Berbakat tanpa Pengharapan

Standard

Pelukis legendaris asal Belanda, Vincent van Gogh, melakukan sensasi. Dia sengaja memotong telinga kirinya dengan sebilah silet dan menunjukkan penampilan terbarunya itu dengan lukisan. Hal ini terjadi 122 tahun yang silam. Van Gogh mendokumentasikan kejadian itu melalui sebuah lukisan berjudul “Self Portrait with Bandaged Ear” (Potret Diri dengan Telinga Dibalut) dan memberikan potongannya kepada seorang (maaf) pelacur di sebuah rumah pelacuran. Semasa hidupnya van Gogh merupakan wujud anak lelaki yang tersiksa dan miskin.

Vincent Willem van Gogh lahir pada 30 Maret 1853 di Belanda. Berkepribadian tertutup dan pemalu. Saat itu van Gogh bekerja pada sebuah galeri kesenian. Karena hasil lukisannya hanya terjual satu saja di kala itu akhirnya ia kemudian bekerja sebagai pendeta dalam komunitas penambang miskin di Belgia. Pada 1886, van Gogh hijrah ke Paris dan tinggal bersama adik laki-lakinya. Theo, seorang penyalur karya seni memberi dukungan keuangan dan memperkenalkan van Gogh kepada beberapa pelukis terkenal.

Namun kemudian hubungannya dengan sang adik memanas karena sikapnya yang kurang stabil. Ia mengancam adiknya dengan pisau. Di kala itu ia menderita demensia, penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak.

Van Gogh akhirnya mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Arles dan melakukan tes kejiwaan di Rumah Sakit Jiwa Saint Remy selama satu tahun. Selama tinggal di Saint Remy, van Gogh berada dalam masa kemarahan dan kreativitas. Pada Mei 1890, van Gogh pindah ke Auvers-sur-Oise, di dekat kota Paris. Di sana van Gogh terus dijangkiti keputusasaan dan kesepian. Juli 1890, van Gogh bunuh diri dan menembak dadanya dua kali. Dia meninggal dunia dua hari kemudian dalam usia 37 tahun.

Kini lukisan van Gogh begitu terkenal bahkan memiliki harga paling tinggi. Namun lukisannya sangat mahal bukan karena ia sakit jiwa tetapi karena warna-warna yang ia pakai dalam lukisannya sangat hidup. Bahkan ketika ia melukis sebuah pertanian, ia melukisnya begitu hidup hingga seperti gambar nyata. Van Gogh memang orang yang sangat berbakat. Di kala itu lukisannya memang tidak laku karena ia belum terkenal dan minat terhadap lukisan di kala itu sangat sedikit. Kalau saja Gogh memotivasi dirinya untuk berjuang dan tetap berpengharapan maka ia tidak akan stres dan akhirnya membuat ia gila.

Ia diperkenalkan dengan para pelukis terkenal seperti Paul Gauguin, Camille Pisarro, dan Georgeus Seurat. Tentunya hal ini memberi ia kesempatan untuk bisa terkenal. Namun Gogh berpikir bahwa melukis mungkin panggilannya. Ia pun memiliki hati untuk melayani mereka yang miskin di Belgia. Bahkan ia mengabadikan pelayanannya di sana dengan sebuah lukisan yang berjudul “The Potato Eaters,” 1855 (Para Pemakan Kentang).
Lukisannya menggambarkan kehidupan gelap dan suram yang ia alami bersama para petani dan penambang miskin. Ia mengenal Yesus, memperkenalkan pengharapan kepada mereka yang miskin dan membuat banyak orang sadar bahwa mereka masih memiliki pengharapan. Ia berbakat sebagai pelayan Tuhan. Namun ia tidak menjaga hati sehingga jiwanya ia serahkan kepada iblis dan membuatnya kehilangan kewarasan.

Setiap kita memiliki bakat. Mungkin tidak sehebat dan seterkenal orang lain. Namun kita tetap bisa menggunakan bakat kita untuk melayani, memberkati orang lain dan memuliakan nama Tuhan. Jangan biarkan iblis mengintimidasi kita dengan menyatakan bahwa kita tidak mampu, tidak memiliki pengharapan, tidak sukses, tidak beruntung, tidak diberkati dan hanya pantas mendapatkan hal yang terburuk. Hal inilah yang membuat banyak orang tidak mampu mengendalikan pikiran dan jiwanya sehingga mereka menjadi kehilangan kewarasannya karena tidak ada lagi harapan dalam hidup mereka.

Namun kita sebagai orang percaya harus yakin bahwa di dalam Yesus selalu ada pengharapan. Kita mungkin memiliki bakat dalam membuat kue, namun kita tidak sukses sebagai pemilik toko kue dan hanya bisa menjualnya di saat ada pesanan. Namun kue-kue kita bisa memberkati banyak orang. Kita mungkin memiliki bakat berbicara dan hanya bisa menjadi guru sekolah minggu atau pendoa. Kita tidak perlu menjadi pendeta atau pengkhotbah terkenal karena dengan menjadi guru sekolah minggu atau pendoa pun kita bisa memberkati banyak orang.

Intinya adalah, jaga hati dan terus berpengharapan di dalam Yesus. Di dalam Dia segala sesuatunya akan menjadi baik dan selalu membawa sukacita.

–Disadur dari tulisan Vlorin
(Renungan Wanita)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s