Hidup Memerlukan Ucapan Syukur

Standard

Betapa indahnya hidup ini, apabila setiap kita dapat memandang segala sesuatu yang terjadi dari sisi positif. Di bawah ini ada dua kisah tentang perlunya kita belajar memiliki sikap selalu mengucap syukur..

Kisah Pertama

Alkisah pada suatu hari, ada seorang ibu muda yang cantik dan berpakaian mewah, datang ke seorang psikiater untuk berkonsultasi. Ibu muda ini merasa bahwa seluruh hidupnya kosong dan tidak bermakna. Setelah mendengar semua hal yang diceritakan oleh ibu muda tersebut, psikiater lalu memanggil seorang ibu yang sudah lanjut usia, petugas kebersihan yang biasanya membersihkan setiap lantai di kantor.

“Saya meminta kepada Ibu Iyem ke sini untuk menceritakan bagaimana dia menemukan kebahagiaan. Yang perlu Ibu lakukan hanyalah mendengarkan saja apa yang dia ceritakan kepada kita.” Kemudian ibu Iyem meletakkan sapunya, duduk di atas kursi dan mulai bercerita..

“Suami saya beberapa tahun yang lalu meninggal karena penyakit kanker. Tiga bulan setelah kematian suami, saya menerima kabar bila putra tunggal saya meninggal akibat kecelakaan ditabrak truk. Saya sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Tak ada yang tertinggal. Karena peristiwa tersebut, saya menjadi depresi, tidak bisa tidur, tidak bisa makan, dan tidak bisa tersenyum kepada siapa pun. Bahkan sering berpikir untuk mengakhiri hidup saya saja.”

“Sampai pada suatu malam ketika pulang dari pekerjaan, ada seekor anak kucing yang mengikuti saya sampai ke rumah. Karena di luar cuacanya sangat dingin, saya biarkan saja anak kucing itu masuk. Saya beri dia sepiring susu, yang langsung habis diminumnya. Anak kucing itu mengeong dan mengusap badannya ke kaki saya, sebagai tanda terima kasihnya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya dapat tersenyum. Saya lalu berpikir, jika membantu anak kucing bisa membuat saya tersenyum, mungkin melakukan sesuatu untuk orang lain bisa juga membuat saya bahagia.”

“Jadi pada hari berikutnya, saya membuat kue dan membawanya ke tetangga yang sakit, yang terbaring di ranjang dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Setiap hari saya mencoba melakukan sesuatu yang baik pada seseorang. Melihat mereka bahagia, membuat saya juga ikut berbahagia. Hari ini, rasanya tidak ada orang yang dapat makan begitu lahap dan tidur pulas seperti saya. Saya menemukan kebahagiaan dan kegembiraan dengan memberikan kegembiraan kepada orang lain,” kata bu Iyem menyelesaikan ceritanya.

Sesudah mendengar cerita ini, perempuan kaya itu menangis. Ia punya segala sesuatu yang dapat dibeli dengan uang, tetapi dia kehilangan hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Sudahkah kita selalu bersyukur atas apa yang kita miliki serta selalu mempunyai Kasih bagi sesama kita?

Kisah Kedua

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki empat orang anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan dan kerapian rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapi, bersih, teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu. Cuma ada satu masalah, ibu yang suka akan kebersihan ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya terlihat kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian.

Padahal dengan adanya empat anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan sangat menyiksanya. Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir dan menceritakan seluruh masalahnya. Setelah mendengar cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia tersenyum dan berkata pada sang ibu: “Ibu harap tutup mata dan bayangkan apa yang akan saya katakan. Ibu itu kemudian menutup matanya.”

“Sekarang, bayangkan rumah ibu yang rapi dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu.. Bagaimana perasaan Ibu?”

Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya. Virginia pun melanjutkan, “Itu artinya tidak ada seorang pun di rumah Ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah Ibu sepi dan kosong, tanpa adanya orang-orang yang Ibu kasihi.”

Seketika itu juga muka Ibu berubah menjadi muram, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak tangis. Perasaannya terguncang, pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang terjadi pada suami dan anak-anaknya. “Sekarang lihat kembali ke karpet itu, Ibu melihat banyak jejak sepatu dan kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak Ibu ada di rumah, orang-orang yang Ibu cintai ada bersama dengan Ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati Ibu.” Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut. “Sekarang bukalah mata Ibu.” Dan, ibu itu membuka matanya.

“Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat Ibu?” Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku tahu maksud Anda,” ujar sang ibu. Sejak saat itu, sang ibu tidak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu di sana, ia tahu bahwa keluarga yang dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder dan John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming). Teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita “membingkai ulang” sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya berkesan negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya. Jika kita melihat suatu permasalahan dengan sudut pandang yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat dan diambil hikmah positifnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang. Saya bersyukur: 

– Untuk istri yang mengatakan, “Malam ini kita hanya makan mie instan,” karena itu berarti ia sedang bersamaku bukan dengan orang lain.
– Untuk suami yang kerjaannya hanya duduk malas di sofa pada malam hari menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat-tempat mesum.
– Untuk anak-anak yang selalu ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak menjadi anak jalanan.
– Untuk tagihan pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi.
– Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami di kelilingi banyak teman.

– Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya mendapat berkat dapat cukup makan.
– Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras.
– Untuk semua kritik yang saya dengar tentang Pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat.
– Untuk bunyi alarm pada jam 5 pagi yang membangunkan saya, karena itu artinya saya masih dapat terbangun, masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup.

Belajar berpikiran positif dan selalu mengucap syukur..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s