Meraih Mimpi

Standard

Sabriye Tenberken lahir di Cologne, Jerman pada tahun 1970. Pada saat usianya 2 tahun, penglihatannya mulai berkurang. Orang tuanya yang menyadari bahwa suatu saat anak perempuannya ini akan menjadi buta, mulai mengajak Sabriye kecil untuk pergi ke museum, bertamasya ke sejumlah tempat yang dipenuhi aneka warna, dan sebagainya. Mereka berharap agar ia memiliki banyak rekaman visual dalam memorinya dengan begitu indah. Dan saat usianya menginjak 12 tahun, Sabriye benar-benar kehilangan penglihatannya. Ia menjadi buta.

Dalam kebutaannya, Sabriye tidak patah semangat. Dia tetap melanjutkan sekolahnya di sebuah sekolah bergengsi khusus tunanetra. Sekalipun sekolah khusus tunanetra, namun sekolah tersebut mengajarkan hidup normal bagi para siswanya. Mereka diajarkan cara berkuda, bermain ski, cross country, kayak, dan sebagainya. Tentunya dalam batas aman untuk keterbatasan mereka.

Suatu kali ibunya membawanya mengunjungi Nepal. Dari sana mereka bertolak ke Tibet. Sekalipun hanya sebentar di Tibet, namun ia menemukan kenyataan bahwa orang buta di sana, menurutnya, diperlakukan seperti orang terkutuk, mereka diasingkan dari kehidupan luar. Dikurung dalam kamar, tanpa pendidikan, hiburan atau bahkan sekedar pelatihan ketrampilan sederhana.

Pengalaman singkat itu begitu membekas dan membangkitkan kerinduan di hatinya untuk membuat anak-anak buta di Tibet bisa hidup utuh seperti dirinya. Sebagai langkah awal, selepas SMA, Sabriye melanjutkan sekolahnya ke Bonn University dan mengambil bidang studi tentang kebudayaan Asia Tengah. Ia juga belajar kebudayaan bangsa Mongol, China modern dan Tibet, terutama sosiologi dan filosofinya. Ia pun belajar bahasa Tibet.

Karena di jurusan tersebut, dialah satu-satunya yang buta, maka ia mengalami kesulitan mencari literatur tentang Tibet dalam bahasa Braille. Untuk mengatasinya, ia harus bekerja ekstra keras membuat sistem sendiri dalam tulisan Braille, bahkan membuatnya dalam tulisan Tibet. Sistem Braille untuk tulisan Tibet ini selesai ia buat pada tahun 1992.

Tahun 1997 ia pergi sendirian ke Tibet untuk melakukan observasi  tentang apa saja yang harus dia lakukan untuk mewujudkan keinginannya itu. Setahun kemudian, ia mendirikan pusat pendidikan untuk orang buta di Lhasa, ibukota Tibet. Diawali hanya dengan 5 murid dan dia sendiri sebagai pengajarnya, lama-lama murid-muridnya pun mampu menjadi guru di sana.

Meskipun pada awalnya ia dianggap mengambil keuntungan dari orang-orang buta di Tibet, namun lama-lama mereka memahami bahwa apa yang dilakukannya hanya karena ingin membuat orang buta di Tibet menjalani hidup lebih layak. Kini Sabriye tak hanya menggagas pendidikan kaum buta di Tibet, tapi juga di seluruh dunia. Apalagi setelah ia mendirikan lembaga bernama “Braille Without Borders” pada tahun 2002.

Kisah luar biasa di atas menunjukkan bahwa keterbatasan tidak berlaku untuk seseorang yang mempunyai mimpi dan mau memberikan segala daya upaya yang terbaik untuk mewujudkan impiannya. Impian sebesar apapun hanya akan menjadi sebatas impian, bila tanpa disertai doa dan usaha keras untuk mewujudkannya.

“Only as high as I reach can I grow, only as far as I seek can I go, only as deep as I look I can see, only as much as I dream I can be.. “

Disadur dari blog Yayasan Sentuhan Kasih Bangsa
Ditulis ulang dari berbagai sumber oleh MJ

[thanks so much for blog Yayasan Sentuhan Kasih Bangsa dan MJ, yang sudah memberi ijin untuk menulis kisah ini di blog ricky. Big God bless you all..]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s