Gelas Anti-Pecah

Standard

Kisah di bawah ini adalah sebuah postingan lama, tetapi terasa sayang untuk di-skip, apalagi di-delete dari email begitu saja. Yuk sama-sama menikmati dan mendapat berkat dari email ini kembali..

Saat merenungkan kisah hidup Ayub di dalam Alkitab, Tuhan mengajak saya untuk berdiskusi. Dan, ini adalah hasil diskusinya..

(“T” untuk Tuhan dan “S” untuk saya)

T: “Menurut kamu, apakah yang Aku perbuat dalam hidup Ayub itu adil?”
S: “Boleh berkata jujur ya Tuhan?”
T: “Ya silahkan. Tentu saja..”
S: “Menurut saya, ngga adil. Ayub kan ngga salah apa-apa? Mengapa dia harus mengalami hal yang sedemikian tragis dalam hidupnya?”
T: “Hm.. Masa kau meragukan keadilan-Ku? Aku kan Tuhan Yang Mahaadil? Apa yang Aku perbuat dan putuskan dalam kehidupan Ayub itu adalah sebuah keadilan, walau dia sendiri tidak punya kesalahan. Ayub memang hidup kudus dan berkenan di hadapan-Ku. Dia tidak berbuat salah apapun, tetapi..”
S: “Lho, apa ada dosa yang Ayub lakukan, yang tidak ditulis dalam Alkitab? Dosa apakah Tuhan?”

T: “Bukan dosa, anak-Ku. Tetapi kehidupan Ayub selama ini belum pernah diuji.”
S: “Hah? Belum pernah diuji? Bukankah di Alkitab tertulis bahwa kehidupan Ayub sendiri sudah terlihat sedemikian salehnya? Ujian apalagi yang diperlukan oleh seorang Ayub, Tuhan?”
T: “Seandainya Aku ini adalah seorang penjual gelas yang khusus berjualan gelas anti-pecah. Lalu ada pembeli yang datang untuk melihat dan bertanya bahwa apakah benar gelas ini anti-pecah atau tidak. Menurutmu, apa yang seharusnya Aku lakukan untuk membuktikannya?”
S: “Err.. Membanting gelasnya?”

T: “Itulah Kuperbuat dalam kehidupan Ayub. Aku mem-‘banting’ hidup Ayub karena iblis ingin membuktikan kebenaran tentang hidupnya. Bukankah Aku ini adalah Allah yang tidak pernah berdusta? Tidak ada cara lain, kecuali mengijinkan Ayub untuk masuk dalam ujian iman seperti yang kamu baca di Alkitab. Aku bertindak adil, kan? Meski saat proses tersebut terlihat tidak adil, suatu hari kelak kalian akan mensyukuri atas datangnya proses ‘pembantingan’ yang Kuijinkan datang di dalam kehidupan kalian.”

S: “Oh? Pantas hidupku juga sering Kau ‘banting’ ya Tuhan? Hm.. Tetapi proses tersebut membuat aku menjadi tahan uji, berkualitas, dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Terima kasih Tuhan buat setiap ujian-Mu!”
T: “Sama-sama, anak-Ku..”

Orang yang “istimewa” proses yang harus mereka lalui jugalah harus istimewa. Jadilah pribadi yang istimewa di hadapan Tuhan. Janganlah pernah mengeluh saat kita diijinkan masuk ke dalam proses dan ujian-Nya. Hal itu tandanya kita masih diperhatikan dan disayang oleh Tuhan. Kenapa? Karena Dia ingin menjadikan kita sebagai pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Kita diproses dengan satu tujuan: Menjadi serupa dengan diri-Nya..

–Disadur dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s