Kisah Cinta Sang Kakek

Standard

Pagi hari itu terlihat keadaan di klinik sangatlah sibuk. Sekitar jam 9:30 datang seorang kakek, yang telah memiliki janji sebelumnya, untuk membuka perban pada luka di ibu-jarinya. Saya yang bertugas pada saat itu bergegas untuk menyiapkan berkas yang diperlukan serta memintanya menunggu, sebab semua dokter yang bertugas sedang sibuk melayani pasien lainnya.

Sewaktu menunggu, kakek tersebut tampak gelisah. Sesekali ia melirik ke arah jam tangannya. Saya yang melihatnya merasa kasihan. Ketika memiliki waktu luang, saya menyempatkan diri untuk memeriksa lukanya, yang terlihat cukup baik dan kering, tinggal menggantinya dengan perban yang baru. Sebuah pekerjaan yang tidak terlalu sulit, demikian pikir saya. Atas persetujuan dokter, saya memutuskan untuk melakukannya sendiri.

Sambil mengganti perbannya, saya mencoba untuk mencairkan suasana yang ada sambil bertanya apakah dia mungkin memiliki janji lain sehingga tampak terburu-buru. Kakek tersebut menganggukkan kepala sambil menceritakan bahwa dia hendak pergi ke rumah jompo untuk makan siang bersama dengan istrinya. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu yang lalu karena mengidap penyakit Alzheimer.

Lalu saya pun kembali melanjutkan pertanyaan apakah istrinya akan marah bila dia datang agak terlambat. Kakek tersebut menjawab bahwa istrinya sudah 5 tahun terakhir ini tidak dapat lagi mengenalinya. Mendengar hal tersebut saya sangat terkejut dan berkata, “Kakek masih pergi ke sana setiap hari walau istri Kakek sudah tidak mengenal lagi?” Kakek hanya tersenyum dengan bijak sambil tangannya menepuk pundak seraya berkata, “Dia memang sudah tidak mengenal Kakek lagi, tetapi bukankah Kakek masih mengenal dia?”

Mendengar jawaban tersebut, saya berusaha untuk menahan jatuhnya airmata sampai kakek itu pergi. Saya merenungkan. Cinta kasih seperti itulah yang dibutuhkan dalam hidup ini. Cinta yang tidak selalu bergantung pada kondisi fisik atau romantisme. Cinta yang sejati adalah menerima dan menyayangi pasangan kita apa adanya. Ingatlah kembali akan janji pernikahan yang telah kita ucapkan. Ketika kita saling berjanji di hadapan Tuhan dan gereja-Nya, mengucapkan kepada pasangan kita, “Ya. Saya bersedia.” Bersedia untuk apa? Bersedia untuk saling menyayangi dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit, dan dalam keadaan kelimpahan maupun kekurangan.

[Pernah dimuat dalam Buletin Phos Februari 2012]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s