Menjadi Bos Anak atau Orangtua?

Standard

Tidak semua dapat menjadi orangtua yang baik bagi anak-anaknya, tetapi mereka hanya dapat menjadi “Bos Anak,” yakni menjadi bos di rumah bagi anak-anaknya. Artikel di bawah ini Penulis dapatkan dari email seorang sahabat, dan semoga dapat menginspirasi dan mengubah setiap dari kita untuk menjadi orangtua yang jauh lebih baik. Tidak sekadar menjadi “Bos Anak”, tetapi juga menjadi orangtua, menjadi sahabat yang baik bagi anak-anak kita..

Bos Anak: Membuat takut dalam diri anak-anaknya.
Orangtua: Membangun kepercayaan anak-anaknya.
Bos Anak: Sering mengatakan “Pokoknya Papa Mama tidak mau..”
Orangtua: Sering mengatakan “Papa Mama sangat senang jika kamu..”
Bos Anak: Sangat tahu bagaimana mengatur anak.
Orangtua: Sangat tahu bagaimana membina anak.
Bos Anak: Selalu mengendalikan anak.
Orangtua: Membantu anak untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Bos Anak: Berfokus pada keburukan anak.
Orangtua: Berfokus pada kebaikan anak.

Bos Anak: Berbicara pada saat anak berantem.
Orangtua: Berbicara pada saat anak rukun.
Bos Anak: Menguasai anak.
Orangtua: Bekerjasama dengan anak.
Bos Anak: Menyelesaikan hampir semua masalah anak.
Orangtua: Melatih anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Bos Anak: Sangat lihai menyalahkan saat anak bermasalah, mundur ke belakang.
Orangtua: Rendah hati menemukan solusi bersama saat anak bermasalah, maju ke depan.

Bos Anak: Mengatakan “Lain kali jangan kayak gitu!” saat anak meminta maaf.
Orangtua: Mengatakan “Terima kasih Tuhan, anak Papa dan Mama berhati besar mau meminta maaf.”
Bos Anak: Otoriter pada anak.
Orangtua: Otoritatif pada anak.
Bos Anak: Nonton Tv pada saat anak belajar.
Orangtua: Mematikan Tv pada saat anak belajar.
Bos Anak: Selalu menanyakan “Bagaimana pelajaran kamu hari ini? Bagaimana nilaimu?”
Orangtua: Menanyakan “Apa yang membuatmu tertawa hari ini di sekolah, nak?”

Bos Anak: Menceramahi anak “Papa mama bilang apa? Kamu sih banyak bermain, nilaimu jadi jelek begini, prestasimu turun!”
Orangtua: Berbicara dengan anak “Papa mama yakin kamu kecewa dan sedih dengan nilai belajarmu. Adakah yang bisa kami bantu agar nilaimu menjadi lebih baik, nak?”
Bos Anak: Mengusir anak saat pulang kerja “Sana jangan dekat-dekat, kamu tahu kan papa mama sedang capek?”
Orangtua: Memeluk anak saat pulang kerja “Sini anak-anakku. Siapa dulu yang mau bercerita?”

Jika anak hidup dalam kritikan, ia belajar untuk mengutuk.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar untuk melawan.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar untuk bersabar.
Jika anak hidup dalam ejekan, ia belajar menjadi pemalu.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar hidup rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyukai dirinya sendiri.
Jika anak hidup dengan keadilan, ia belajar adil.
Jika anak hidup dengan rasa aman, ia belajar untuk percaya.
Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, Ia belajar menemukan cinta di sekitarnya..

–Disadur dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s