Kembangkan Manusia untuk Masa Ratusan Tahun

Standard

Ada sebuah pepatah Tiongkok Kuno, “shi nian shu mu, bai nian shu ren,” yang arti harfiahnya tumbuhkan pohon untuk kepentingan sepuluh tahun, kembangkan manusia untuk masa ratusan tahun. Dalam pengertiannya, peribahasa ini menunjukkan bahwa manusia punya potensi yang sangat luar biasa untuk berkembang sekaligus dikenang.

Jika pohon ditanam, berbunga, dan dipetik buahnya barangkali “hanya” memberi manfaat sepanjang buah bertumbuh saja. Namun manusia, jika ia mampu memiliki karakter kuat, sikap yang bijak, kekayaan mentalitas, maka bisa jadi karya-karyanya akan mampu melintasi batas-batas zaman. Ini sejalan juga dengan pepatah: harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.

Lantas, “nama” seperti apa yang akan kita tinggalkan kelak? Di sini, kita sendiri yang akan menentukan. Jika banyak perbuatan baik yang terus dilakukan, niscaya nama baik pun akan terukir dalam kehidupan. Bahkan, sekecil apa pun peran yang kita jalankan. Kisah kecil ini, barangkali bisa menjadi refleksi, ingin seperti apa kita dikenang..

Suatu kali, seorang anak menangis tersedu-sedu saat pulang dari sekolahnya. Melihat itu, dengan penuh kasih sayang, ibunya mendatangi si bocah. Saat ditanya apa yang terjadi, si bocah hanya diam saja, sembari tetap mengucurkan air mata. Ia kemudian hanya menyerahkan selembar surat yang menurut gurunya harus diberikan segera pada ibunya. Lalu si Ibu segera membuka surat itu, dan menjawab pertanyaannya. Konon, inilah isi surat itu:

“Karena anak Anda terlampau bodoh dan tak mampu memahami pelajaran serta menghambat kemajuan proses belajar mengajar di sekolah, demi rasa tanggung jawab kami kepada murid-murid lain, maka kami sangat mengharapkan agar anak Anda secara terhormat menarik diri sendiri dari sekolah.”

Rupanya, sebelum diberikan surat itu, si anak sudah diberi tahu oleh gurunya, agar esok hari tak perlu masuk sekolah lagi. Hal itulah yang membuatnya menangis. Mendapat kondisi itu, sang ibu tak tinggal diam. Ia berupaya agar si anak bisa sekolah lagi. Namun, karena tetap tak diterima oleh sekolah itu, sang ibu yang juga seorang guru kemudian bertekad, “Kalau sekolah tak mau menerimamu lagi, jangan khawatir, Nak. Ibumu pasti bisa menjadi guru yang baik untukmu.”

Sejak saat itu, si bocah diajari berbagai hal oleh ibunya. Hal itu membuat si bocah berkembang menjadi anak yang punya keingintahuan sangat besar. Ia di antaranya sering membedah hewan, bukan untuk menyiksa, tetapi untuk mengetahui apa yang ada di dalam tubuh binatang itu. Di lain waktu, ia juga sering mengadakan berbagai eksperimen hingga akhirnya orangtuanya pun membuatkan laboratorium kecil di rumahnya.

Tumbuh dengan kasih sayang dari orangtuanya, si bocah juga makin senang bereksperimen apa saja. Dan, karena orangtuanya tak punya cukup uang untuk membiayai kesenangan putranya, si bocah mencoba mandiri. Ia lantas berjualan koran dan permen untuk mencari uang tambahan guna membiayai penelitiannya. Si bocah kecil tumbuh jadi remaja yang sangat percaya diri. Meski berkali-kali gagal dalam eksperimennya, ia tetap terus mencoba dan mencoba lagi. Kasih sayang ibunya membuat ia menjadi anak yang punya prinsip dan tak takut gagal.

Orang lain yang sudah menyerah saat berkali-kali kurang sukses dengan yang dilakukan, ia terus maju. Dengan pembelajaran dan kasih sayang itulah, si bocah kini dikenal sebagai salah satu ilmuwan yang mampu mengubah dunia.. Dialah Thomas Alva Edison, penemu bola lampu.

Kisah nyata itu adalah gambaran bahwa sang ibu berhasil “menanam” benih manusia tangguh pada diri Edison. Dan terbukti, hasilnya membuahkan karya yang tak lekang oleh zaman. Inilah bukti bahwa pepatah “tumbuhkan pohon untuk kepentingan sepuluh tahun, kembangkan manusia untuk masa ratusan tahun” menjadi kiasan yang tepat untuk menggambarkan “kekuatan” manusia. Kini, semua tergantung pada kita sendiri, akan menjadi manusia seperti apa kita saat dikenang kelak.

Mari kita tanamkan benih-benih kebaikan. Landaskan pula semua tindakan dengan kekayaan mentalitas dan kekuatan keyakinan, maka peran apa pun yang kita jalani saat ini, akan bermakna bagi kehidupan. (Disadur dari majalah LuarBiasa)

[Pernah dimuat dalam Buletin Phos edisi Maret]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s