Sebuah Kisah tentang Bobby Brazier

Standard

Ada sebuah kisah tentang Bobby, seekor anjing jenis Scotch Collie, milik dari Frank and Elizabeth Brazier. Anjing ini ikut berlibur bersama majikannya dalam suatu liburan musim panas pada tahun 1923. Namun malang dalam perjalanan tersebut, Bobby terpisah dari tuannya. Pencarian secara saksama sudah maksimal dilakukan, tetapi hasilnya tetap nihil. Dengan sangat bersedih hati, keluarga Brazier kembali ke rumah mereka tanpa ditemani oleh anjing kesayangan mereka, Bobby, dan tidak adanya harapan untuk dapat bertemu lagi.

Lalu pada 6 bulan kemudian, ada seekor anjing yang berdiri dalam keadaan yang sangat menyedihkan, menunggu di depan pintu rumah keluarga ini. Dan dia adalah Bobby yang tampak bau, penuh dengan penyakit kulit, kurus kering dan kondisi kaki yang sangat menyedihkan dikarenakan menempuh perjalanan yang sangat jauh. Bila mau diukur jarak dari tempat Bobby hilang hingga sampai ke depan pintu rumah keluarga Brazier, maka Bobby telah menempuh jarak sejauh 2,800 miles atau 4,506 kilometer, hanya untuk dapat bertemu kembali dengan keluarga tuannya. Jarak yang ditempuh Bobby itu kira-kira setara dengan perjalanan pulang pergi Jakarta-Bandung, melewati jalan tol Cipularang sebanyak 39 kali, dan perjalanan tersebut hanya ditempuh dengan berjalan kaki.

Bobby telah membayar harga yang sangat mahal untuk dapat bertemu kembali dengan majikannya. Jarak sejauh itu, waktu 6 bulan, kondisi tubuh yang semakin lemah, tidak menyurutkan hasratnya untuk dapat bertemu kembali dengan tuannya. Melewati gurun, sungai, bahkan dihadang musim dingin, Bobby terus berjalan tanpa memiliki kompas (penunjuk jalan) untuk menunjukkan jalan yang harus ia lalui. Banyak orang tidak mengerti bagaimana Bobby dapat menemukan jalan pulang kembali, dalam jarak yang sangat jauh tersebut. Tetapi semua orang setuju bahwa kompas Bobby adalah besarnya kasih yang ia miliki kepada majikannya.

His true compass is his true love

Bagaimana dengan hidup kita? Sudah berapa lama dan jauh hubungan kita dari Tuhan? Tahukah kita bahwa Tuhan sangat merindukan kita untuk datang kembali pada-Nya? Bukan Dia yang menjauh dari hidup kita, tetapi kita yang terus berlari menjauhi Dia. Kita merasa bahwa diri kita tidak layak, penuh dosa, dan sampai kapanpun (kita merasa) bahwa Tuhan tidak akan pernah mau menerima hidup kita kembali. Kenyataannya, Tuhan sebagai Bapa yang sangat baik, menanti kapan kita datang kembali kepada-Nya. Kembali untuk membangun hubungan yang sangat intim bersama dengan diri-Nya..

“… Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” (Lukas 15:20).

–Disadur dari copy paste BBM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s