Dalam Parit Perlindungan

Standard

Barangkali Anda pernah mendengar kisah yang sangat berkesan yang tentang persahabatan sejati antara dua serdadu di parit perlindungan. Dua sahabat melakukan pengabdian secara bersama-sama dalam duka dan derita di perang Eropa yang sangat mengerikan (Sebuah versi lain kisah ini mengatakan bahwa mereka benar-benar bersaudara). Bulan demi bulan mereka menjalani hidup dalam parit perlindungan, di tengah panasnya cuaca dingin dan lumpur, dalam kobaran api dan di bawah komando.

Dari waktu ke waktu, salah seorang dari mereka akan bangkit dari parit perlindungan, mengendap-endap ke garis pertahanan musuh, menyelinap kembali ke parit untuk merawat yang terluka, menguburkan yang mati, dan menunggu kesempatan untuk menyelinap keluar lagi. Persahabatan itu terjalin karena penderitaan. Kedua serdadu itu menjadi sahabat dekat. Dari hari ke hari, dari malam ke malam, dan dalam menghadapi teror demi teror, mereka membicarakan kehidupan, keluarga, pengharapan, dan rencana masa depan bila mereka berhasil lolos dari neraka itu.

Pada suatu hari, Jim jatuh, terluka parah karena serangan musuh. Sahabatnya, Bill, berhasil kembali ke dalam parit perlindungan yang cukup aman. Sementara itu, di malam hari, Jim terbaring penuh derita di antara kobaran api. Ia berada di luar parit perlindungan. Seorang diri.

Pengeboman terus berlangsung. Situasi sungguh membahayakan. Berada di luar parit perlindungan pastilah tidak aman. Namun Bill ingin menghampiri sahabatnya, menghiburnya, dan memberinya semangat. Itu hanya dapat dilakukan oleh seorang sahabat. Perwira yang sedang bertugas tidak mengizinkan Bill meninggalkan parit perlindungan, karena hal itu sangat berbahaya. Namun saat ia membalikkan badan, Bill keluar dari parit perlindungan. Dengan mengabaikan bau mesiu di udara, suasana kacau karena kedatangan pasukan patroli, dan jantungnya yang berdebar kencang, Bill berhasil menghampiri Jim.

Beberapa saat kemudian ia berhasil membawa Jim kembali ke parit perlindungan. Namun terlambat. Sahabatnya telah tiada. Perwira yang membenarkan diri sendiri itu melihat jenazah Jim. Dengan sinis ia mengejek dan bertanya kepada Bill apakah resiko yang diambilnya “sepadan dengan hasil yang didapatkan.”

Tanpa ragu Bill berkata, “Sepadan, Pak. Perkataan terakhir sahabat saya sangat berharga. Ia menatap saya dan berkata, ‘Aku tahu kau akan datang.'”

–Stu Weber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s