Hanyut Dibawa Arus

Standard

“Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.” (Ibrani 2:1).

Saudara-saudara terkasih, di hari-hari akhir ini kita harus memiliki hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan (baik melalui doa dan membaca firman-Nya). Banyak kabar dan kejadian di sekitar yang dapat melemahkan iman, membuat hubungan terhadap Tuhan menjadi semakin hambar. Kita harus memiliki dasar yang teguh dalam pengenalan akan Allah, bukan dari kata orang, tetapi pengalaman pribadi bersama-Nya. Selain itu juga selektif dalam mendengar berita yang masuk di telinga dan hati.

Bila membaca ayat firman Tuhan di atas, kita akan menemukan bahwa rasul Paulus bersungguh hati memperingati agar kita teliti terhadap apa yang kita dengar, supaya jangan hanyut dibawa arus. Arus apa? Arus kekuatiran hidup, arus takut akan masa depan, arus dunia yang membawa prinsip dan nilai-nilai yang ada di dunia ini, dll, yang membuat kita menjauh dari persekutuan intim dengan Tuhan..

Alkitab terbitan LAI menterjemahkan cukup mendekati kata aslinya, “hanyut dibawa arus.” Dalam bahasa aslinya, kata di atas disebut dalam bahasa yunaninya adalah π α ρ α ρ ε ω atau parareo. Hal itu digambarkan seperti rakit/perahu yang lepas dari tambatannya, atau seperti cincin yang dilepas dari jari tangan kita. Bila melihat perahu yang lepas dari tambatannya, kita tidak akan melihat perahu itu langsung menghilang. Tapi perahu itu pelan-pelan menjauh dari kita. 1 meter, 3 meter, 5 meter, mulai menjauh, dan menghilang.

Hal yang sama seperti kita melepas cincin di jari tangan. Harus diputar perlahan, baru dapat lepas. Demikian dengan hidup kita. Kalau tidak memperhatikan dengan benar berita apa yang kita dengar dan tidak teliti dalam menyaring setiap berita, maka pelan-pelan akan terhanyut oleh arus. Tidak terasa memang. Tapi suatu ketika, ditemukan bahwa kita sudah jauh dari persekutuan dengan Tuhan. Kalau kita melihat seseorang yang mundur rohaninya, kita tidak akan menemukan orang itu langsung tiba-tiba mundur dan menjauh dari Tuhan. Tetapi perlahan mundur seperti terbawa arus.

Pertama-tama gejalanya malas berdoa, malas membaca firman Tuhan, lalu mulai malas datang dalam persekutuan dengan saudara seiman. Setelah itu berlanjut dengan mulai mencari pergaulan yang “seolah” dapat menerima dan mengisi kehampaan dan kekosongan di hati. Lalu menghilang selamanya. Anda melihat gejalanya? Perlahan mulai menjauh, bukan? Sampai suatu saat Anda menemukan diri jauh dari kasih Bapa: Hambar dan dingin. Bukan Tuhan yang tidak mau menerima kita, tetapi kita yang bergerak menjauh dari-Nya.

Ijinkan sharing saya hari ini memanggil, mengingatkan, dan menarik dekat saudara kembali pada kasih Bapa. Ijinkan Allah Roh Kudus membawa Anda kembali pada-Nya. Menjamah dan menghangatkan hubungan yang intim dengan-Nya. Jangan mau ditipu oleh iblis dengan arus nikmatnya dunia ini. Apa gunanya kita dapat menikmati seluruh isi dunia, tapi hati kita kosong dan hampa tanpa ada Tuhan Yesus di dalamnya.

Di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa. Mari kembali mendekat pada-Nya. Kekosongan dan kehampaan di hati kita yang dapat mengisinya hanya Pencipta kita, yaitu Tuhan Yesus. “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” (Ibrani 12:15).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s