Sebuah Janji

Standard

Sebuah Janji
[The Vow: The Kim and Krickitt Carpenter Story]

Pak Carpenter, saya sangat menyesal. Kami sudah melakukan segala sesuatu yang dapat kami lakukan, tetapi kesehatannya belum membaik. Istri Anda tidak mungkin dapat ditolong dengan bantuan medis. Karenanya, ijinkanlah siapa saja boleh masuk untuk melihatnya. Ia tidak akan bertahan hidup melewati sore ini. “Kami mohon maaf sedalam-dalamnya,” kata dokter yang merawat istri saya. Kemudian dokter itu memberikan saya suatu amplop manila kecil, di dalamnya ada sebuah cincin kawin yang saya berikan kepada istri saya, dua bulan yang lalu.

Tanggal 24 November 1993 lalu, kami hidup sebagai pengantin baru. Pada waktu kami sedang mengadakan perjalanan dengan mobil dari Las Vegas ke Phoenix untuk mengunjungi ipar-ipar saya. Di tengah perjalanan kami mengalami kecelakaan lalu lintas. Ketika itu saya membanting stir untuk menghindari tabrakan dengan sebuah truk yang berjalan lambat. Tetapi kecelakaan tak terhindar, sebuah truk lainnya menabrak mobil kami dari belakang. Akibatnya, mobil terbalik beberapa kali sehingga tergelincir ke seberang jalan trotoar. Saya mengalami luka-luka parah yang mengakibatkan nyawa saya terancam. Dalam kesakitan saya memanggil istri saya, “Bagaimana keadaan Krickitt?”

Dibutuhkan waktu satu jam untuk mengeluarkan dia dari mobil, sebelum helikopter mengangkutnya ke Rumah Sakit. Peristiwa kecelakaan tersebut berlangsung di Interstate. Tiba di Rumah Sakit, “grafik jantungnya rata terus,” tetapi dia telah luput dari kematian, ia tidak mengetahui hal itu, karena ia dalam keadaan koma.

Bertentangan dengan perintah dokter, saya keluar sendiri dari Rumah Sakit. Dengan sikap pasrah terhadap penyakit yang menyebabkan seolah-olah hampir mati, saya berkata: “Jika istri saya akan mati, saya mau berada di sana.” Hati saya hancur luluh melihat dia dalam keadaan demikian. Saya membayangkan diri saya sambil bertanya dalam hati, “Apakah saya akan menjadi seorang duda?”

Kami berdua memerlukan suatu mujizat fisik seutuhnya. Tadinya kami memiliki semuanya dan berjalan dengan baik. Tetapi dalam sekejap, semuanya hilang. Meskipun demikian, kami masih mempunyai nafas dan keberanian dalam diri kami untuk bertahan hidup. Saya menjadi seorang Kristen sejak usia 14 tahun, tetapi saya masih mencari-cari sesuatu. Krickitt memiliki kerohanian yang mantap dalam pernikahan kami yang singkat. Tetapi tidak untuk waktu yang lama.

Kemudian, setelah dua minggu ia mengalami mujizat kesembuhan. Istri saya sadar dari komanya, ia dapat mengenal orangtuanya dan beberapa orang lainnya, kecuali saya! Krickitt benar-benar tidak tahu dan tidak mengenal siapa saya! Luka parah di bagian kepalanya menyebabkan dia kehilangan ingatan. Untuk bisa berjalan pun ia harus belajar kembali, bahkan ia harus memakai popok untuk beberapa waktu lamanya, serta Krickitt harus disuapin makanan. Uji pemeriksaan yang mengungkapkan bahwa ingatan jangka panjang masih utuh. Tetapi, dia tidak mempunyai ingatan tentang peristiwa yang terjadi 18 bulan yang lalu, termasuk masa perkenalan, berpacaran dan pernikahan pertama kami.

Sewaktu menjalani perawatan kesehatan, Krickitt ditanyakan tentang saya. Ia menjawab, “Saya belum menikah.” Hati saya hancur! Ia mulai menghina saya ketika saya mendesak sampai batas-batas maksimum dalam pengobatan mental fisiknya. Secara jujur saya tidak mengira bahwa pernikahan kami akan berakhir dengan istri membenci saya. Kerusakan syaraf membuat Krickitt melakukan hal-hal yang tidak masuk akan dan kadang-kadang tidak tepat. Ia akan tertawa, ketika ia seharusnya menangis. Ia harus tumbuh dewasa lagi. Kami harus membuat jadwal “waktu-waktu” yang teratur, sampai ia dapat mengenal saya, sebagai suaminya.

