Lumbung Padi Persaudaraan

Standard

Ada dua orang bersaudara yang bekerja bersama-sama di ladang milik keluarga mereka. Yang seorang telah menikah dan memiliki sebuah keluarga besar. Sedangkan yang satunya masih melajang. Ketika hari mulai senja, kedua bersaudara itu selalu membagi sama rata hasil yang telah mereka peroleh di sepanjang hari itu.

Pada suatu hari, saudara yang masih melajang itu berpikir, “Tidak adil rasanya jika kami membagi rata semua hasil yang telah kami peroleh. Aku masih melajang dan kebutuhanku hanya sedikit. Sedangkan saudaraku sudah memiliki keluarga besar. Lebih baik aku memberikan kepada saudaraku tersebut, karena kebutuhannya pasti jauh lebih banyak dari aku.” Karena itu setiap malam ia selalu mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudaranya, tanpa sepengetahuan dari saudaranya tersebut.

Sementara itu, saudara yang telah menikah juga berpikir di dalam hatinya, “Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku mempunyai istri dan anak-anak yang dapat merawatku di masa tua nanti. Sedangkan saudaraku itu masih melajang dan dia tidak memiliki seorang pun yang peduli padanya kelak pada masa tuanya. Lebih baik aku memberikan kepada saudaraku tersebut sebagai bekal tambahan untuk hari tuanya.” Karena itu setiap malam ia juga mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudaranya itu.

Selama bertahun-tahun kedua saudara menyimpan rahasia itu masing-masing, sementara padi mereka sesungguhnya tidak pernah berkurang. Hingga pada suatu malam keduanya bertemu dan barulah saat itu mereka menyadari apa yang telah terjadi di antara mereka berdua selama ini. Mengetahui hal tersebut, mereka berdua terharu dan keduanya berpelukan.

Bagaimana kita mampu untuk membangun persaudaraan yang diwarnai dengan kasih, seperti kisah di atas? Kedua orang bersaudara di atas belajar untuk mau memahami kebutuhan satu sama lain. Yang masih melajang dapat melihat bahwa saudaranya yang sudah berkeluarga memiliki kebutuhan yang jauh lebih banyak daripada kebutuhannya sendiri. Sementara yang sudah berkeluarga mampu memahami saudaranya yang masih melajang itu tidak memiliki siapa-siapa, sehingga dia lebih membutuhkan daripada dirinya.

Jangan biarkan persaudaraan rusak karena harta tetapi justru pereratlah persaudaraan dengan menggunakan harta yang sudah dipercayakan Tuhan di dalam kehidupan kita.

–Disadur dari email bro Daniel

“Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon (keuangan) yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?” (Lukas 16:11-12).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s