Cahaya di Ujung Terowongan

Standard

Hari masih sangat pagi. Kejadian kemarin meninggalkan luka pedih di hatiku. Putri kami yang cantik, Lara, sudah berbulan-bulan depresi, sikapnya semakin lama semakin radikal. Dia selalu berpakaian hitam-hitam, memuja aliran musik death-rock, dan merias wajahnya serba putih dengan eyeshadow ungu dan bibir serta cat kuku hitam. Dia selalu marah-marah dan menyakiti hati kami, aku dan ayahnya. Adik laki-lakinya tak tahan tidur sekamar dengannya.

Sebuah pola terbentuk sejak beberapa tahun yang lalu. Apa yang kami kira merupakan masa peralihan yang akan segera lewat ternyata menjadi mimpi buruk. Aku terbiasa berpikir bahwa yang harus kulakukan adalah “menerima itu dan membuatnya menjadi lebih baik,” tetapi sekarang aku merasa sikap itu salah dan aku gagal.

Rumah kami bukan lagi rumah yang nyaman, tetapi kamp yang terkepung. Lara selalu lupa mengerjakan tugas sekolah. Mula-mula aku membantunya agar dia bisa lulus. Lama-lama aku yang mengerjakan PR-nya. PR-nya menjadi tanggung jawabku. Aku tak bisa menolong diriku sendiri, karena semakin lama aku semakin terikat pada anakku yang bermasalah dan menderita tekanan jiwa. Lara sering melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati kami untuk menutupi rasa tak berdayanya. Aku mencemaskan hidupnya, cemas memikirkan kalau-kalau suatu hari nanti aku pulang ke rumah dan menemukan mayatnya terbujur kaku dengan botol obat tidur kosong tergolek di sampingnya.

Kami membawa dia ke rumah sakit untuk dirawat. Itu usaha terakhir kami. Setelah itu aku dan suamiku terpaksa membuat rencana untuk masa depannya. Dalam rencana itu tidak termasuk rencana untuk membawa pulang dia. Seberkas cahaya terang dalam terowongan gelap panjang di depanku diberikan oleh seorang psikiater di rumah sakit itu. Katanya, “Putri Anda membutuhkan perawatan jangka panjang. Dia depresi dan cenderung ingin bunuh diri. Saya sarankan dia dikirim ke Rocky Mountain Academy di Idaho, sebuah lingkungan yang menyenangkan dan menyehatkan untuk dia. Tempat itu adalah bagian dari fasilitas yang disebut The CEDU Family of Services. Sejauh ini hasilnya bagus untuk remaja-remaja yang kondisinya sama dengan kondisi putri Anda.”

Setelah lama bimbang dan mempertimbangkan, aku dan suamiku menyimpulkan kami tidak punya pilihan kecuali mengirimkan anak kami ke sana. Amarah dan frustasinya telah merusak perkawinan kami dan membuat anak laki-laki kami tidak bahagia. Putri kami semakin lama semakin susah “dijangkau”, terisolasi dari kami dan dari kehidupannya sendiri.

Sekarang, hari yang penuh tantangan terbentang di depanku. Aku bangun pagi-pagi. Lara tahu dia akan pergi jauh–untuk beristirahat–jauh dari kami dan lingkungan yang dikenalnya. Aku tak tahu berapa lama dia akan dirawat di sana. Aku harus minta bantuan seseorang untuk mendampinginya sampai ke Bonners Ferry, Idaho, karena itu perjalanan panjang. Apakah Lara akan mencoba kabur? Aku tidak yakin dia tidak akan mencoba kabur, karena itu aku mengupah seorang perawat laki-laki dari rumah sakit untuk menemani kami. Lara tak mau bicara padaku sepanjang perjalanan ke Idaho, tetapi dia bisa menikmati kebersamaan dengan pengawal sementaranya itu. Setidak-tidaknya hal itu membuatku bisa beristirahat.

Akhirnya, kami sampai ke gerbang Rocky Mountain Academy. Tempat itu tenang, nyaman, dan indah! Wajah anak-anak di sana hangat dan ramah. Sambutan konselor yang ramah menghangatkan hati seperti selimut di hari yang dingin. Aku tak bisa mengulang kata-kata “berbisa” yang meluncur dari mulut Lara–aku tak sanggup mengulanginya. Kata-kata itu tajam mengiris hatiku. Aku menangis dan staf sekolah itu mengambil alih kendali. “Aku tak sudi melihat tampangmu lagi. Aku akan meludahi kuburmu” adalah kata-kata perpisahan Lara. Perasaan terkucil, rasa tidak percaya diri, rasa bersalah, mulai mendera. Malam itu aku menginap di motel di daerah itu, merasa tertekan dan sangat sedih.

Bagaimana bisa sampai begini? pikirku. Apa salahku? Bagaimana aku bisa membesarkan seorang anak yang hatinya penuh kebencian seperti itu?

