Akar Dua Tanaman

Standard

Ada seorang tukang kebun yang sedang mencoba mengadakan sebuah penelitian sederhana. Ia menanam dua tanaman yang sama, pada lahan yang sama. Yang membedakan hanyalah bagaimana cara dia merawat tanaman tersebut. Pada tanaman yang pertama ia sirami setiap hari secara rutin, di setiap pagi dan sore. Sedangkan pada tanaman yang kedua ia sirami hanya dua hari sekali. Ketika tanaman itu sama-sama bertumbuh cukup besar, tiba waktunya untuk menguji kekuatan akar dari kedua tanaman tersebut.

Terdapat perbedaannya yang cukup mencolok di antara kedua tanaman itu. Pada tanaman yang pertama, dibutuhkan waktu kurang dari dua menit untuk mencabut akarnya. Pada tanaman yang kedua, dibutuhkan waktu lebih lama yaitu empat menit untuk dapat mencabut akarnya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Pada tanaman yang pertama dimanjakan dengan diberi banyak air yang dia dapat dengan mudah, sehingga akarnya tidak memiliki kekuatan dengan cara berusaha mencari ke arah tanah yang lebih dalam.

Sedang pada tanaman kedua, yang mendapat suplai air yang lebih sedikit, mau tidak mau akarnya harus mencari sumber air lebih dalam ke bawah tanah. Sehingga didapati akarnya jauh lebih kuat, ketika berusaha dicabut akar tersebut.

Cara Tuhan dalam mendidik hidup kita tidak jauh berbeda dengan ilustrasi kedua tanaman tersebut. Jika Tuhan memanjakan hidup kita dengan mengabulkan semua permohonan doa yang kita minta dan tidak pernah mengijinkan penderitaan dan masalah datang menguji kehidupan kita, maka hal tersebut akan membuat kita menjadi orang yang manja. Ketika permasalahan terjadi, dengan mudahnya kehidupan kita akan menjadi tergoncang. Hal itu terjadi karena kita tidak memiliki akar iman yang tertanam dengan kuat, bukan kepada dunia, tetapi di dalam Tuhan dan firman-Nya.

Tuhan sangat mengasihi hidup kita. Itulah sebabnya Dia selalu mendewasakan dan melatih akar iman kita, bukan cara dengan memberikan hal-hal yang terlihat indah dan enak. Tetapi dengan mengijinkan penderitaan, masalah, tekanan hidup dan keadaan yang tidak menyenangkan. Tujuannya adalah hal itu akan membuat akar iman kita terus berakar “ke dalam” dan mencari (dan mendapatkan) “Sumber Kehidupan” yang sejati, yaitu Tuhan sendiri.

Bagaimana dengan keputusan Anda? Apakah Anda memilih untuk menjadi orang yang manja dengan memiliki “akar yang rapuh”? Atau memilih untuk menjadi orang yang didewasakan oleh Tuhan?

–Disadur dari broadcast BBM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s