Monumen Kedengkian

Standard

Di pekuburan Mt. Hope, Hiawatha, Kansas, terdapat sekelompok batu nisan yang tampak aneh. Seorang pria bernama Davis, yang bekerja sebagai petani dan berhasil karena kerja kerasnya, menyuruh membangun batu-batu nisan itu. Ia memulai pekerjaannya sebagai buruh tani, dan berhasil mengumpulkan cukup banyak kekayaan sepanjang hidupnya semata-mata karena kemauan keras dan sikap hemat. Namun selama itu petani tersebut tidak mempunyai banyak teman. Ia juga tidak memiliki hubungan yang baik dengan keluarga istrinya, karena keluarga istrinya berpendapat bahwa istrinya telah mengorbankan martabat demi menikah dengannya. Karena merasa terhina, petani itu bersumpah tidak akan mewariskan harta satu sen pun kepada saudara-saudara iparnya.

Ketika istrinya meninggal, Davis meminta seseorang membangun patung dengan pahatan yang sangat cermat untuk mengenangnya. Ia meminta seorang pemahat untuk merancang monumen yang menggambarkan dirinya dan istrinya duduk di kursi dengan posisi saling membelakangi. Ia merasa sangat puas dengan hasilnya sehingga ia memesan sebuah patung lagi. Patung itu menggambarkan dirinya sedang berlutut di makam sang istri sambil meletakkan karangan bunga di atasnya.

Patung tersebut sangat mengesankan baginya sehingga ia merencanakan untuk membuat monumen ketiga. Monumen tersebut adalah patung istrinya yang sedang berlutut di makamnya kelak sambil meletakkan karangan bunga. Ia meminta si pemahat untuk menambahkan sepasang sayap pada punggung istrinya yang sudah meninggal, agar istrinya tampak seperti malaikat. Ide yang satu menuntunnya ke ide yang lain, sampai akhirnya ia menghabiskan tidak kurang dari seperempat juta dollar untuk membuat monumen dirinya dan istrinya!

Setiap kali penduduk kota itu bertanya apakah ia berminat dengan proyek bagi masyarakat (misalnya rumah sakit, taman, dan kolam renang untuk anak-anak, atau balai kota), petani yang kikir itu akan mengerutkan kening, menggertakkan giginya, dan berteriak, “Apa yang pernah diberikan kota ini kepada saya? Saya tidak berhutang budi satu sen pun kepada kota ini!”

Setelah menghabiskan semua uangnya untuk membangun patung-patung dari batu dan menuruti keinginan-keinginan yang egois, John Davis meninggal pada usia 92 tahun sebagai seorang penduduk miskin yang berwajah suram. Namun sungguh aneh, semua monumennya perlahan-lahan tenggelam ke dalam tanah di Kansas dan segera dimangsa waktu, vandalisme, dan ketidakacuhan. Monumen kedengkian. Monumen menyedihkan yang mengingatkan kita pada sikap egois dan tidak simpatik. Benarlah apa yang dikatakan para penyair bahwa segala sesuatu akan lenyap.

Oya, sangat sedikit orang yang menghadiri pemakaman Pak Davis. Menurut laporan hanya ada satu orang yang tampaknya benar-benar merasa kehilangan. Orang tersebut adalah Horace England … si penjual batu nisan.

–Charles L. Allen

Pesan Moral: Hidup hanya sekali dan buatlah itu bermanfaat secara maksimal tidak hanya bagi diri kita secara pribadi, tetapi juga bagi orang lain..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s