Saus Tomat Jim Wigon

Standard

Di bawah ini adalah sebuah kisah tentang seseorang yang berusaha “menantang” sebuah merek yang sebelumnya sudah memiliki nama dan kepopularitasan. Prinsip yang dia miliki sederhana, bagaimana dia berusaha untuk membuat suatu produk yang jauh lebih baik dari produk sebelumnya. Setiap anak Tuhan juga harus memiliki prinsip yang sama: menciptakan dunia ini menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya, dan kita dapat membawa terang dan memberikan teladan Kristus yang baik bagi lingkungan di sekitar kita..

Jim Wigon berasal dari Boston. Dia laki-laki bertubuh besar berumur lima puluhan, dengan jenggot hitam yang beruban. Dia menjalankan bisnis saus tomatnya–dengan merek World’s Best Ketchup–di tempat bisnis catering mitranya, Nick Schiarizzi, di Norwood, Massachusetts, tak jauh dari jalan raya Route I, dalam suatu bangunan rendah di balik toko penyewaan peralatan industri.

Wigon memulai dengan cabe merah, bawang bombay, bawang putih, dan pasta tomat berkualitas tinggi. Basil dicincang dengan tangan, karena mesin pecincang merusak daunnya. Dia menggunakan sirup mapel, bukan sirup jagung, sehingga kandungan gula dalam sausnya hanya seperempat dalam saus Heinz. Dia menuang sausnya ke dalam bejana kaca bening yang memuat sepuluh ons, dan menjualnya dengan harga tiga kali lipat harga Heinz, dan selama beberapa tahun belakangan telah berkeliling negeri, menjual World’s Best dengan enam rasa–biasa, manis, dill, bawang putih, bawang karamel, dan basil–ke toko bahan pangan khusus dan pasar swalayan.

Kalau berkunjung ke toko bahan pangan Zabar’s di Upper West Side Manhattan beberapa bulan lalu, Anda bakal melihat dia di depan toko, di antara rak sushi dan gefilte fish (baso ikan khas Yahudi) Wigon mengenakan topi baseball World’s Best, kemeja putih, dan celemek merah. Di depannya, di atas meja kecil, ada mangkuk merah berisi baso ayam dan sapi kecil, sekotak tusuk gigi, dan sejumlah saus World’s Best yang sudah dibuka. “Cobalah saus saya!” kata Wigon, berulangkali, ke setiap orang yang lewat. “Kalau tidak dicoba, Anda bakal terjebak makan saus Heinz seumur hidup.”

Di lorong Zabar’s yang sama pada hari itu dua demonstrasi lain sedang berlangsung, sehingga orang bisa mencicipi sosis ayam, kemudian prosciutto (ham Italia), lalu mampir sebentar ke stan World’s Best sebelum menuju kasir. Mereka bakal melihat kumpulan botol terbuka, dan Wigon bakal menusuk satu baso, mencelupkannya ke dalam salah satu botol saus, lalu memberinya kepada orang lewat. Nisbah padatan tomat terhadap cairan dalam saus World’s Best jauh lebih tinggi daripada Heinz, dan sirup mapel membuatnya punya rasa manis khas yang “nendang”.

Tanpa kecuali, orang yang mencoba bakal memejamkan mata, memandang sejenak, dan sedikit terkejut. Sebagian bakal tampak kebingungan dan lantas pergi, sementara yang lain mengangguk dan mengambil satu botol. “Tahu tidak kenapa Anda suka?” Wigon bakal berkata demikian, dengan logat Boston yang kental, kepada para pengunjung yang paling terkesan. “Karena Anda selama ini makan saus kurang enak!”

Jim Wigon punya visi sederhana: buat saus tomat yang lebih baik–seperti Grey Poupon membuat moster yang lebih baik–dan dunia akan datang menghampiri. Andai sesederhana itu.

–Disadur dari tulisan Malcolm Gladwell

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s