Apakah Gubukmu Terbakar?

Standard

Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal pesiar, terdampar di sebuah pulau yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini berdoa setiap hari supaya Tuhan segera menyelamatkannya. Tak lupa juga setiap saat dia selalu melihat ke atas langit untuk mengharap datangnya pertolongan, tetapi tidak ada bantuan apapun yang datang.

Dengan susah payah akhirnya dia berhasil membangun sebuah gubuk yang berasal dari kayu dan jerami, hanya sekadar tempat untuk melindungi dirinya dari cuaca dan menyimpan beberapa barang yang masih dia punya. Tetapi pada suatu hari setelah dia pergi mencari makan, dia kembali dan mendapati bahwa gubuk itu telah terbakar, asapnya mengepul sampai ke atas langit. Semua miliknya terbakar lenyap, beserta dengan gubuk kecilnya tersebut.

Dia sedih dan menjadi marah. “Tuhan, betapa teganya Engkau melakukan semua kejadian ini kepadaku!” Dan dia menangis sampai tertidur di sepanjang malam tersebut. Pada keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkan dirinya. “Bagaimana kamu tahu bahwa aku terdampar di sini?” tanya pria itu kepada penyelamatnya. “Kami melihat akan tanda asap yang engkau berikan,” jawab mereka.

Mudah sekali untuk menyerah dan menyalahkan Tuhan, ketika keadaan yang kita alami menjadi bertambah buruk. Tetapi kita tetap tidak boleh goyah, karena Tuhan selalu bekerja untuk mendatangkan kebaikan di dalam kehidupan anak-anak-Nya, sama seperti firman Tuhan yang berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).

Ketika “gubuk”-mu diijinkan terbakar, itu bisa jadi merupakan teguran dari Tuhan supaya kita jauh lebih berhati-hati dan bijaksana dalam menjalani hidup ini. Selain itu juga dapat memiliki arti sebagai “tanda asap” untuk mendatangkan kuasa dan mujizat Tuhan terjadi di dalam hidup kita. Tetaplah menguatkan iman dan kepercayaan kita kepada Tuhan, bahkan saat kondisi terdesak sekalipun. Sama seperti yang dialami dan dilakukan oleh Raja Daud di dalam kitab 1 Samuel 30:1-20.

Kita mungkin berkata, “Ah, itu tidak mungkin.”
Tuhan berkata, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.” (Lukas 18:27).

Kita mungkin berkata, “Aku terlalu capai.”
Tuhan berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”” (Matius 11:28-30).

Kita mungkin berkata, “Tidak ada seorangpun yang mengasihi aku.”
Tuhan berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).

Kita mungkin berkata, “Aku tidak bisa meneruskan.”
Tuhan berkata, “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (2 Korintus 12:9).

Kita mungkin berkata, “Aku tidak mengerti.”
Tuhan berkata, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:5-6).

Kita mungkin berkata, “Aku tidak bisa melakukannya.”
Tuhan berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

Kita mungkin berkata, “Ini tidak berharga.”
Tuhan berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).

Kita mungkin berkata, “Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.”
Tuhan berkata, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9).

Kita mungkin berkata, “Aku tidak bisa mengatasi.”
Tuhan berkata, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19).

Kita mungkin berkata, “Aku takut.”
Tuhan berkata, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7).

Kita mungkin berkata, “Aku selalu kuatir dan frustasi.”
Tuhan berkata, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7).

Kita mungkin berkata, “Aku tidak mempunyai iman yang kuat.”
Tuhan berkata, “.. Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang kamu patut pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” (Roma12:3).

Kita mungkin berkata, “Aku tidak pandai.”
Tuhan berkata, “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”” (1 Korintus 1:30-31).

Kita mungkin berkata, “Aku merasa aku sendirian.”
Tuhan berkata, “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu atau membiarkanmu.”(Ibrani 13:5)

Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita berjalan sendiri. Dia sangat mengasihi hidup kita.

–Disarikan dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s