Bersikap Bijak

Standard

Kisah Pertama

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Matius 5:39).

Pak Bono adalah seorang guru desa yang sedang berbicara pada orang banyak. Tiba-tiba ada pemuda tak dikenal yang melempar sebuah kentang tepat mengenai kepalanya. Melihat kejadian tersebut, orang-orang terdiam menahan napas. Pak Bono segera memungut kentang itu dan beranjak pergi. Beberapa bulan kemudian, ia mengunjungi rumah pemuda yang telah melempar kentang tersebut. Setelah mengetuk pintu, Pak Bono menyodorkan sekarung penuh kentang sambil berkata,

“Beberapa waktu yang lalu Anda melempar kentang, lalu saya memungut dan menanamnya. Saya kemari hanya ingin berterima-kasih dan membagi hasil panennya dengan Anda.”

Bacaan Alkitab hari ini adalah bagian dari Khotbah di Bukit. Di sana Tuhan Yesus mengutip salah satu hukum tertua di dunia: “Mata ganti mata, gigi ganti gigi.” Hukum pembalasan tersebut (atau disebut Lex Talionis) terdapat dalam kitab Hammurabi, Raja Babel pada tahun 2285-2242 SM. Namun, Tuhan Yesus mengajarkan hal yang sama sekali berbeda, yakni Anti-Lex Talionis. Ungkapan dalam Alkitab yang berbunyi: “Berilah pipi kiri pada orang yang menampar pipi kanan,” adalah sebuah kiasan. Maknanya, Tuhan ingin para pengikut-Nya menghindari sikap “Mata ganti mata”; tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan, kebencian dengan kasih, sumpah serapah dengan berkat. Balas dendam hanya akan memicu hal-hal buruk lainnya. Seumpama mata rantai, keburukan harus “diputus” dengan kebaikan.

Biarlah kita membuang jauh-jauh niat menuntut balas pada orang yang telah menyakiti kita. Sebaliknya, tetap upayakan kebaikan untuknya, seperti yang telah dilakukan Pak Bono dalam cerita di atas. Sikap ini jauh lebih mendatangkan berkat dan sukacita dalam kehidupan kita. Air susu dibalas air tuba itu tindakan pengecut. Air tuba dibalas air susu itu tindakan Kristiani. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”” (Matius 5:16).

Kisah Kedua

Ada kisah seorang petani di jaman Tiongkok kuno, yang mempunyai tetangga seorang pemburu dan memiliki anjing pemburu galak dan terlatih. Anjing-anjing ini sering melompat pagar tetangga dan mengejar domba petani tersebut. Petani sering meminta tolong pada tetangganya untuk mengendalikan anjing-anjingnya, tetapi tidak pernah dipedulikan olehnya. Pada suatu hari anjing-anjing itu melompat pagar lagi dan menyerang beberapa domba hingga terluka parah. Petani itu habis kesabarannya, dan pergi ke kota untuk berkonsultasi dengan seorang hakim yang mendengar ceritanya dengan cermat. Hakim tersebut berkata,

“Saya bisa saja menghukum tetangga Anda dan menyuruh agar anjingnya dirantai atau dikurung. Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang lebih ingin Anda miliki? Seorang teman? Atau seorang musuh?”

Dan, petani itu menjawab bahwa ia ingin memiliki seorang teman. 

“Baiklah, saya akan menawarkan Anda suatu solusi untuk menjaga domba-domba supaya aman, yang di mana hal ini tetap membuat tetangga Anda menjadi seorang teman.” Setelah mendengar solusi hakim itu, petani menyetujuinya.

Begitu sampai di rumah, petani segera menguji saran dari hakim tersebut. Dia mengambil tiga anak domba terbaiknya untuk dihadiahkan pada ketiga putra tetangganya yang masih kecil, yang berada di sebelahnya. Menerima pemberian tersebut, anak tetangganya sangat berbahagia dan mereka mulai bermain dengan domba-domba itu. Untuk melindungi “mainan” anaknya yang baru diperoleh, pemburu itu membangun sebuah kandang yang kuat untuk anjing-anjingnya. Sejak saat itu, anjing-anjing si pemburu tidak pernah lagi mengganggu domba-domba milik petani tersebut.

Keluar dari rasa syukur atas kemurahan hati sang petani terhadap putra-putranya, pemburu itu sering berbagi hasil buruan yang ia dapatkan kepada petani itu. Si petani membalasnya dengan mengirim daging domba dan keju yang dibuatnya untuk pemburu itu. Dalam waktu singkat kedua tetangga itu telah menjadi teman baik. 

Sebuah pepatah Tiongkok kuno mengatakan seperti ini, “Seseorang bisa membujuk dan mempengaruhi orang-orang sebaik-baiknya, dengan cara-cara kebaikan dan belas kasih.”
Ungkapan serupa dari orang Amerika mengatakan: “Orang menangkap lebih banyak lalat dengan madu daripada dengan cuka.”

Kisah Ketiga

Ada seorang guru yang mendatangi muridnya karena belakangan ini wajahnya tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah dan patut kita syukuri di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang guru bertanya.
“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Terasa sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang guru pun terkekeh..

“Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.“

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia melaksanakan permintaan gurunya, lalu kembali membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke dalam segelas air itu,” kata sang guru, “setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya sang guru.
“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. “Sekarang kau ikut aku.” Sang guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambillah garam yang masih tersisa, dan tebarkan ke danau.” Si murid pun menebar segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa banyak bicara. Rasa asin di mulutnya masih belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya.

“Sekarang, cobalah kau minum air danau itu,” kata sang guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan memasukkan ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, sang guru bertanya padanya, “Bagaimana rasanya?” “Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan sudah pasti air danau juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulut si murid muda tersebut.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”
“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.

Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata sang guru setelah muridnya selesai minum, “segala masalah dalam kehidupan itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang engkau alami di sepanjang hidupmu itu sudah ditakar oleh Tuhan, dan pas sesuai untuk dirimu. Setiap manusia yang lahir ke dalam dunia pun demikian. Tidak ada satu pun manusia yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam dan mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya kapasitas hati yang menampungnya. Jadi, supaya engkau tidak merasa menderita, berhentilah “menjadi gelas.” Jadikan hati dalam dadamu itu menjadi sebesar danau. Milikilah respon hati dan sikap yang benar dalam menghadapi suatu permasalahan, bahwa hal itu tidak akan pernah melebihi kekuatanmu.”

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13).

–Disadur dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s