Pengalaman Menjadi Ibu Tiri

Standard

Anak-anak tumbuh dalam berbagai bentuk keluarga; mereka tumbuh normal dalam asuhan orangtua tunggal, orangtua yang tidak menikah, dalam keluarga yang punya banyak pengasuh, atau dalam keluarga tradisional dengan satu ayah dan satu ibu. Apa yang dibutuhkan anak adalah orang dewasa yang penuh cinta dan penuh perhatian.
–Sandra Scarr

Ketika anak-anak tiriku datang ke rumah dengan koper penuh pakaian kotor, catatan kesehatan mereka dan ekspresi bingung di wajah mereka yang masih muda, bagiku jelas, mereka datang bukan hanya untuk makan malam. Dalam detik-detik berikutnya yang berdetak lamban–sangat lamban–aku harus memilih satu dari beberapa pilihan. Aku bisa mengunci diri di kamarku dan membaca buku yang belum sempat kubaca karena aku tak pernah punya waktu. Aku bisa meninggalkan suami yang kunikahi dengan janji sehidup-semati. Atau aku bisa tersenyum, menerima tanggung jawab yang ada di depanku dan mencuci pakaian mereka.

Tentu saja aku mengambil pilihan ketiga. Aku pergi membeli sekotak deterjen ukuran ekonomis, tiga roti tawar utuh, daging untuk makan siang, sekeranjang buah-buahan dan beberapa kantong besar keripik kentang. Lalu aku mainkan peranku sebagai ibu tiri. Sayangnya, aku hanya kenal tokoh ibu tiri dari dongeng-dongeng. Dan ibu tiri dalam dongeng-dongeng itu bukan tipe idealku. Aku tak ingin jadi ibu tiri seperti mereka. Sejujurnya, menjadi ibu “sejati” saja aku belum terampil. Putriku baru umur dua setengah tahun dan aku baru tahu bahwa mengasuh anak ternyata sangat berat. Seorang anak bisa menuntut terlalu banyak.

Sulitnya adalah, meskipun aku sudah menerima tanggung jawab untuk mengasuh anak-anak ini, mereka belum menerima aku. Sekarang mereka ada di depanku, seorang anak laki-laki umur enam tahun dan seorang anak perempuan umur delapan tahun. Mereka mengawasiku, menilai aku, menungguku melakukan semua yang dilakukan ibu mereka yang “sejati” sambil bertanya-tanya dalam hati mengapa ibu mereka mengirimkan mereka kepadaku.

Mereka tidak meminta untuk tinggal bersama ayah mereka dan aku. Hari berganti hari, aku bisa merasakan bahwa mereka sangat merindukan “ibu yang satunya.” Mereka masih terlalu muda untuk menghadapi masalah ini. Ada hari-hari ketika aku ingin mereka enyah dariku–perasaan yang dengan malu diam-diam kuakui.

Mula-mula mereka gugup berada dekat-dekat aku; aku juga gugup berada dekat-dekat mereka. Memang kami sudah saling kenal. Di akhir pekan kami sering menghabiskan waktu bersama; pergi ke kebun binatang atau ke pantai. Kami pergi berpiknik atau makan malam di restoran. Kami main petak-umpet. Aku membacakan cerita sebelum tidur dan menyelimuti mereka. Tetapi, mereka adalah tamuku dan aku kawan istimewa ayah mereka. Bagi kami sekarang, yang penting adalah membangun persahabatan dan menemukan batas-batas hubungan kami yang baru.

Kecuali itu, aku tak boleh melalaikan putriku sendiri. Dan lewat putriku itu akhirnya aku belajar menjadi ibu tiri. Tiba-tiba saja dia punya satu kakak laki-laki dan satu kakak perempuan. Bukan abang tiri atau kakak perempuan tiri. Hanya abang dan kakak perempuan. Aku ibunya, dan sekarang aku ibu mereka. Jika orang bertanya apa dia punya abang atau kakak perempuan, dengan mantap dan tanpa ragu dia menjawab ya–tanpa menambahkan penjelasan. Dia terlalu muda untuk memahami situasi ini dengan cara lain. Tapi, apakah memang ada cara lain untuk memahami masalah ini?

