal yang baru bagi orang itu, yang menanggapi, barangkali yang keseratus kali dalam hidupnya, bahwa ia mempunyai penyakit yang membuat otot-ototnya tidak bekerja dengan baik. Karena tidak puas dengan jawaban itu, anak tadi menggelengkan kepalanya. “Bukan itu yang kumaksudkan. Mengapa Anda marah kepada semua orang?”

Orang itu diam selama beberapa saat sebelum menjawab dengan suara agak tertahan. “Aku kira aku marah kepada hidup. Hidup memperlakukanku dengan buruk sekali.”
Anak kecil itu kelihatan bingung. “Mungkin hidup akan memperlakukan Anda lebih baik bila Anda memperlakukannya dengan baik. Maksudku, aku tahu Anda sakit, tapi pasti masih banyak hal lain yang dapat membuat Anda bahagia.”

Laki-laki itu berpaling ke arah si anak, dan walaupun aku tidak dapat memperhatikan wajahnya, aku tahu bahwa ia tidak memandang anak itu dengan marah. “Kamu terlalu muda untuk mengira sudah tahu banyak tentang hidup.”
Sekarang giliran sang anak yang terdiam sejenak. “Aku kira aku belajar banyak hal tentang itu ketika Ibuku pergi ke Surga.” Ia duduk kembali di bangkunya dan mengalihkan pandangannya dari orang itu. Ia tidak ingin berbicara lagi. Tapi itu tidak apa-apa. Yang dikatakannya sudah cukup.

Sisa perjalanan diisi dengan keheningan, karena anak perempuan itu akhirnya tertidur pulas sedangkan laki-laki malang itu sudah tidak marah-marah lagi. Aku tidak tahu apakah perbincangannya dengan anak tadi mempunyai efek jangka panjang padanya, tetapi peristiwa yang menyentuh ini tidak mungkin segera kulupakan. Belakangan, aku mulai memandang masalah-masalah yang kuhadapi secara lebih santai, tersenyum lebih banyak kepada orang lain, dan lebih menghargai karunia-karunia yang telah kuterima.

Dan, apa hasilnya? Rasanya setiap hari hidup menjadi semakin ramah terhadapku.

–David Murcott

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s