Penyamun yang Disalibkan: Sebuah Monolog pada Jumat Agung

Standard

Aku tidak berasal dari sini. Benar-benar tidak. Sorga adalah tempat terakhir yang aku harapkan..
Hm.. Ijinkan aku menceritakan kisah yang aku alami..

Aku-–dulunya-–adalah seorang perampok bersenjata, kurasa demikian kamu menyebutnya. Aku dan Jake, teman dekatku, dan juga yang lainnya tinggal di gua di perbukitan Yudea, dekat jalan Yerusalem menuju kota Yerikho. Kami hidup dari hasil berbuat kejahatan. Kami tidak akan menyerang orang yang pergi berkelompok dalam jumlah besar. Mereka yang bepergian dalam kelompok besar akan aman. Tetapi jika mereka berpergian hanya dalam rombongan satu keluarga, merupakan sesuatu yang mudah untuk merampok mereka. Sama bodohnya dengan mereka yang melakukan perjalanan seorang diri.

Melakukan kekerasan adalah cara yang biasa kami lakukan. Mereka akan kami pukul hingga menyerah tanpa perlawanan. Aku telah mematahkan beberapa tulang orang selama hidup. Hm.. Aku sebenarnya belum pernah benar-benar membunuh seseorang, tetapi aku juga tidak pernah memperhatikan cukup lama untuk memastikan apakah korbanku tewas atau hanya sekadar pingsan.

Pertama kali aku bertemu dengan Yesus ketika aku diundang ke sebuah pesta untuk menghormati-Nya di Yerikho, di rumah seorang pemungut pajak yang kaya bernama Zakheus. Aku memperkenalkan diri, di mana kami berjabat tangan, dan Yesus memandangku mata dengan mata selama beberapa saat. Dia dapat melihat diriku dengan jelas, siapa aku sebenarnya, dan setiap kejahatan yang telah aku perbuat sebelumnya. Kemudian Dia tersenyum, sebuah senyum besar yang bersahabat.. “Kamu tahu,” kata-Nya, “Ada pengampunan bagimu di dalam kerajaan-Ku. Bagaimana dengan itu?”

Setelah mendengar kata-kata-Nya, yang dapat kulakukan hanyalah memandang ke bawah dan tidak mengatakan apapun. Hari berikutnya aku berada di antara kerumunan, mendengarkan setiap kata yang Dia ucapkan. Aku benar-benar dibuat-Nya terkagum dan tersentuh atas apa yang Dia ajarkan. Yesus berbicara tentang kerajaan-Nya, membandingkannya dengan biji sesawi, menyebutnya sebagai Kerajaan Sorga. Aku ingin sekali datang kepada-Nya dan berhenti dari semua yang telah kuperbuat–dan menerima pengampunan-Nya–tetapi entah kenapa aku tidak pernah bisa untuk melakukannya. Aku merasa diriku sangat tidak layak untuk menerima kasih karunia-Nya.

Pergumulanku ini tidak terlalu lama sebelum aku dan temanku Jake–orang ketiga yang disalib–ditangkap oleh tentara patroli Romawi. Teman-teman kami yang lain berhasil melarikan diri, tetapi para patroli Romawi berhasil menangkap dan memukuli kami, lalu membawa kami ke Yerusalem serta melempar ke dalam penjara. Sudah tidak akan ada kasih karunia dan pengampunan bagi orang seperti kami.

Lalu hal ini terjadi di hari yang sama Yesus juga disalibkan, mereka menyalibkan aku dan Jake-–di sisi kiri dan kanan-Nya. Banyak orang yang datang di sana karena ingin melihat dan mengolok-olok Yesus. Orang Farisi yang sombong datang dan mengolok-olok Dia. “Jika Engkau Mesias, “ kata salah satu dari antara mereka, “turunlah dari salib itu. Jika kamu penyelamat, selamatkanlah diri-Mu sendiri-–jika kamu bisa!” Jake temanku juga ikut-ikutan mengejek, kamu bisa membayangkannya. Lalu aku berteriak kepadanya, “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita. Tetapi Orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah!” Jake akhirnya terdiam dan orang-orang Farisi sudah pergi karena tidak tertarik dengan keadaan kami lagi.