Kami hidup bersama, tetapi tidak selayaknya suami-istri. Saya harus mengakui bahwa Krickitt yang dulu sudah benar-benar pergi. Kadang-kadang saya mengalami ujian berat. Tapi kesabaran dan iman yang lemah terhadap Tuhan harus dilatih. Saya tahu bahwa sangat penting bagi saya untuk memberi teladan, karena ia harus belajar kembali tentang menjadi seorang Kristen. Saya sering membacakan Alkitab bagi dia, ketika ia masih koma. Saya memainkan musik rohani, ketika ia masih menjalani perawatan kesehatan. Hidup saya benar-benar diubah melalui peristiwa kecelakaan ini. Saya jauh lebih kuat dalam iman, daripada sebelumnya. Kini segala sesuatu yang saya lakukan, memimpin dengan memberi sebuah contoh!

Saya mengalami cacat fisik dan istri saya mengalami cacat mental. Dalam keputus-asaan dan penderitaan, saya bangkit setelah tiga bulan mengalami kecelakaan itu dan mengatakan kepada ayah mertua saya, “Hari ini adalah hari kematian saya.” Secara fisik saya tidak berdaya sama sekali. Tetapi peristiwa itu merupakan hari “di mana saya berubah 180 derajat” dalam pergumulan dan kepahitan saya. Saya menyerah total kepada Tuhan pada hari itu. Tuhanlah yang harus melakukannya! Dan Tuhan melakukannya!

Saya menyadari bahwa sudah waktunya saya mengenali Krickitt yang baru. Saat itu sudah waktunya saya berpacaran dengan Krickitt yang baru dan memperbaharui kenangan-kenangan manis dari hubungan kami, dengan kenangan-kenangan manis yang baru, yang selama ini hilang dalam kecelakaan itu. Sesuatu yang menutup pintu atas kepahitan saya adalah pernikahan kami yang kedua pada tahun 1996 dengan istri saya. Saya menarik cincin keluar dari jarinya, berlutut dengan satu kaki di hadapan pimpinannya di ruang pusat pelatihan olahraga dan bertanya kepadanya, “Maukah kamu menikah dengan saya?” Ia menjawab, “Baiklah.” Saya mengatakan kepadanya, “Ini cincinmu saya kembalikan!”

Cinta kami tumbuh menjadi lebih kuat. Pada hari pernikahan kedua kami, saya memandang dia dan berpikir pada diri saya sendiri, “Lihat bagaimana banyak hal telah berubah!” Hal itu membawa banyak penyelesaian dari beberapa situasi. Krickitt menjelaskan, “Tuhan adalah kekuatan kami. Kami mempunyai cinta yang dalam satu sama lain, yang mungkin tidak dialami oleh kebanyakan pasangan lain. Saya tidak mempunyai suatu kenangan tentang “saat-saat indah” jatuh cinta dengan suami saya, yang surat kabar sangat menyukainya untuk menyoroti sebanyak mungkin dengan mengatakan, “Oh, mereka jatuh cinta lagi.” Walaupun peristiwa itu tidak terjadi begitu saja, namun saya ingin katakan bahwa hal itu terjadi demikian. Saya memilih untuk mencintai seorang pria yang saya nikahi.”

Dengan cepat surat kabar mengangkat “Kisah cinta yang ajaib” kami. Kisah kami yang diketahui secara internasional telah membuka banyak kesempatan, tidak saja untuk menyaksikan apa yang Kristus dapat lakukan, tetapi kami menjadi “pimpinan dari para pembimbing bagi orang-orang terluka,” dalam keadaan serupa. Saya bukan seorang pahlawan. Saya James, kini tinggal di Farmington, New Mexico, harus jatuh cinta pada istri saya dua kali, yang seharusnya cukup sekali saja. Saya masih belajar bersabar dengan seorang istri yang merupakan seorang yang berbeda dengan orang yang saya nikahi pada tahun 1993. Tetapi hal itu tidak jadi masalah. Ia tetap istri saya dan ingin selalu berada di sampingnya selama-lamanya.

Naskah “Sebuah Janji” yang pernah ditayangkan di berbagai program TV Amerika Serikat dan yang berjudul asli “The Vow” ini, disadur dari Full Gospel Business Men’s Voice vol 49/No.6 June 01 dan diterjemahkan oleh Manimbul Luhut S. dari LOMS, Jakarta. Kim dan Krickitt Carpenter serta putranya Danny tinggal di Farmington, New Mexico.

–Disadur dari Buletin SUARA
Full Gospel Business Men’s Voice Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s