Sejarah Hari Valentine

Standard

Ada sebuah legenda yang mengatakan bahwa hari Valentine berasal dari perayaan kuno Lupercalia dari bangsa Roma, sebuah perayaan kesuburan yang dirayakan setiap tanggal 15 Februari. Tapi seiring dengan bangkitnya kekristenan di Eropa, banyak perayaan penyembahan berhala diberi nama ulang dan didedikasikan pada para martir Kristen yang hidup pada masa awal, termasuk perayaan Lupercalia. Pada tahun 496 AD, Paus Gelasius I mengubah perayaan Lupercalia menjadi perayaan Kristen dan dimulai pada tanggal 14 Februari, serta menyatakan bahwa pada tanggal tersebut adalah perayaan untuk menghormati Santo Valentinus, martir dari Roma yang hidup pada sekitar abad ketiga.

Pada saat Claudius II menjadi kaisar, ia merasa bahwa ketika pria menikah, mereka lebih emosional melekat pada keluarga dan perkawinan membuat kekuatan para prajuritnya lemah. Maka ia mengeluarkan dekrit yang berisi larangan pernikahan untuk menjamin kualitas kekuatan prajurit. Larangan ini adalah kejutan besar bagi Roma, khususnya bagi para prajuritnya. Tapi mereka tidak berani protes terhadap Kaisar Cladius II. Uskup Valentinus juga menyadari ketidakadilan keputusan tersebut. Dan dia berencana untuk melawan perintah raja dengan cara diam-diam melakukan sakramen perkawinan bagi pasangan yang hendak menikah, di tempat rahasia.

Tapi hal itu tidak dapat tersembunyi dalam waktu lama. Kaisar Claudius II mengetahui dari temannya dan Uskup Valentinus segera ditangkap. Sambil menunggu hukuman di penjara, Uskup Valentinus didekati sipir penjaranya, Asterius. Ada yang mengatakan bahwa Uskup Valentinus memiliki kekuatan suci untuk menyembuhkan orang. Dan, Asterius memiliki seorang putri yang tak dapat melihat dan ia berharap agar Uskup Valentinus mau mengembalikan penglihatan putrinya. Tetapi Uskup Valentinus tidak berhasil untuk mengembalikan penglihatan putri Asterius.

Ketika Kaisar Claudius II bertemu Uskup Valentinus, Uskup Valentinus tetap menyatakan pendapatnya untuk menolak pendapat kaisar tentang larangan perkawinan. Ada yang mengatakan bahwa Kaisar Cladius II mencoba untuk membujuk Uskup Valentinus untuk menyembah para dewa Romawi. Tapi Uskup Valentinus menolak untuk menyembah dewa Romawi dan bahkan mencoba untuk mengubah keyakinan kaisar untuk menyembah Allah yang benar. Kaisar Claudius II menjadi marah dan memberi perintah untuk segera mengeksekusi Uskup Valentinus.

Sementara itu, persahabatan telah terbentuk antara Uskup Valentinus dan putri Asterius dan mendengar bahwa Uskup Valentinus akan dieksekusi, hal ini menyebabkan kesedihan besar bagi putri Asterius. Dikatakan bahwa sebelum eksekusi, Uskup Valentinus meminta pena dan kertas dari sipir penjara, dan menandatangani pesan perpisahan padanya “From Your Valentine,” sebuah frasa yang hidup selamanya.

Menurut legenda yang lain, Uskup Valentinus jatuh cinta dengan putri Asterius selama penahanannya. Namun, legenda ini tidak begitu penting bagi sejarahwan. Kisah yang lain adalah Uskup Valentinus merupakan salah satu bentuk contoh kasih yang tidak berpusat pada Eros (cinta penuh gairah) tetapi pada Agape (cinta kasih Ilahi), dan juga ia menjadi martir karena menolak untuk meninggalkan keKristenannya. Eksekusi Uskup Valentinus diyakini telah dilaksanakan pada tanggal 14 Februari tahun 270 AD.

Hari Valentine pada Era Pertengahan

Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita “Parlement of Foules” (Percakapan Burung-Burung) bahwa,

For this was sent on Seynt Valentyne’s day
(untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus),
When every foul cometh there to choose his mate
(saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya).”

Hari Valentine pada Era Modern

Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847, oleh Esther A. Howland (1828-1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahunnya mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary.”

Tradisi Hari Valentine di Negara-negara Non-Barat

Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut “Hari Putih” (White Day) muncul. Pada hari ini (14 Maret), pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.

Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah “Hari Raya Anak Perempuan” (Qi Xi). Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.

Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini menjadi budaya populer di kalangan anak muda. Bentuk perayaannya bermacam-macam, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan mengunjungi panti asuhan di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia. Pertokoan dan media (stasiun TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia juga marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan Valentine.

–Disadur dari berbagai sumber

[Pernah dimuat dalam Buletin Phos]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s