Aku pulang dengan hati pedih. Sepanjang jalan aku hampir tak bisa menahan air mataku. Sejak saat itu, kami harus percaya sepenuhnya pada sekolah yang diharapkan bisa mencapai apa yang tak bisa kami lakukan. Lima bulan lamanya aku dan ayahnya tidak mendengar kabar dari Lara–selembar kartu pun tidak, tidak juga telepon. Hampir setiap hari aku menelepon Rocky Mountain Academy. Bagaimana dia? Apakah dia baik-baik saja? Sedang apa dia? Mengapa dia tak mau bicara denganku? Mimpi paling buruk yang mungkin dialami oleh para orangtua menjadi kenyataan. Apakah aku telah kehilangan dia untuk selama-lamanya? Apakah keputusan kami benar?

Akhirnya, ada tanda-tanda baik. Sepucuk surat dari Lara, mengucapkan terima kasih kepada ibu dan ayahnya untuk baju barunya. Aku yakin, surat itu ditulisnya karena perintah konselornya. Apa pun alasannya, aku senang sekali mendapat kontak darinya. Sedikit demi sedikit komunikasi kami membaik. Akhirnya kami diizinkan menjenguknya untuk pertama kali. Aku menangis, dia menangis, suamiku juga menangis. Terlalu banyak yang diperbaiki dalam hubungan kami. Rocky Mountain menunjukkan keajaibannya. Masalah-masalah dalam hubungan kami dikupas, dibuang, dan diselesaikan selapis demi selapis. Setiap kali datang menjenguk, kami melihat kemajuan dalam diri putri kami.

Mula-mula Lara mengekspresikan dirinya lewat puisi yang indah dan sedih yang dimuat di buletin mingguan yang dikelola anak-anak. Cinta dan bimbingan para konselor mulai tampak hasilnya. Aku melihat wajah Lara menjadi lebih lembut, kemarahan dan kekerasannya lenyap. Tanpa riasan tebal, wajah remajanya tampak cantik dan lembut, hangat dan penuh perhatian. Pada saat yang sama, Lara menyadari bahwa dirinya memiliki suara yang indah. Dengan dorongan kami, dia mulai menyanyi setiap kali ada kesempatan. Semakin sering dia menyanyi, perasaannya semakin mantap. Sejak menyadari kemerduan suaranya, pelan-pelan dia mulai mencintai dirinya sendiri. Hatiku pun mulai ikut bernyanyi.

Dalam bulan-bulan yang menuntut kerja keras dan penemuan jatidiri, aku dan suamiku menemukan kembali apa yang membuat kami saling tertarik sekian tahun lalu. Karena kelainan Lara, kami saling menjauh. Secara spiritual maupun secara fisik kami menjadi asing satu sama lain, kami kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi. Program CEDU, melalui seminar-seminar untuk orangtua empat bulan sekali, mulai mendekatkan kami lagi–tidak, tidak sama dengan sebelumnya, tetapi dengan apresiasi yang diperbarui dan saling pengertian yang semakin mendalam. Hubungan kami bahkan lebih baik daripada sebelum masa depresi Lara yang sudah berlangsung enam tahun. Kami menjadi pasangan lagi, menjadi kekasih dan sahabat lagi.

Mungkin segala sesuatu terjadi karena ada tujuan tertentu. Dua setengah tahun lewat dengan cepat sementara Lara mekar bagaikan mawar, aku dan suamiku menyatu lagi, anak laki-laki kami tumbuh menjadi anak yang periang dan penuh percaya diri. Aku yakin, kami memang harus melewati cobaan dan penderitaan seperti itu, karena hanya dengan begitu kami akan bisa menghargai kebahagiaan yang kami rasakan kini.

Lulusnya Lara dari Rocky Mountain Academy membuat kami bangga dan semakin mencintainya. Lara mengenakan gaun yang dirajutnya sendiri. Dia menghabiskan tujuh bulan untuk membuatnya, tetapi gaun itu dirajut dengan cinta dan komitmen. Bagi kami sekeluarga, hari itu merupakan awal baru. Neneknya, ayahnya, adiknya, dan aku dengan bangga melihat dia mengucapkan pidato kelulusannya.

Nah, bagaimana keadaan kami sekarang? Lara benar-benar menemukan suaranya. Dia lulus dari University of California Irvine dengan pujian, menyelesaikan sarjana muda di bidang pertunjukan musik dan vokal. Kemudian dia menyelesaikan tahun terakhir sarjananya di San Fransisco Coservatory of Music dengan biayai sendiri. Pada bulan Maret 1999, dia diterima di San Fransisco Opera Company sebagai anggota termuda–impiannya (dan impian kami untuknya) menjadi kenyataan. Sebentuk jiwa yang berbakat dan menakjubkan telah keluar dari kepompongnya, dengan suara merdu bagai suara malaikat, didukung ambisi yang besar dan kebulatan tekad untuk mewujudkan impiannya menjadi kenyataan.

Bagi mereka yang sedang berjuang mengasuh anak bermasalah, jangan putus asa. Selalu ada berkas cahaya di ujung terowongan yang gelap. Kami tahu. Kami pernah mengalaminya.

–Bobbi Bisserier

Jangan putus asa, jangan pernah menyerah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s