Mengapa Anak Berbohong?

Standard

Salah satu ketakutan orangtua tatkala mendapati anaknya berbohong adalah anaknya akan tumbuh menjadi seorang pembohong. Apakah benar fakta yang demikian dan sikap apa yang harus kita perlihatkan sewaktu kita mendapati anak sedang berbohong?

Pertama, kita tidak boleh menuduh anak berbohong bila kita tidak cukup mempunyai bukti. Hal ini penting sekali sebab menyangkut tentang “kepercayaan” yang dibangun (dan dijaga terus-menerus) di antara hubungan orangtua dan anak. Seorang anak jelas membutuhkan kepercayaan dari orangtuanya, dan bila ia tidak mendapatkannya, maka ia akan menolak untuk berkomunikasi. “Buat apa aku berbicara? Toh kata-kataku juga tidak dapat dipercaya oleh papa dan mama..” Demikian mungkin kata-kata yang akan diucapkan oleh sang anak.

Kedua, kita mesti memahami alasan mengapa seorang anak berbohong. Anak berbohong bisa jadi karena ia takut kepada kita. Anak takut kalau dia berkata jujur, kita akan menjadi marah besar kepadanya. Anak berbohong karena ia tahu kita tidak akan memenuhi permintaannya. Anak berbohong karena ia ingin membenarkan tindakannya. Anak berbohong karena ia baru saja menemukan sebuah “ilmu” baru. Dengan kebohongan yang diperbuatnya, ternyata ia dapat menuai “manfaatnya”. Misalnya lolos dari tugas, hukuman, dan sebagainya. Jadi, ia terus mengasah dan mempraktekkan keterampilannya itu.

Ketiga, kita harus mengontrol emosi kita. Emosi yang berlebihan dan memanggil anak dengan julukan “Pembohong” tidak akan pernah menyelesaikan sebuah permasalahan. Malah hal itu akan semakin membuat anak ketakutan, dan untuk menutupi ketakutannya ia akan berbohong kembali. Berikan jaminan dengan tindakan (tidak hanya sekadar kata-kata), bahwa jika ia mau belajar untuk berterus-terang, maka kita akan memaafkan dan tidak menghukumnya.

Keempat, kita harus memotong mata-rantai bohongnya. Jangan menginterogasi anak untuk memaksa membuatnya mengaku, bila kita sudah tahu bahwa ia berbohong. Tindakan ini hanya akan mendidiknya menjadi lebih canggih dalam berbohong. Langsung saja kemukakan fakta yang kita dapat dan tidak perlu menunggunya untuk mengaku. Sesuaikan sanksi kita dengan perbuatannya.

Kelima, kita perlu mengevaluasi diri. Apakah kita terlalu keras kepadanya? Apakah kita tidak memberinya cukup kebebasan? Apakah (mungkin) kita kurang dalam memberinya uang saku?

–Disadur dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s