Kuasa dari Perkataan

Standard

Kisah Pertama

Berikut di bawah ini adalah sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka berselisih paham dan salah seorang menampar temannya. Orang yang terkena tamparan merasa sakit hati. Tanpa berkata apa-apa, dia menulis di atas sebuah pasir:

“Hari ini sahabat terbaikku menampar pipiku.”

Dan mereka terus berjalan sampai akhirnya menemukan sebuah oasis. Orang yang pipinya terkena tamparan dan terluka hatinya, mencoba mengisi waktu dengan berenang dan nyaris tenggelam. Tetapi tepat pada waktunya, dia berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia sudah siuman, dia memeluk sahabatnya, mengucapkan terima kasih, dan menulis di atas sebuah batu:

“Hari ini sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku.”

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya,

“Kenapa setelah saya menampar dan melukai hatimu, engkau menulisnya di atas pasir dan setelah saya menolongmu, engkau menuliskan perkataan ini di atas batu apa maksudnya?”

Sambil tersenyum temannya menjawab,

“Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar hembusan angin dan desiran ombak Maaf datang untuk menghapus tulisan itu. Dan bila sesuatu yang luar biasa Baik terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati, agar tak pernah bisa hilang tertiup angin dan selalu teringat di sepanjang kehidupan kita.”

Ada kata-kata bijak yang mengatakan, “Ampuni dan lupakan setiap perkataan maupun perbuatan kurang baik yang orang lakukan kepada kita, tetapi jangan lupakan perbuatan baik yang pernah dilakukan oleh orang tersebut.”

Kisah Kedua

Alkisah pada masa kekuasaan Tsar Nicolas I di kekaisaran Rusia, pecah sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh seseorang yang bernama Kondraty Ryleyev. Namun, pemberontakan itu berhasil ditumpas. Ryleyev, sang pemimpin pemberontakan ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Namun saat tali sudah diikat di lehernya dan eksekusi dilaksanakan, tiba-tiba tali gantungan terputus. Di masa itu, kejadian di luar kebiasaan seperti itu biasanya dianggap sebagai bukti bahwa terhukum tidak bersalah dan Tsar mengampuninya.

Namun, Ryleyev yang lega dan merasa di atas angin menggunakan kesempatan itu untuk mengritik, “Lihatlah. Di Pemerintahan ini sama sekali tidak ada yang betul. Bahkan, membuat tali saja pun mereka tidak becus!” Seorang pembawa pesan yang melihat peristiwa “Putusnya Tali” ini kemudian melaporkan pada Tsar. Dan, sang penguasa Rusia bertanya, “Lalu, apa yang Ryleyev katakan?” Ketika pembawa pesan menceritakan komentar Ryleyev, Tsar pun menjadi berang dan berkata, “Kalau begitu mari kita buktikan apakah ucapannya benar atau tidak.”

Ryleyev pun menjalani hukuman gantung yang kedua kalinya, dan kali ini tali gantungnya tidak putus. Bukan hukuman yang membinasakan nyawanya, tetapi ucapannya sendiri. Seandainya Ryleyev memiliki sikap yang benar pada kasus tali gantungnya yang pertama, mungkin kesalahannya diampuni dan nyawanya dapat diselamatkan.

Lidah itu seperti kekang kuda dan kemudi sebuah kapal, yang walau hanya berupa benda kecil tetapi bisa mengendalikan benda raksasa. Lidah dapat menjadi seperti api kecil di tengah hutan, bahkan lebih buas dari segala hewan liar. Apa yang kita ucapkan sangat menentukan arah kehidupan kita..

“Dengan lidah itu kita memuji Tuhan, yaitu Bapa, dan dengan lidah itu juga kita mengutuki manusia yang dijadikan atas teladan Allah. Daripada mulut itu juga keluar puji-pujian dan kutuk. Perkara yang demikian ini, hai saudara-saudaraku, tiadalah patut.” (Yakobus 3:9-10).

–Disadur dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s