Tetapi pikiranku tidak dapat melupakan kejadian yang di Yerikho itu. Aku tidak bisa melupakan tatapan mata-Nya, senyum-Nya yang menerima diriku apa adanya, serta undangan untuk menerima pengampunan-Nya. Jadi aku memanggil-Nya, sekalipun hal itu sangat sulit dilakukan karena sangat sulit untuk bernafas dan berbicara dalam kondisi seperti itu. Benar-benar membuatku sangat tersiksa..

“Yesus!” kataku.

Dia memalingkan wajah-Nya kepadaku..

“Yesus, aku pernah di Yerikho. Aku pernah bertemu dengan-Mu di pesta, di rumah Zakheus. Ingatkah?”

Dia melihatku sesaat, lalu menganggukkan kepala-Nya pelan. Dia mengingatku..

“Aku tidak pernah lupa akan apa yang Engkau katakan. Aku ingin berkata ‘Ya’, tetapi aku tidak bisa. Aku merasa diriku sangat tidak layak untuk menerima pengampunan-Mu. Dan, kini lihatlah padaku-–lihatlah di mana kita sekarang.”

Dia dalam kondisi yang sangat buruk-–kelelahan, menahan sakit luar biasa, dan juga susah untuk bernafas. Dia tidak akan bisa bertahan lama, aku bisa melihatnya. Tetapi entah mengapa aku dapat melihat jauh dari semua itu. Dia adalah Mesias, Dialah Juruselamat atas hidupku, tidak peduli apa yang para imam, orang Roma, dan juga orang Farisi lakukan kepada-Nya. Dan ketika Dia mati, Dia akan bangkit dan memerintah bersama dengan Allah. Dalam beberapa jam lagi, mungkin kurang, hal itu akan terbukti. Dia akan memerintah dalam Kerajaan yang pernah Ia ceritakan.

“Yesus,” aku memanggil-Nya sekali lagi, lebih pelan sekarang.

Dia membuka mata-Nya. Mata yang sama, tatapan yang sama, penuh kasih, dan tulus..

“Yesus,” kataku, “ketika Engkau kembali ke dalam Kerajaan-Mu, maukah Engkau mengingat aku?”

Ia berusaha sangat keras untuk menjawab, bibir-Nya kering, tetapi aku bisa mendengar suara-Nya dengan jelas..

“Aku berkata kepadamu,” suara-Nya mengeras, lalu menguat sesaat, “sesungguhnya pada hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Mata-Nya meredup. Kondisi-Nya menurun dengan cepat. Tetapi aku percaya kepada-Nya. Aku percaya bahwa Dia sudah mengampuni dosa-dosaku. Sungguh! Itulah yang membuat aku bisa melalui beberapa jam selanjutnya, hingga mereka mematahkan kakiku untuk membunuhku. Aku percaya kepada-Nya!

Dan kemudian aku menemukan diriku sudah berada di Sorga, di Firdaus. Aku tahu bahwa aku tidak akan pernah layak untuk berada di sini, tapi bagaimanapun juga aku telah di sini. Aku telah menerima kasih karunia pengampunan-Nya, ketika Sang Raja sendiri yang datang menawarkannya kepadaku. Pengampunan penuh atas semua dosa-dosaku. Sangat luar biasa, bukankah begitu?

Maukah engkau datang juga kepada-Nya di dalam doa? Maukah engkau mengaku semua dosa-dosamu, dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu? Dia sangat mengasihi setiap kita. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).

Disadur dari tulisan Dr. Ralph F. Wilson/Joyfullheart.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s