Percakapan antara Ibu dan Anak

Standard

Ada sebuah percakapan yang terjadi antar seorang anak kepada Ibunya. Percakapan ini saya dapat dari kiriman BBM seorang sahabat. Sebuah percakapan yang memiliki nilai-nilai, yang dapat kita petik hikmahnya..

“Ibu, ada seorang teman yang membiarkan nyamuk menghisap darahnya sampai kenyang, agar nyamuk tersebut tidak melakukan hal yang sama pada anaknya. Apakah Ibu juga akan melakukan hal yang sama kepadaku?”

Sang Ibu tertawa mendengar pertanyaan anaknya dan menjawab,
“Tidak anakku. Tetapi Ibu akan mengejar setiap nyamuk yang ada di sepanjang malam itu, supaya nyamuk tersebut tidak mendapat kesempatan untuk menggigit siapapun di rumah ini.”

Lalu anaknya bertanya kembali..
“Oh iya, bu.. Aku pernah membaca sebuah artikel tentang seorang Ibu yang rela tidak memakan apa-apa supaya anak-anaknya dapat menikmati makanan yang ada dengan kenyang. Akankah Ibu melakukan hal yang sama?”

Dengan kata-kata tegas namun penuh kasih Ibunya menjawab,
“Ibu akan bekerja sangat keras agar kita semua dapat menikmati makanan dengan kenyang, nak. Dan kamu tidak harus sulit menelan air ludah karena melihat Ibumu menahan lapar, sebab kita semua akan dapat makan dengan kenyang.”

Sang anak tersenyum..
“Oh Ibu.. Aku selalu dapat bersandar dan mengandalkan dirimu.”

Sambil memeluk hangat anaknya, sang Ibu berkata, “Terima kasih anakku. Tetapi aku akan selalu mengajarmu untuk berdiri dengan kokoh di atas kakimu sendiri. Agar engkau tidak harus jatuh tersungkur ketika aku harus pergi meninggalkanmu.”

Pesan Moral: Seorang Ibu yang bijak bukan hanya sekadar menjadikan dirinya sebagai “tempat bersandar” yang nyaman bagi anak-anaknya, tetapi juga dapat menjadikan dirinya teladan yang baik dengan membangun kehidupan anak-anaknya. Hal itu dilakukan agar suatu hari kelak anak-anaknya dapat menjadi “tempat sandaran” yang tak kalah nyamannya bagi cucu-cucunya maupun orang lain yang dia kasihi.

Ketika induk elang akan membangun sarang bagi anak-anaknya, dia akan menaruh ranting-ranting duri yang tajam sebagai landasan dasar pertamanya. Lalu di atasnya ditaruh batu-batu kerikil yang tajam. Setelah itu di atasnya ditaruh jerami yang empuk dan hangat. Induk elang tahu kapan saat yang tepat untuk mengganti “spring bed” yang nyaman milik anak-anaknya, dengan lapisan dasar yang ada di bawahnya. Bahkan, induk elang tahu kapan saat yang tepat untuk menggoyangbangkitkan isi sarang tersebut dan mendorong anak-anaknya untuk keluar dari sarang mereka yang nyaman dan hangat.

Kejamkah induk elang tersebut? Bagi kita yang menilainya dengan sepintas akan berkata, “Ya.” Tetapi, sayangkah induk elang tersebut kepada anak-anaknya? Jawabnya tetap sama, “Ya. Bahkan sangat sayang.” Tetapi mengapa kita menemukan bahwa tindakan yang dilakukannya terkesan tidak menyayangi dan ingin membunuh anak-anaknya? Ketika sarang tersebut digoyangbangkitkan, Anda perlu mengerti bahwa anak-anak elang yang masih muda tersebut belum dapat terbang dengan benar.

Pilihan yang mereka miliki saat terjatuh hanya ada dua: Mengepak-ngepakkan sayap mereka dengan sekuat tenaga (sambil berharap hal itu akan menahan tubuh mereka jatuh ke bawah) atau pasrah terjun bebas terhempas ke tanah (dan mati). Mungkin kita akan berpikir tentang apa yang ada di pikiran induk elang ketika melakukan hal tersebut. Sekalipun insting hewan yang kebanyakan berperan, saya percaya bahwa induk elang tersebut memiliki satu keinginan agar: Anak-anaknya bertumbuh menjadi elang, bukannya unggas bersayap yang tidak dapat turun dari sarangnya.

Firman Tuhan di dalam Ulangan 32:11-12 berkata, “Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah asing menyertai dia.”

Jika seorang Ibu yang bijak di dunia memiliki keinginan agar anaknya bertumbuh menjadi seorang dewasa yang kuat dan dapat menjadi “tempat sandaran” bagi orang-orang yang dia kasihi, terlebih lagi Tuhan yang sangat mengasihi hidup kita. Tuhan yang menciptakan hidup kita bukan karena iseng, nganggur, dan suatu kebetulan belaka. Tuhan yang memiliki tujuan dalam menciptakan hidup kita secara spesifik, dan yang mempersiapkan hidup kita melalui proses demi proses yang terjadi di dalam kehidupan ini.

Tetaplah bertekun, tetaplah setia dalam menjalani proses demi proses, dan tetaplah juga bekerja memberikan yang terbaik di dalam setiap aspek kehidupan kita.

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”” (Ibrani 12:5-6).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s