Renungan Singkat: Perihal Kekuatiran

Standard

Ada dua orang turis yang sedang mengisi kegiatan liburannya dengan melakukan pendakian di sebuah gunung. Pada saat pulang, mereka terpaksa harus menumpang pada sebuah mobil tua yang jalannya tersendat-sendat karena mesin tuanya. “Tidak ada kendaraan dan terlalu jauh untuk turun gunung dengan berjalan kaki,” demikian pikir dari dua orang turis tersebut.

Di sepanjang jalan, turis pertama begitu sibuk mencemaskan kondisi mobil yang ia tumpangi. Ia dipenuhi rasa kuatir kalau mobil itu akan mogok di tengah perjalanan yang mereka lalui. Ia kuatir kalau bensinnya akan habis, sedangkan dia melihat tidak ada satu pun pom bensin di sana. Sementara itu turis kedua tampak begitu santai serta menikmati perjalanan dan pemandangan indah di bukit-bukit yang ia lalui. Ia melihat pepohonan yang rimbun dan beberapa kali sempat mengabadikan keindahan itu dengan kamera poketnya.

Setelah satu jam waktu berlalu, akhirnya mobil uzur itu tiba di kota yang dituju. Turis pertama yang dari tadi terus cemas dan khawatir berkata kepada turis kedua, “Kok kamu sempat-sempatnya mengambil gambar pemandangan di perjalanan tadi? Apa kamu tidak mencemaskan perjalanan kita?” Lalu turis kedua menjawab, “Apa yang perlu dicemaskan? Seandainya ada masalah, pasti ada jalan keluarnya. Aku sangat suka dan menikmati perjalanan tadi. Pemandangan yang kita lewati begitu menakjubkan.”

Kisah di atas menolong kita untuk memahami bagaimana kekuatiran sering membuat kita kehilangan kesempatan untuk melihat banyak hal yang baik dan berharga. Lebih buruknya lagi, kekuatiran itu tidak terbukti separah dengan yang kita kuatirkan atau malah tidak terbukti sama sekali. “Kekuatiran tidak akan menambah sejengkal pun panjang usia kita.” Banyak orang hidup dalam kekuatiran dan cemas mengenai apa yang belum pernah terjadi. Orang terlalu sering takut dan tidak tahu apa yang ia takuti. Akhirnya orang seperti ini tidak akan dapat menikmati kehidupan. Kebahagiaan hidup hanya menjadi milik orang-orang yang mampu menikmatinya dengan penuh syukur.

Jam kehidupan hanyalah berputar sekali. Ada menit yang harus dilalui dengan manis, ada pula yang harus dilalui dengan pahit. Jalanilah setiap detik kehidupan kita dengan iman, kasih dan ucapan syukur kepada Tuhan agar kehidupan kita menjadi lebih bijaksana hari demi hari. Ajarlah kami Tuhan untuk menghitung hari-hari kami sedemikian, sehingga kami beroleh hati yang bijaksana (Mazmur 90:12).

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:25, 27).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s