Mula-mula, ya. Betapa pun kerasnya aku berusaha, aku selalu dibayang-bayangi gambaran diriku yang diciptakan anak-anak tiriku. Meskipun aku mengerjakan semua tugas “ibu”–menyiapkan makan siang, mencuci, mengoreksi PR–tapi itu tidak pernah cukup. Aku mendengar mereka main “panti asuhan” atau “rumah orangtua asuh”. Aku mendengar putri tiriku berbisik-bisik membicarakan aku di malam hari. Kepada kedua saudaranya dia bilang aku kejam, aku tak punya rambut lurus seperti seharusnya rambut para ibu, dan aku mengoleskan terlalu banyak mustard pada roti bekalnya. Aku terlalu kurus dan bicaraku terlalu keras. Dengan kata lain, aku serba-kebalikan dari ibu kandungnya. Menurutku, gambaran itu paling mendekati citra ibu tiri yang jahat.

Aku menjauh dari kamar mereka, dadaku sesak. Aku merasa tertekan. Jika mereka main “pindah rumah” atau “yuk, kita tinggal di tempat lain,” aku menangis sampai jatuh tertidur. Dan… sesuatu terjadi. Hari-hari diisi dengan berbagai kejadian rutin. Semua jadi terbiasa.

Kami mulai mengisi album foto dan menciptakan kenangan-kenangan indah. Hari demi hari berlalu; semua jadi biasa–seperti cangkir pengukur yang terlalu sering digunakan. Kami bukan hanya tampak seperti satu keluarga, kami mulai merasa sebagai satu keluarga. Kami memang tampak seperti satu keluarga. Dokter gigi tidak melihat adanya perbedaan ketika dia menambal gigi bolong dan anakku menggenggam tanganku. Kasir pasar swalayan hanya melihat tiga anak kecil berebut sebungkus biskuit sambil berteriak-teriak mengadu pada ibu mereka.

Kadang-kadang aku ingin berteriak, “Mereka bukan anak kandungku.” Tapi, ibu macam apa aku ini? Adakah ibu yang belum pernah kehilangan kesabaran menghadapi anak-anaknya? Ketika perawat di sekolah menelepon dan mengabarkan pada “Ibu” bahwa anaknya demam, aku segera datang ke sekolah. Aku duduk di bangku penonton bersama putraku dan kami asyik nonton pertandingan rugby. Aku mengantarkan kedua anak perempuanku menjual biskuit buatan Pandu Putri dari pintu ke pintu. Aku ikut menyusuri jalan yang berangin di malam Hallowen.

“Jadi, berapa anak Anda?” seseorang bertanya.
“Tiga,” jawabku, “satu laki-laki dan dua perempuan.”
Aku menyebutkan nama mereka dan tidak meneruskan obrolan.

Tentu saja ada kesulitan yang takkan dialami oleh keluarga-keluarga biasa. Suatu hari kelak anak-anak itu akan pergi meninggalkan kami. Bukankah setiap anak akhirnya akan meninggalkan orangtua mereka. Setelah aku jadi ibu tiri profesional, kawanku yang baru saja menjadi ibu tiri bertanya, “Bagaimana caranya untuk membuat mereka menyukaiku?”

“Pertama, kau harus mencintai mereka,” kataku. “Jangan berpikir bahwa ibu tiri itu orang asing, orang buangan, atau makhluk yang setingkat lebih rendah daripada ibu yang melahirkan mereka.”

Karena jika kau sampai ke tugas sehari-hari, ke tumpukan pakaian kotor dan lutut yang tergores, peran ibu kandung dan ibu tiri sebenarnya tak ada bedanya. Yang penting bagi anak adalah hadirnya seorang ibu yang penuh cinta dan perhatian.

–Janie Emaus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s