Kaisar Yang Murah Hati

Standard

Harry Allen Ironside, seorang pengajar Alkitab dan penulis yang produktif, pernah menceritakan sebuah kisah tentang seorang tentara Rusia yang masih muda. Ayah tentara tersebut adalah teman dari Czar Nicholas I, sehingga pemuda itu memiliki kesempatan untuk dipekerjakan sebagai juru bayar di salah satu barak. Pada mulanya dia bertugas dengan sangat baik. Tetapi karena terpengaruh oleh pergaulan yang kurang baik, membuat dirinya tidak dapat bertanggung jawab atas pekerjaannya. Ia mulai berjudi, kalah besar, dan menghabiskan uang miliknya sendiri dan juga pemerintah.

Hingga tiba waktunya bagi anak muda itu menerima pemberitahuan, bahwa perwakilan Tsar (Kaisar Jerman saat itu) akan datang untuk memeriksa buku catatan rekeningnya. Malam itu anak muda tersebut mengambil buku catatan keuangan, dan juga sisa beberapa uang yang dia pinjam dari sana, lalu pergi ke tempat yang aman dan mulai menghitungnya. Saat ia duduk dan melihat pada buku dan uang itu, dia terkejut karena merasa tidak sanggup untuk membayar jumlah hutang yang amat besar. Aib sudah di depan matanya, dan hukuman penjara telah menantinya.

Karena tidak dapat berpikir dengan jernih, yang dipikirkan anak muda ini hanyalah ingin mengakhiri hidupnya. Dia menarik pistol dari pinggangnya dan menaruhnya di meja di hadapannya, serta menulis pernyataan bersalah dan permintaan maafnya. Pada bagian akhir dari buku di mana ia mentotal semua jumlah hutang ilegalnya, dia menulis, “Hutang yang besar. Siapakah yang dapat membayarnya?” Dan memutuskan bahwa pada tengah malam nanti, dia akan mengakhiri hidupnya.

Ketika malam bertambah larut, pemuda yang sedang kebingungan itu malah jatuh tertidur. Saat dia tertidur, Czar Nicholas I, seperti yang kadang-kadang sering dilakukannya, pergi memutari barak dengan diam-diam. Melihat ada lampu yang masih menyala, dia berhenti dan masuk, serta melihat bahwa anak muda itu sedang tertidur. Dia segera mengenali pemuda tersebut dan melihat dari atas bahu pemuda, Czar melihat buku catatan keuangan itu dan menyadari apa yang telah terjadi.

Czar ingin membangunkan pemuda itu, tetapi menahan dirinya, ketika pandangan matanya tertuju pada pesan yang ditulis. “Hutang yang besar. Siapakah yang dapat membayarnya?” Tiba-tiba, saat melihat pemuda tersebut, ada sebuah rasa kemurahan hati yang mengalir di hatinya. Ia membungkuk sebentar, menulis satu kata di bawah tulisan pemuda itu, dan segera menyelinap keluar. Ketika pemuda itu terbangun, ia melirik ke arah jam, dan melihat bahwa tengah malam telah lewat lama. Ia segera meraih pistolnya, tetapi matanya tertuju pada buku catatan itu. Ia melihat ada suatu tulisan yang sebelumnya tidak ada di sana. Ada tanda seru yang ditambahkan: “Hutang yang sangat besar! Siapakah yang dapat membayarnya?” Dan di bawah kata-kata tersebut, terdapat sebuah tanda tangan: Nicholas.

Dia tercengang! Itu adalah tanda tangan Tsar. Dia berpikir, “Tzar pasti datang ke sini, ketika aku jatuh tertidur. Dia telah melihat buku ini! Dia telah tahu semuanya, tetapi masih bersedia untuk mengampuni saya..” Lalu anak muda tersebut bersandar dan percaya pada kata-kata Tzar. Pada pagi harinya, datanglah seorang utusan dari istana dengan membawa sejumlah uang yang tepat dengan jumlah kekurangan uang yang ada. Hanya Tzar yang dapat membayarnya, dan dia telah melakukannya bagi anak muda ini.

Bukankah kisah indah di atas mengingatkan apa yang telah Kristus lakukan bagi hidup kita? Di bawah kata-kata, “Hutang yang sangat besar! Siapa yang dapat membayarnya?” telah telah tertulis sebuah tanda tangan: Yesus. Hanya Dia yang dapat membayar semua hutang dosa kita, dan Dia telah membayarnya lunas di atas salib di Golgota. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).

Pemazmur mengatakan, “… Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!” (Mazmur 32:1). Tuhan Yesus pun juga telah membayar hutang dosa kita, bukan dengan emas atau perak, melainkan dengan tubuh dan darah-Nya sendiri. Untuk itu marilah kita bersyukur atas keselamatan yang kita terima melalui Dia, dan berbijaksana dalam menjalani hidup ini dengan menyenangkan hati-Nya dan memuliakan Tuhan dalam setiap apa yang kita lakukan.

“Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13:12-14).

“Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.” (1 Tesalonika 5:4-5).

–Disadur dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s